EPISODE 24

2063 Words
“Tam! Lo itu mimpi… lo sekarang ada di uks. Kak bagas ada di rumah sakit.” Seru hana, ia mengoyak kedua bahuku dengan tangannya. Satu tangannya terasa dingin, menempel di bahuku. Rupanya dia sedang memegang plastic es jeruk.               “gue.. gue mau cari kak bagas,” ucapku. Namun, ketika hendak berjalan, aku malah hamper merosot. Beruntung hana segera menangkapku. Juga mbak penjaga uks tadi yang kini mendekat ke arahku, setelah dia selesai dari bilik sebelah, yang dibatasi tirai tipis. Rupanya ada anak lagi yang dirawat di sini.               Aku menelan ludah kasar. Peluh rupanya sudah bercucuran di pelipisku. Aku menoleh kea rah gallon yang terletak di sudut ruangan, dekat pintu, di samping tempat aku duduk. “boleh tolong ambilin air? Gue haus banget,” aku berkata pada Hana yang masih mengusap lengan dan bahuku dengan raut khawatirnya.               Padahal, bukan aku yang seharusnya dikhawatirkan. Melainkan kak bagas yang sedang dalam kondisi kritis. Apa lagi setelah mimpi tadi, rasanya aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Ingin sekali aku kabur dari sekolah lalu menghampirinya di rumah sakit. Bagaimana ini? Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih, apa lagi memperhatikan pelajaran?               Masih sibuk berpikir dengan pikiran pikiran yang ada di dalam kepalaku, aku mendapati tangan hana tersodor padaku dengan segelas air yang baru saja ia ambil dari dispenser. Aku mengambil air tersebut, kemudian meneguknya dalam satu kali napas. Aku benar benar kehausan. Mimpi di padang pasir tadi terasa begitu nyata.               Hana, yang melihatku seperti orang dehidrasi, atau mungkin benar dehidrasi, berinisiatif untuk mengambilkan air minum lagi. “mau lagi?” tanyanya.               Aku mempertimbangkan sejenak, kemudian mengangguk. “segelas lagi, makasih han.” Ucapku. Mataku mengekornya yang tengah mengambil air dari dispenser. Ia sudah berganti baju seragam biasa. Dengan kata lain, pelajaran olahraga sudah usai. Dan sekarang sedang jam istirahat. Aku berterima kasih memiliki sahabat seperti hana, yang ketika aku berada di uks, dia tidak melupakanku dengan tinggal di kantin dalam waktu lama. Setelah gelas yang dibawanya hamper penuh, ia pun menarik gelas dari kran dispenser sehingga aliran air dari dispenser itu berhenti dan akhirnya gelas yang sudah berisi air itu ia bawa kepadaku.               “Ini, gue beliin roti di kantin tadi. Supaya lo nggak kelaperan. Gue tahu lo nggak ada temen lagi yang peduli dan baik kayak gue. Jadi gue beliin deh,” katanya dengan nada mengejek, yang sama sekali tidak mengurangi nilai kebaikan dan kepeduliannya.               Aku tersenyum mendengar perkataanya. Mengingat sebenarnya selain dia, aku juga punya teman lain, yaitu devan. Aku tahu, jika aku tidak sedang berkonflik dengannya, juga dengan kakaknya, dia pasti juga sudah ada di sini. Menjengukku bersama hana. Dan mungkin, karena ia Bengal, ia justru membelikanku cilok pedas atau nasi jingo di kantin alih alih roti unyu seperti yang hana belikan padaku.               Aku pun menyambut roti pemberian hana yang setelah kubuka ternyata rasa cokelat stroberi. Salah satu rasa favoritku. Hana benar benar tahu yang kusukai. Aku melahap roti itu dengan tempo agak cepat karena selain aku menyukainya, aku juga sangat lapar.               “habis ini pelajaran apa ya?” tanyaku sambil mengunyah roti, kepada hana yang kini ikut duduk di tempat tidur uks, tepat di sampingku.               “pkn,” jawabnya, sambil menyedote es jeruknya.               Aku menghela napas lega. “syukur deh, tito kan biasanya suka cerita cerita doang kalo ngajar. Jadi nggak kepikiran gue kalo nggak bisa mikir. Lagi nggak mood banget ngerjain apa apa.” Jelasku, mencerocos panjang lebar.               Di mejanya, mbak penjaga uks juga sedang memakan bekal yang ia bawa dari rumah. Bekal dari kotak makan warna pink yang cukup imut.               “Masih kepikiran kak bagas ya?” tanya hana dengan nada yang mencoba simpati dan pengertian.               Aku mengangguk. Kemudian dengan melorotkan bahu lagi tidak tahu harus berbuat apa demi mengusir rasa cemas ini. Diam diam aku terpikir, apakah devan juga merasakan hal seperti ini ya? Nggak bisa mikir dan cemas sampai tidak bisa melakukan apa apa? Dia kan adiknya.               Aku berinisiatif untuk meraih ponselku yang ada di saku. Namun sialnya, aku meninggalkan ponselku di dalam tas tadi. Aku pun menyenggol hana, bertepatan dengan menelan sisa roti terakhir dalam mulutku.               “balik ke kelas yuk?” ajakku. “hape gue ketinggalan di sana.” Lanjutku, yang selanjutnya lompat menuruni tempat tidur yang cukup tinggi itu.               Hana menyedot es jeruknya sampai habis, lalu ikut turun. “iya nih, lima menit lagi masuk. Ayo deh, padahal gue gara gara lihat lo tidur tadi jadi kepikiran buat tidur, gentian sama lo.” Katanya.               “ya udah izin aja,” aku berbisik, menyarankannya agar meniruku. Toh sekali kali. Meski aneh juga sih kalau dilihat. Apa lagi setelah aku, tiba tiba temanku yang tadinya sehat sampai sampai menjenguk dan membawakan makanan kepadaku saat aku di uks, malah ikut ikutan sakit juga.               Namun, hana menggeleng. “nggak ah, nggak urgent. Lain kali aja, gue bikin jatah ke uks satu bulan sekali.” Katanya sambil terkekeh tanpa dosa.               Aku mau tidak mau tertawa. Yang benar saja, sebulan sekali? Oke juga sih. Meski sbenarnya kalau satu minggu sekali lebih asyik kayaknya. Langganannya makin mantap.               “mbak, pamit dulu ya. Makasih mbak,” kataku dan hana kepada mbak penjaga uks.               Saat kami hendak keluar ruangan, tiba tiba mbak mbak uks itu memanggil “Oh, sebentar! Kamu belum isi buku ya. Tadi pas kamu tidur nggak kelihatan bedge kelasnya di seragam. Jadi sekalian aja kamu yang isi ya.”’ Kata mbak penjaga uks, sambil menyodorkan buku pengunjung uks ke hadapanku. “diisi nama lengkap, kelas, sama keluhan ya.” Jelasnya, kemudian lanjut menyendok dan menyuap makanannya. Rupanya dia membawa bekal nasi, tumis baby corn, sosis, dan perkedel.               Membuatku jadi menelan ludah. Aku mendadak kepingin nasi campur. Kemudian, aku mengalihkan pandanganku darinya. Kemudian mengambil pena dan mulai mengisi daftar pengunjung yang ia sodorkan tadi. Sesuai dengan instruksi yang diberikan mbak penjaga tadi, aku mengisi namaku, lalu kelas, dan keluhan. Ehmmm… keluhan apay a aku tadi? Kalian ingat? Alasanku ke sini kan gara gara nggak bawa baju olahraga, kemudian pikiranku jadi runyam karena ulah devan s****n tadi.               Mendapati ku tampak berpikir dan tidak kunyung menuliskan di kolom keluhan, hana menyenggol lenganku, hingga akhirnya aku teringat. Oh iya, pms. Tadi devan bilang aku mens. Huhh.. bisa bisanya tuh cowok. Ya, tapi itu memang yang paling umum dan paling gampang sih. Otak dia dari dulu memang encer. Sayangnya kelakuannya lumayan menyebalkan.               Aku pun menuliskan keluhan seperti yang sudah disampaikan devan ke mbak penjaga tadi, sehingga data sama dan sinkron. Setelah itu, aku menutupnya dan mengembalikan bolpoin ke tempatnya, lalu benar benar beranjak rari ruangan bernuansa putih dan berbau obat itu. Oh iya, obat yang belum sempat kuminum tadi, akhirnya kukantongi. Lumayan buat jaga jaga kalo beneran nyeri menstruasi atau sakit kepala.               Bersamaan dengan bel masuk yang berbunyi dengan nyaringnya, aku dan hana sampai di kelas. Di sana, anehnya pandanganku langsung tertuju pada devan yang tengah berada di bangkunya, sedang tertawa ringan menanggapi candaan teman temannya. Di jam jam seperti ini, memang anak anak laki laki terbiasa nongkrong dan berkerumun di pinggir kelas atau bangku salah satu anak. Ada yang duduk di kursinya, ada yang bersandar di meja, ada juga yang duduk di atas meja sambil berhaha hihi entah membicarakan apa. Aku sempat mendengar mereka bergosip, ngomongin bola, atau sering kali aku mendengar mereka sharing soal hal hal yang terkesan jorok atau m***m.               Entah kenapa, aku menemukan ada sesuatu yang berbeda dari tawa devan. Aku melihatnya seperti hanya mencoba mengalihkan sesuatu yang benar benar dia rasakan. Karena aku menemukan tawanya tidak sampai ke matanya, melainkan senyum hambar untuk menghargai candaan teman temannya dan agar bisa tetap bercengkrama mengikuti suasana yang sudah terbangun.               Aku melanjutkan Langkah ke mejaku sendiri, bersama hana. Seperti yang sudah kukatakan tadi, begitu melihat devan, tiba tiba dadaku mencelus dan pikiran yang mengganggu sejak tadi pun kembali bersarang di kepala.               “Gue mau ngechat ortunya kak bagas deh. Siapa tau ada kabar,” aku mengutarakan isi pikiranku pada hana, saat kami sudah sampai di tempat duduk.               Hana mengerutkan keningnya. “loh, kenapa nggak tanya devan aja?” tanya hana. Oh iya, jadi selama ini hana juga sama seperti ku. Kami sama sama tidak tahu kalau devan dan kak bagas adalah saudara kandung. Namun, berkat kejadian kemarin, aku dan hana sama sama tau bahwa mereka adalah kak beradik. Jadi, dia sama terkejutnya denganku. Namun berbeda dengan aku, Hana tidak marah atau pun kecewa berlebihan kepada devan.               Well, kami memang merasa dibohongi, namun sepertinya yang dirasakan hana tidak separah aku, yang notabene adalah tetangga devan dan pacar kak bagas. s****n! Aku benar benar merasa bodoh dan dibodohi. Bisa bisanya aku tidak tau kalau kak bagas juga tinggal di rumah yang nyata nyata ada di depanku. Meski alasannya karena kak bagas jarang sekali pulang karena tidak akur dengan adiknya dan lebih memilih untuk menginap di rumah kakek dan neneknya. s**l s**l s**l! Kenapa aku bisa tidak tau. Mama juga, bahkan aku tidak tau kalau devan punya kakak.               Aku menghela napas ketika akan menjawab pertanyaan hana. Memangnya, aku musti bertanya pada devan ya? Aku enggan bertegur sapa dengan dia setelah kejadian tadi. Aku tidak mau mengingat bagaimana sakit, kecewa dan malunya aku. Bukan pada devan. Aku benci pada diriku sendiri terpancing dan tidak bisa mengendalikan perasan. Perasaan yang tidak seharusnya ada. Aku meremat ponselku, kemudian menggeleng.               “langsung aja nanya ke mamanya kak bagas. Kali aja ada kabar yang terbaru banget jadi beliau belum sempat ngabarin devan atau yang lain. Jadi kalau gue lebih dulu nanya, kali aja gue bisa tau lebih cepat,” jelasku, mencoba terdengar logis karena aku tidak mau membahas pertengkaran ku, atau kerenggangan yang kualami dengan devan. Benar benar seperti perang dingin, karena kami sama sama tidak beradu mulut atau saling menarik urat, namun kami sama sama tahu bahwa semuanya tidak sama lagi seperti sedia kala. Kini sudah berbeda.               Hana, yang tidak bertanya lebih lanjut, akhirnya hanya diam lalu mengecek ponselnya sendiri yang tadi ia letakkan di saku roknya. Kemudian hanyut dalam dunianya sendiri, sebelum guru ppkn kami benar benar datang dan kami tidak bisa bermain hp lagi karena sibuk berkonsentrasi dengan pelajaran.               Aku menghela napas, kemudian mulai mengetikkan pesan. Hmm, aku berpikir dan berpikir lagi, kira kira kalimat apa yang pantas untuk ku sampaikan? Pertanyaan seperti apa yang kira kira nyaman didengar dan tidak memberikan efek buruk pada mama kak bagas yang jelas lebih khawatir dari pada aku, yang notabenenya hanya pacar dari anaknya? Pesan apa yang sebaiknya kuutarakan tanpa menambah resah, sedih, atau beban pikirannya?               Aku menelan ludah. Baru mengetik satu kata saja, aku kembali menghapusnya. Satu kata lagi, dan aku lagi lagi menghapusnya. “duh, gimana ya nanyanya?” akhirnya aku putus asa dan memilih bertanya pada hana dengan harapan mendapat solusi atas kegundahan yang ku alami.               Hana, yang tengah sibuk mengeluarkan buku dan alat tulisnya, hanya berdehem. Sepertinya ia tidak terlalu menangkap apa yang kutanyakan barusan.               “nanya ke nyokapnya kak bagas gimana? Enaknya kalimatnya gimana? Gue kan tadi udah bilang nggak bisa mikir, nah sampe hal kayak gini pun, gue juga nggak bisa mikir juga ternyata. Tolongin…” ucapku, yang mungkin terdengar seperti orang merengek. Entah bagaimana hana mendefinisikannya, namun akhirnya aku berhasil membuatnya menoleh ke arahku.               Wajah hana terlihat berpikir, aku berharap bisa benar benar mendapatkan solusi darinya. Bukan ide konyol nan absurd yang sering kali ia utarakan selama ini. Namun dengan b**o nya, aku juga tetap bertanya dan mencari solusi pada anak satu ini. Benar katanya waktu di uks tadi. Kayaknya aku memang tidak punya teman selain dia. Buktinya, sejak dulu, meski kelakuan hana kadang out of the box dan agak keki, aku tetap menjadikannya teman terdekat dan satu satunya orang yang kubiarkan terlibat dalam masalahku yang cukup runyam untuk sekedar urusan percintaan atau masalah hidup anak SMA ini.               “Gini aja.. ehmmm, siang tante… tante gimana kabarnya? Kira kira ada perkembangan apa terkait kak bagas?” hana menuntunku kalimat untuk bertanya secara sopan ke nyokap kak bagas.               Aku berpikir sejenak, namun karena karena tidak punya pilihan lain disebabkan aku malas dan memang tidak bisa berpikir jernih, maka aku pun tidak mau ambil pusing untuk merangkai rangkai kalimat lagi atau mengoreksi mau pun merevisi kata katanya dengan kata yang lebih oke. Maka, aku pun mengikuti saran telah diberikan hana kepadaku tanpa banyak banyak bicara lagi.               “Hmm, oke deh. Gue ketik kayak gitu ya?” aku memastikan lagi. Di hadapanku, hana mengangguk. Kemudian sambil mengetikkan pesan, tidak lupa aku berterima kasih kepada hana karena telah membantuku. “makasih ya han…”               “sama sama…” ucapnya dengan nada sedikit diseret seret manjah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD