EPISODE 22

1139 Words
“Terus… lo lo mau apa?” tanyaku.               Dia hanya terkekeh, kemudian semakin mendekat. Aku, meski sudah menempel ke dinding, masih berusaha menghindarinya kepalanya yang makin dekat dengan wajahku. Karena tidak bisa mundur, maka aku pun bersusah payah menggeser kepalaku ke kiri agar terhindar dari wajahnya yang mendekat.               Namun sialnya, aku mengambil arah yang salah. Ternyata, aku lupa bahwa di sampingku ada sebuah lemari besar berisi piala piala dan penghargaan siswa siswi sekolah. aku benar benar sudah mentok. Aku kehilangan celah untuk bisa menghindar. Karena akhirnya tidak menemukan cara apa pun untuk mengindar, maka aku pun memejamkan mata begitu erat. Saat jantungku sudah bertalu talu bersiap untuk menghadapi aksi nyeleneh bin nekat devan selanjutnya, namun satu detik, dua detik, tidak terjadi apa apa. Setelah beberapa detik berlalu, maka aku pun memberanikan diri membuka mata.               Dan saat aku membuka mata, devan masih berada di hadapanku, namun sudah jarak yang memisahkan kami. Ia pun sudah tidak tersenyum lagi. Rautnya seperti berubah seratus delapan puluh derajat seperti orang kesurupan. Hawa dingin mendadak menjalar ke kulit juga relungku. Tanpa sadar, aku menelan ludah. Kenapa jadi takut begini ya bawaannya? Aku berusaha menormalkan diri dengan mengerjapkan mata, juga mencoba mengatur napas agar se cara tidak langsung menormalkan organ organ ku yang lain. Setelahnya, aku mencoba untuk bertemu pandang dengan devan lagi. Sosok yang sekarang entah kenapa terlihat seperti orang lain.               “Gue nggak mungkin ngapa ngapain lo, Tam.” Katanya, dengan suara agak pelan. Namun terdengar begitu dingin, seperti wajahnya yang juga terlihat kaku. Kemudian, satu sudut bibirnya seperti membentuk seringaian. “gue nggak bakal macem macem sama lo.. karena lo adalah cewek kakak gue. Cewek yang kak bagas sayang banget sampe rela naruhin nyawanya demi nyelamatin lo.”               Kalimatnya seketika seperti menghujam jantungku. Kalau tadi jantungku terasa berdetak sangat cepat sampai sampai aku khawatir bakal loncat keluar, kini aku justru jantungku berhenti dan tidak berdetak lagi gara gara perkataan yang meluncur tiba tiba dari mulut devan barusan. Kata kata yang tidak hanya membuat dadaku nyeri bukan kepalang, tapi juga membuat perutku terasa bergejolak dan membuat tenggorokanku terasa tertohok habis habisan. Mirip seperti tersedak saat makan, tersedak yang sampai membuatmu tidak bisa berkata apa apa sampai sampai yang hanya bisa kau lakukan adalah mengeluarkan air mata.               Aku terdiam. Begitu juga devan yang masih berdiri di hadapanku dengan wajahnya yang tidak berubah, masih begitu datar dan menatap entah ke mana. Tatapannya seperti kosong dan seperti memikirkan hal lain.               Mungkinkah yang dipikirkannya sekarang sama seperti apa yang aku pikirkan? Bahwa kami sama sama memikirkan kondisi kak bagas yang sedang terbaring lemah di rumah sakit? Tiba tiba mataku memanas, dan karena aku merasa sesak tanpa bisa bicara apa apa lagi, aku hanya bisa meneteskan air mata.               Sontak ada rada bersalah yang teramat besar melanda d**a juga kepalaku. Benar benar memukulku telak. Apalagi mengingat beberapa saat lalu aku malah membayangkan yang tidak tidak dengan devan. Devan yang membuat darahku sempat berdesir. Bahkan, sampai sekarang aku masih bisa merasakan efek dari tindakannya kepadaku. Yang membuatku sempat dilanda perasaan perasaan aneh yang tidak sepantasnya dan tidak seharusnya.               Devan adalah adik kak bagas! Apa yang kupikirkan? Dan sampai sekarang aku bahkan masih berstatus sebagai pacar kak bagas. Kami belum resmi berpisah. Dan yang paling teramat penting, kak bagas adalah sosok yang sudah rela mempertaruhkan nyawanya demi cewek seperti ku. Cewek yang sudah memarahinya, memakinya, bahkan sempat memiliki perasaan lebih pada adiknya.               Aku menunduk, menangis. Sementara devan hanya terdiam. Aku tidak berhenti dengan hanya meneteskan air mata. Melainkan semakin lama aku semakin sesenggukan karena dadaku terasa begitu sakit.               Belum selesai tangisku, di tengah tengah isakanku, tiba tiba devan bersuara “gue harap lo juga nggak berharap apa pun tam. Lo nggak berharap gue bakal ngelakuin sesuatu ke elo. Enggak kan tam?” Pertanyaan devan membuatku menelan ludah yang terasa pahit dan serak. Apakah aku mengharapkan devan melakukan sesuatu padaku? Apakah aku mengharapkan dia berbuat sesuatu padaku? Dalam kadar romantis? Memikirkannya entah kenapa membuat mataku semakin basah. Aku tidak sanggup. Aku tidak mau mengakui bahwa dalam lubuk hati terdalam, aku berharap dia melakukan sesuatu demi memangkas jarak kami tadi. Namun, b******k sekali aku? Pacarku sedang terbaring di rumah sakit karena menyelamatkan hidupku. Tapi aku malah memikirkan untuk menerima perlakuan menyenangkan atau manis dari laki laki lain?               Aku menangis karena tahu bahwa aku tidak bisa menyangkal hal tersebut. Semua benar adanya. Aku meremat tanganku, kemudian mengusap air mata yang membasahi kedua pipi ku. Kemudian menarik napas berusaha tampak tegar, selanjutnya aku menelan ludah kasar sebelum akhirnya mampu bersuara membalas pertanyaan devan.               “Nggak. Tentu aja enggak. Dan bener. Gue cewek kakak lo. Nggak sepantasnya lo berbuat kayak tadi.” Aku mencoba menyuarakan suaraku dengan lantang, meski di dalamnya masih terdapat gentar dan gemetar ketakutan karena tidak sepenuhnya percaya dengan kalimat yang kukeluarkan sendiri.               Devan terdiam sejenak. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat urat urat di wajahnya timbul. Entah apa yang dipikirkannya, aku tidak tahu. Sampai akhirnya ia kembali mengarahkan pandangannya untuk menatapku. Pandangan kami bertumbukan. Lalu aku melihat ada gerakan seperti menelan dari lehernya yang memilliki tonjolan jakun. Seolah menelan ludah, sebelum akhirnya aku kembali mendengar dingin suaranya. “gue anter lo ke uks. Nggak pake digandeng gandeng. Karena lo sebenernya baik baik aja kan? Gue anter supaya orang lain nggak curiga.”               Aku pun mengangguk. Kami sama sama menghela napas sebelum akhirnya beranjak dari tempat itu. Aku berjalan lebih dulu sebagai tanda bahwa aku sepakat. Kami menyusuri koridor yang steril dari anak anak maupun guru, dalam diam.               Hanya ada anak kucing berjalan di dekat kami. Entah sedang mencari makan, teman, atau ibunya. Atau bahkan sedang cari pacar?               Aku hanya menatap lurus ke depan. Tanpa menoleh ke kanan, di mana ada devan berjalan mendampingiku. Tak ada suara, dan mungkin sama sepertiku, devan juga diam membisu. Tidak ada sepatah kata pun terdengar hingga akhirnya sedikit lagi kami sampai di uks.               Dan sebelum itu, aku menyempatkan untuk menoleh ke lapangan. Mendapati ada beberapa anak menatapku, aku kembali mengingatkan diriku untuk memulai aksi aktingku yang luar biasa dengan pura pura memegangi kepala, berlagak pusing, juga memegangi pinggang ku. Kalian tahu sindrom pra menstruasi kan? Anggap saja aku sedang berakting untuk mengalami sindrom itu. Lagi pula, gejala itu juga bukan hal baru buatku.  Setiap bulan, aku memang mengalami sakit di area perut, d**a, juga pinggang. Aku pun menerapkannya sekarang. Inilah keistimewaan menjadi wanita. Kalian bisa memakai hal hal seperti ini untuk alasan. Dan kaum kami seperti memiliki kode etik untuk sama sama memaklumi dan tidak membocorkan kalau kadang sakitnya tidak terlalu parah dan kami hanya agak berlebihan.               Aku bahkan pernah tau mama cuti sehari waktu masih kerja saat aku masih SD dulu, dia cuti karena kak rere ulang tahun. Namun izin ke kantor dengan alasan sedang hari pertama menstruasi, sehingga bisa diberi toleransi untuk tidak masuk kantor.               Maka dari situ., aku pun belajar untuk aku terapkan di dalam kehidupanku yang tidak kalah random dan penuh tantangan ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD