17 - Rencana Ashila - √

1998 Words
Narendra sudah kembali dari Singapura, karena itulah Inez kembali menginap di rumah orang tuanya, bukan di apartemen. Selama Narendra di Singapura, Narendra tahu kalau sang putri memilih untuk tinggal di apartemen. Hari ini adalah hari sabtu, itu artinya Narendra tidak pergi bekerja ke kantor. Lain halnya dengan Inez yang harus tetap pergi bekerja. Butik Inez hanya libur 1 hari dalam 1 minggu, dan hari liburnya adalah hari minggu. Jika ada tanggal merah yang bukan tepat di hari minggu, maka mereka akan libur. Lain butik lain restoran. Jika butik ada hari libur, maka tidak dengan restoran. Tidak ada hari libur untuk restoran, jadi jika pegawai restoran ingin libur, mereka harus ijin dari beberapa hari sebelumnya. Kecuali jika ada keadaan genting atau mendesak, mereka bisa libur di hari itu juga. Sebenarnya Inez juga sudah memberi jatah libur pada setiap pegawai di restorannya, dan tentu saja mereka bebas memilih, ingin mengambilnya atau tidak. Pagi ini, semua orang sudah berkumpul di ruang makan, bersiap untuk sarapan bersama. Inez adalah orang yang pertama kali memasuki ruang makan, di susul oleh Narendra juga Ashila, dan yang terakhir memasuki ruang makan adalah Erlina. 15 menit kemudian, sarapan sudah selesai, tapi semua orang memilih untuk tetap berada di meja makan. Saat ini mereka semua sedang menikmati hidangan penutup, dan di selingi oleh obrolan. Narendra sedang mengobrol dengan Inez, menanyakan kegiatan apa saja yang Inez lakukan selama di Bandung. Begitu pula dengan Erlina yang sedang mengobrol dengan Ashila. Ashila jelas sangat kesal saat melihat kedetakan antara Narendra juga Inez, tapi ia tidak bisa mengexspresikan kekesalannya saat itu juga. Ashila tidak mau Narendra menyadari kalau dirinya kesal, ia harus tetap bisa menjaga imagenya di hadapan sang suami. Narendra jangan sampai tahu kalau selama ini dirinya hanya berpura-pura baik pada Inez, jika sang suami sampai tahu maka semua rencananya akan berantakan. Ia sudah sampai sejauh ini, jadi jangan sampai ia gagal. "Ibu mau ke mana? Pergi arisan ya?" Bukan Narendra ataupun Inez yang bertanya, tapi Erlina. Erlina baru sadar kalau Ibunya tampil dengan sangat rapih. Biasanya jika Ashila tampil sangat rapih, pasti Ashila akan pergi keluar. Narendra sudah tahu ke mana istrinya akan pergi, sedangkan Inez sudah menduga kalau Ibunya akan pergi arisan. Itulah alasan kenapa keduanya tidak bertanya ke mana Ashila akan pergi. "Iya, Ibu mau pergi arisan. Kamu mau ikut?" Erlina sontak menggeleng. "Enggak ah, hari ini Erlina ada janji sama teman Erlina." "Sama siapa? Pasti sama Arsa." Ashila akan sangat senang jika memang putrinya akan pergi dengan Arsa. Sebelum menjawab pertanyaan Ashila, Erlina terlebih dahulu melirik sang Kakak, sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya pada sang Ibu. "Iya Bu," jawabnya sambik tersenyum lebar. "Wah, kalian berdua mau pergi ke mana?" "Kita mau jalan-jalan." Erlina menyahut penuh semangat. "Ya sudah hati-hati ya." "Iya Bu." "Ibu mau berangkat sekarang, kalau nanti takut terlambat." Ashila lalu pamit pada sang suami, dan tentu saja juga pamit pada Inez. Setelah Ashila pergi, giliran Erlina yang pamit. Erlina pamit untuk bersiap-siap, dan tak lama setelah Erlina pamit, Inez juga menyusul pamit. Sama seperti Erlina, Inez juga harus bersiap-siap terlebih dahulu. Inez hanya butuh waktu tak lebih dari 10 menit untuk bersiap-siap. Saay ini Inez baru saja keluar dari lift, dan Inez memilih untuk pergi ke ruang keluarga. Inez akan mengambil tasnya yang ternyata tadi sudah ia bawa, lalu ia simpan di sofa. Inez merogoh tasnya begitu mendengar ponselnya berdering. "Arsa," gumam Inez begitu melihat nama Arsalah yang tertera di layar ponselnya. Inez mengangkat panggilan Arsa, meskipun sebenarnya ia tidak ingin mengangkat panggilan tersebut. "Kamu di mana? Sudah berangkat ke butik?" Arsa tahu jadwal Inez, karena itulah ia tahu kalau hari ini Inez akan pergi ke butik. "Aku masih di rumah, ini baru mau berangkat ke butik. Kenapa?" "Aku juga masih di rumah, baru mau berangkat ke rumah sakit. Aku jemput kamu ya, jadi kita berangkat bareng, toh arah butik kamu dan rumah sakit aku 1 arah. Bagaimana? Mau kan?" Arsa berbicara dengan panjang. Inez menoleh begitu mendengar suara lift terbuka, dan orang yang baru saja keluar dari lif adalah Erlina. "Kamu enggak ada janji sama orang lain kan?" Tadi Erlina bilang kalau Erlina ada janji dengan Arsa, dan sebenarnya ia ragu kalau tadi Erlina berkata jujur. Inez merasa kalau tadi Erlina sedang berbohong, itulah alasan kenapa ia bertanya pada Arsa guna mengkonfirmasi kebenaran tersebut. Erlina mendengar suara dan pertanyaan yang baru saja Inez ucapkan. Erlina seketika menoleh, saat itulah ia melihat Inez yang berdiri tak jauh darinya, dan juga sedang menatapnya. "Enggak kok, aku enggak ada janji sama orang lain. Orang lain siapa?" "Yakin?" "Iya, memangnya janji sama siapa?" "Ya sudah, aku tunggu ya. Buruan." Tanpa menunggu balasan dari Arsa, Inez mematikan sambungan telapon mereka, lalu menghampiri Erlina. "Lain kali jangan suka bohong." Inez mengucapkan kalimat tersebut sambil berlalu pergi melewati Erlina. Erlina tentu saja bingung, lalu berpikir, mencoba mencari tahu apa maksud ucapan Kakaknya tersebut. "Bohong? Apanya yang bohong?" gumamnya kebingungan dengan kening yang kini berkerut dalam. Erlina segera menyusul Inez yang saat ini sudah sampai di ruang tamu. Erlina ingin berteriak memanggil Inez, menanyakan apa maksud ucapan Inez barusan. Tapi niat tersebut Erlina urungkan begitu ia mendengar suara mesin mobil milik Arsa memasuki halaman rumah, dan kini sudah berhenti tepat di depan pintu utama. Saat tadi Arsa menghubungi Inez, sebenarnya Arsa sudah berada tepat di depan gerbang rumah kedua orang tua Inez. Ketika Inez setuju untuk berangkat bersamanya, barulah Arsa meminta agar satpam membuka gerbang. Inez melarang Arsa keluar dari mobil untuk membukakannya pintu mobil. Inez memasuki mobil Arsa, dan begitu ia duduk di samping Arsa, ia melihat Erlina yang saat ini menatapnya dengan tajam. Inez tentu saja bisa melihatnya dengan jelas karena kaca mobil memang terbuka. Sekarang Erlina tahu apa maksud ucapan Inez tadi. Baiklah, sekarang ia menyesal karena sudah berbohong. Seharusnya tadi ia tidak berbohong, karena ia jadi rugi dan malu sendiri. Mobil yang Arsa dan Inez tumpangi melaju keluar dari halaman kediaman kedua orang tua Inez. Begitu melihat mobil milik Arsa sudah pergi, Erlina lantas berteriak, menyalurkan kekesalannya. Erlina pikir Arsa akan menawarinya untuk ikut, tapi ternyata Arsa sama sekali tidak menawarinya. Jangankan menawarkan tumpangan, menyapanya saja tidak. Astaga, bahkan Arsa sama sekali tidak meliriknya. Entah karena Arsa tidak melihatnya atau memang tidak mau melihatnya. Tapi tidak mungkin Arsa tidak melihatnya, jadi itu artinya, Arsa memang tidak mau menyapanya? Erlina kembali berteriak, benar-benar kesal. Erlina bahkan berniat melemparkan tasnya, tapi begitu sadar kalau tasnya mahal, niat tersebut Erlina urungkan. Erlina meraih ponselnya, lalu menghubungi temannya. Hari ini dirinya dan temannya akan pergi ke salon untuk mewarnai rambutnya, dan melakukan perawatan kecantikan lainnya. Seperti yang sebelumnya sudah Ashila katakan, hari ini Ashila akan pergi arisan, tentu saja bersama dengan ibu-ibu sosialita yang lainnya. Arisan hari ini di adakan di kediaman salah satu peserta arisan, yaitu Tina. Arisan sudah di mulai sejak 15 menit yang lalu, pemenang arisan juga sudah di ketahui dan pemenangnya adalah Ashila. Saat ini, Ashila sedang mengobrol dengan pemilik rumah, Tina. Sedangkan para Ibu-ibu arisan yang lainnya sedang asyik menikmati kudapan yang di sediakan oleh pemilik rumah. Ashila dan Tina memang dekat, begitu pula dengan suami mereka yang juga dekat. Suami mereka adalah rekan bisnis, dan suami Ashila jauh lebih senior, karena itulah Tina dan sang suami yang bernama Bagus sangat menghormati Narendra. "Jeng Tina, itu anaknya kan?" Ashila melirik seorang pria yang baru saja memasuki rumah. Ibu-ibu yang sedang menikmati makanan di meja yang tak jauh dari sofa berseru heboh begitu melihat seorang pria memasuki rumah. Anak-anak Bagus dan Tina memang sekolah dan kuliah di luar negeri, jadi mereka semua jarang pulang ke Indonesia, dan jarang bertemu dengan rekan-rekan dari kedua orang tuanya, termasuk Ashila. Bagus dan Tina mempunyai 3 orang anak. 2 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan. Anak pertama dan kedua adalah laki-laki, sedangkan anak ketiganya adalah perempuan. Tina menoleh ke samping kanan, lalu tersenyum lebar begitu tahu siapa orang yang Ashila maksud. "Iya Jeng, itu anak saya. Dia Cristian, Jeng. Kakaknya Stefan sama Stevi. Jeng lupa ya?" "Astaga, sekarang sudah besar ya. Seingat saya, dulu dia masih kuliah. Dia beda banget sama dulu, jadi wajar saja kalau saya kesulitan untuk mengenalinya." Ashila mungkin terakhir kali bertemu dengan Cristian sekitar 4 tahun yang lalu. Penampilan Cristian juga berbeda dari 4 yang lalu, karena itulah tadi ia sempat merasa ragu, dan bertanya pada Tina tentang siapa orang tersebut. "Iya, sekarang dia sudah dewasa. Selama tinggal di luar negeri, dia mengalami banyak sekali perubahan, terutama fisiknya." "Benar, jadi makin gagah aja." Timpal salah satu Ibu-ibu arisan yang bernama Widia. Sejak tadi, Widia memang bergabung dengan Ashila dan juga Tina. "Cristian makin tampan." Kali ini giliran Ashila yang bersuara. Pujian yang Ashila berikan benar-benar tulus, Cristian memang semakin tampan, meskipun jika di bandingkan dengan Arsa, Arsa masihlah yang paling tampan. Tina sontak tertawa, membenarkan ucapan keduanya. Cristian memang smakin gagah, juga tampan mempesona. Tina tahu, ada banyak sekali perempuan yag mendekati Cristian, tapi sayangnya, tak ada satupun dari perempuan-perempuan tersebut yang mampu meluluhkan hati Cristian. "Sayangnya dia masih jomblo," keluh Tina sambil tersenyum masam. Ashila dan Widia jelas terkejut, tak menyangka kalau Cristian masih jomblo. Mereka pikir, Cristian sudah memiliki kekasih atau bahkan mungkin memiliki calon istri. "Seandainya aku punya anak perempuan, pasti akan aku jodohkan dengan Cristian." "Sayangnya kedua anak kamu laki-laki semua ya, Jeng," kekeh Ashila. "Iya, sayangnya kedua anak aku laki-laki semua, dan mereka juga masih jomblo. Katanya belum mau pacaran, ataupun menjalin hubungan karena ingin fokus kerja dulu." Widia lantas menyikut pelan Ashila. "Jeng, kedua anak kamu kan perempuan, siapa tahu salah satunya ada yang cocok sama Cristian. Siapa tahukan ada yang jodoh sama Cristian." "Oh iya, apa Inez masih jomblo, belum memiliki kekasih?" Tinalah yang bersuara. Tina menatap Ashila dengan mata berbinar, tak sabar untuk menunggu jawaban apa yang akan Ashila katakan Tanpa ragu Ashila mengangguk. "Iya Jeng, Inez memang masih jomblo, kalau Erlina sudah memiliki kekasih." Kemarin ia bertanya pada Inez dan Inez bilang kalau Inez belum memiliki kekasih, jadi Ashila menjawab dengan jujur pertanyaan Tina. Seandainya, sekalipun Inez sudah memiliki kekasih, maka ia akan mengatakan pada Tina kalau Inez belum memiliki kekasih. Melihat Inez menderita adalah hal yang paling Ashila inginkan, itu artinya, melihat Inez bahagia adalah hal yang paling tidak Ashila inginkan. Sebenarnya Erlina belum memiliki kekasih, tapi karena ia tahu kalau sang putri mencintai Arsa, maka ia tidak akan mencoba untuk mengenalkan Erlina dengan Cristian, karena Erlina sudah pasti akan menolak. "Serius Jeng? Inez masih jomblo?" Tina pikir Inez sudah memiliki kekasih. "Iya, Inez memang masih jomblo." Ashila memperjelas. Ashila tahu kalau Tina sangat menyukai Inez, dan mungkin sekarang mulai berharap kalau Inez akan menjadi menantunya. "Nah, itu Inez jomblo. Apa kalian berdua tidak mau menjodohkan Cristian dengan Inez?" Widia menatap Tina dan Ashila secara bergantian. "Jangan langsung di jodohkan, perkenalan aja dulu. Pelan-pelan, siapa tahu kan mereka berdua cocok. Kalau cocok bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius, tapi kalau gak cocok ya jangan di paksa." "Duh saya takut Ineznya enggak mau sama Cristian." Tina memang tidak mengenal dekat Inez, tapi jika di lihat sekilas, sepertinya Inez memiliki selera tinggi pada calon pasangannya. "Lah saya malah berpikir kalau Cristian yang tidak mau sama Inez." Jika Cristian mau di jodohkan dengan Inez, maka Ashila tidak akan menolak sekalipun Inez menolak untuk di jodohkan dengan Cristian. Ashila akan mencari cara agar Inez mau menerima perjodohan tersebut, sekalipun ia harus membongkar masa lalunya. Jika dengan membongkar masa lalunya bisa membuat Inez menyetujui perjodohan tersebut, maka Ashila akan melakukannya. Tentu saja tidak boleh ada yang tahu kalau ia memaksa Inez untuk menerima perjodohan tersebut, termasuk sang suami dan juga Erlina. Tidak boleh ada yang tahu rencananya selain dirinya dan Inez, dan ia akan mengancam Inez agar tidak memberi tahu siapapun. Setelah menyapa semua teman-teman Ibunya, Cristian lalu menghampiri Ibunya. Cristian juga menyapa kedua teman Ibunya yang sejak tadi terus mengobrol dengan sang Ibu. Setelah berbincang sebentar dengan Ibunya, juga dengan Ashila dan Widia, Cristian lalu pamit undur diri. Setelah Cristian pergi, Tina, Ashila, dan Widia kembali mengobrol, kali ini membahas tentang rencana mengenalkan Cristian dan Inez. Tina bahkan meminta poto terbaru Inez pada Ashila, dan Ashila dengan senang hati memberikannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD