Semua Telah Terjadi

1607 Words
Meisya menatap nanar sprei putih hotel yang terdapat bercak merah. Terlihat bekas darahnya yang sudah mengering. Tidak ada yang perlu disesali, menangis pun tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi. Sesuatu yang telah hilang padanya tidak akan kembali lagi walau dia menangis. Pandangan Meisya beralih pada seseorang yang dari tadi hingga beberapa saat yang lalu, bergumul dengannya di atas kasur yang sedang ditempatinya saat ini. Wajah Meisya memanas—mengingat Mario yang memperlakukannya dengan lembut hingga mereka berdua menyatu. Untuk pertama kalinya Meisya melihat seorang lelaki dewasa dengan tubuh polos, dan itu adalah pacar dari sahabatnya sendiri. Badan Mario itu bagus, kotak-kotak—seperti aktor luar negri yang Meisya tonton ketika bersama Pelangi di laptop. Meisya menggelengkan kepala, kenapa dia jadi terbayang bentuk tubuh lelaki yang sudah mengambil keperawanannya? Mario sedang berada di teras kamar menghisap sebatang rokok dengan ponsel yang menempel di telinganya. Tentu saja dia sedang menelepon pacarnya, yang tak lain adalah sahabat dari Meisya sendiri. Dari jauh, Meisya bisa melihat raut wajah senang pada lelaki itu. Seperti tidak ada beban sama sekali, berbeda dengan Meisya yang merasa bersalah karena bermain dengan kekasih dari sahabatnya itu. Dan juga, rasa kehilangan hal berharga dalam hidupnya. Tak lama, lelaki itu masuk kembali ke dalam kamar dan duduk di pinggir ranjang dekat Meisya tidur. "Masih sakit?" tanyanya khawatir. Dia paham betul jika perempuan akan merasa kesakitan ketika pertama kali melepas keperawanan. Tadi, dia melakukannya selembut mungkin, tapi tetap saja perempuan yang dimasukinya meringis seperti menahan tangis ketika dia berhasil menerobos selaput darah perempuan itu. "Iya, tapi nggak apa-apa. Entar juga hilang sendiri sakitnya." Meisya memaksakan senyumnya. "Barusan habis telponan sama Pelangi?" "Iya." Meisya manggut-manggut. "Gue ngerasa bersalah banget sama Pelangi, Kak." Meisya menundukkan kepalanya. "Nggak usah ngerasa bersalah gitu." Mario meraih tangan Meisya dan menatap perempuan itu penuh arti. "Gue enggak pernah dapet kepuasan dari dia. Jadi wajar kalau gue nyari yang lain." Meisya mendongak mendengar ucapan Mario. Mario melanjutkan kembali ucapannya. "Ciuman bibir aja gue nggak pernah sama dia. Padahal gue pengen banget, Sya! Jujur aja, bisa dibilang hasrat seksual gue tinggi. Tapi, gue selama ini bisa nahan ketika bersama Pelangi." Mario menyentuh bahu Meisya pelan. "Maaf untuk yang baru aja gue lakuin. Dan terima kasih udah jadiin gue yang pertama buat lo." Tapi, lo bukan yang pertama buat gue. Ini adalah pertama kalinya Mario bercinta dengan seorang perawan. Sejak tingkat 2 di SMA, Mario sudah mengenal yang namanya seks. Dia pertama kali melepas keperjakaannya ketika masih berumur 17 tahun, sebelum mengenal Pelangi. Dia baru berpacaran dengan Pelangi, ketika kelas 3. Namun, dia tidak pernah melampiaskan hasratnya pada perempuan itu. Dia punya perempuan lain, yaitu perempuan yang bisa dia tiduri kapan pun dia mau. *** Mario mengantarkan Meisya ke rumah sakit setelah dari hotel. Meisya ingin langsung membayar administrasi agar ayahnya bisa langsung dioperasi. "Terima kasih buat hari ini, Kak. Do'ain semoga ayah gue cepet sembuh," tutur Meisya sebelum turun dari mobil Mario di lobi rumah sakit. Mario berdehem. Seharusnya dia juga berterima kasih pada Meisya karena perempuan itu sudah memberikan kepuasan padanya. Dia sengaja memberikam transferan uang lebih pada Meisya. Itu terbilang cukup sedikit untuk ukuran membayar perempuan yang masih perawan. Mario mendesah. Dilihatnya langkah Meisya yang perlahan menghilang masuk ke dalam rumah sakit. Apa dia terlalu kejam pada perempuan miskin yang merupakan sahabat Pelangi itu? Dia telah mengambil sesuatu yang berharga bagi perempuan itu, tanpa berpikir panjang. Ngapain juga gue pikirin? Toh dia belum tentu bisa mendapatkan uang segitu dalam waktu dekat, walau dia masih virgin. Sebenarnya nominal uang segitu tidak masalah bagi Mario. Namun, dia juga heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia sama sekali tidak memiliki hati nurani hari ini? Hanya karena selama 2 bulan ini hasratnya tak tersalurkan, dia menerima penawaran Meisya—padahal dia tahu perempuan itu tampak ragu awalnya. Perempuan yang biasa ditiduri Mario berada di Jakarta, bukan di Bandung. Di Kota Kembang tempat dia mengenyam kuliah ini, namanya bersih. Dia tidak ingin orang-orang mengetahui aslinya dia seperti apa. Dan sekarang, yang telah dilakukannya dengan Meisya, pasti akan ditutupnya rapat-rapat. Makanya, dia hari ini sampai check in di sebuah hotel yang cukup jauh dari keramaian, namun bukan hotel yang murah. Setelah hari ini, Mario malah kepikiran untuk menjadikan Meisya tempat penyaluran hasrat seksualnya. Meisya berbeda dari Sonya—perempuan yang pernah Mario sentuh. Entah kenapa, Mario ingin merasakan perempuan itu lagi dan lagi. Dia akan mencari cara agar keinginannya bisa terwujud. Mario memang senang bermain perempuan, namun yang berhubungan intim dengannya hanya Sonya seorang. Mario juga selalu memakai pengaman ketika bermain dengan perempuan itu. Dia tidak mau sampai terkena penyakit kelamin. Walau dia tahu, Sonya tidak perawan lagi ketika pertama kali memasukinya. Perempuan itu sudah berjanji hanya akan tidur dengannya saja. Dengan Meisya tadi, dia sama sekali tidak ingin kepikiran untuk memakai pengaman, malah dia juga mengeluarkan di dalam. Makanya, sebelum mengantarkan Meisya ke rumah sakit, dia membeli pil kontrasepsi di sebuah apotik agar Meisya langsung meminumnya. Mario tidak mau mengambil resiko. Tiba-tiba, Mario jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Meisya. Perempuan lugu yang mengingatkannya dengan seseorang yang disukainya pada masa lalu. Seseorang yang pergi meninggalkannya dan tidak akan pernah kembali lagi. Perempuan yang dicintainya, sebelum kenal dengan Pelangi. Mario pernah mencintai seseorang begitu dalam dan berakhir terpuruk ketika perempuan yang dicintainya pergi meninggalkannya begitu saja. Tak lama, dia mendengar kabar jika perempuan itu meninggal dalam kecelakaan pesawat. Mario baru bisa bangkit dari keterpurukannya sejak kehadiran Pelangi di sekolahnya. Pelangi yang notabene-nya sebagai adik kelas—mampu membuat hari-hari Mario yang suram, kembali berwarna. Sayangnya, Mario memang melupakan segala kesedihannya. Namun, tidak dengan seks yang telah dikenalnya dari Sonya. “Lo telat? Ya udah buruan gabung ke barisan di sana, sebelum panitia yang lain ngeliat lo. Bisa kena hukum nanti.” “Terima kasih, Kak.” Mario berdehem. Dia menatap punggung perempuan yang sudah mulai menjauh itu. Sejak kemarin, perhatiannya teralih kepada perempuan itu. Menurut pengamatannya, perempuan itu selalu sendiri. Ketika Mario ingin menghampiri kemarin, Pelangi lebih dulu duduk di sebelah perempuan itu. Mario ingat, dia punya kekasih. Mungkin, dia hanya penasaran dengan perempuan itu, tidak ada maksud untuk mendekati atau mengenalnya lebih dekat. Usai ospek, ketika sudah memasuki perkuliahan, Pelangi mengenalkannya kepada perempuan yang dibantunya ketika hari kedua ospek. Bukan tanpa sebab Mario membantunya waktu itu. Dia teringat seseorang di masa lalunya. Wajah polosnya dan juga sikapnya yang cenderung pendiam. “Meisya bukan dia,” gumam Mario. Mario masih tidak menyangka bahwa dia akhirnya meniduri perempuan lugu yang selama ini hanya dia amati dalam diam. Mario sadar jika Meisya hanya sekedar mirip sifatnya dengan seseorang di masa lalunya. Mario hanya menyukai sifatnya saja, tidak lebih. Mereka selama ini sering makan bersama, tentunya dengan Pelangi yang mengajak perempuan itu. Namun, perempuan itu lebih banyak diam. Tidak ceria seperti Pelangi. Mario tersenyum miring. Perempuan bernama Meisya itu akan dibuatnya agar terus berada di sisinya. *** Meisya menemui ibunya yang sedang duduk di depan pintu ruang rawat ayahnya. "Bu," panggil Meisya menyentuh bahu ibunya yang tampak melamun. Tidak menyadari kehadiran Meisya di dekatnya. Deborah—nama ibunya Meisya, sontak menoleh. "Kamu kok, ke sini? Ibu udah bilang nggak usah. Biar Ibu aja yang jagain Ayah. Kamu di rumah aja, belajar yang rajin." Meisya tersenyum. Ibunya memang ingin Meisya kuliah yang rajin dan berharap anaknya itu bisa sukses suatu saat nanti. Tidak sepertinya yang hidup susah. Sekolah hanya sampai kelas 2 SMP saja. Pekerjaan yang bisa dilakukannya saat ini hanya menjahit. Dan pesanannya tidak banyak juga, hanya sedikit yang mau mempercayakan jahitan mereka pada Ibu Meisya. Karena ada banyak bertebaran penjahit yang lebih bagus jahitannya dan juga mengerti banyak tentang model pakaian. "Aku ke sini bawa kabar gembira untuk Ayah, Bu," ujar Meisya antusias. Deborah menunggu kelanjutan kalimat Meisya. Penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh anaknya itu. "Ayah udah bisa dioperasi, Bu! Aku udah mendapatkan uangnya." "Dari mana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Sya?" tanya Deborah heran.  Dia menatap Meisya penuh selidik. Bagaimana tidak, uang sebesar 30 juta bukan lah nominal yang sedikit. "Ada orang baik yang mau bantu aku, Bu. Nanti kapan-kapan aku kenalin sama orangnya." Meisya sendiri tidak yakin sebenarnya kalau Mario adalah orang yang baik. Kalau Mario orang baik, seharusnya dia mau membantu Meisya dengan ikhlas. *** "Lo dari mana, Sya?" Meisya terkejut mendapati Pelangi yang duduk di teras rumahnya dengan pencahayaan yang minim. Beberapa hari di rumah sakit, cuma lampu teras saja yang dinyalakan jika dia pulang malam usai dari rumah sakit. Sedangkan ibunya, bermalam menjaga ayahnya di sana. "Emm, lo ngapain malam-malam ke sini, Ngi?" tanya Meisya mengalihkan, tanpa menjawab pertanyaan Pelangi. Dia tidak ingin Pelangi tahu jika ayahnya tengah dirawat. "Gue khawatir sama lo. Dari tadi gue hubungi nggak bisa-bisa. Mana motor lo ditinggal di kampus juga." "Eh, iya, tadi gue naik ojek online," jawab Meisya yang tentu saja berbohong. Karena tadi dia pergi bersama Mario dari kampus menggunakan mobil lelaki itu. Pelangi manggut-manggut. "Terus barusan dari mana?" "Gu-gue habis cari makan." "Oh. Ibu dan ayah lo ke mana emang? Udah setengah jam gue di sini, kayaknya nggak ada siapa-siapa di dalam." "Ibu sama ayah lagi ke rumah saudara gue di Lembang. Maaf, ya, udah bikin lo khawatir. Ponsel gue lagi eror dari tadi siang. Jadi gue matiin aja." "Lo mau masuk dulu?" "Boleh deh! Ini gue udah beli sate ayam buat makan malam bareng sama lo. Eh, tahunya lo udah makan di luar." Meisya mengambil plastik yang berada di tangan Pelangi. "Ayo makan lagi. Gue barusan cuma makan sedikit." Padahal Meisya belum makan sama sekali dari rumah sakit, niatnya tadi ingin membuat nasi goreng saja di rumah. Namun, Pelangi malah membawakan makanan untuknya. Pelangi begitu baik pada Meisya. Sedangkan Meisya? Dia malah tega berhubungan dengan kekasih sahabatnya itu. Meisya jadi merasa tidak pantas menjadi sahabat Pelangi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD