14 - Balas dendam - √

2200 Words
Malam akhirnya tiba, itu artinya Alexander, Alexa, juga Inez akan pergi makan malam di kediaman orang tua Inez. Inez memutuskan untuk ikut, dan tentu saja Inez memiliki rencana tersembunyi. Awalnya Inez tidak ingin ikut karena ia malas bertemu dengan Ashila juga Erlina. Narendra masih ada di Singapura, jadi di rumah tersebut hanya ada Ashila dan Erlina, itu artinya mereka akan makan malam berlima. Sebenarnya bukan hanya ada Ashila dan Erlina, karena para pelayan, tukang kebun, juga satpam tinggal di rumah tersebut. Mereka semua tinggal di paviliun yang berada tepat di belakang rumah. Alexander, dan Alexa baru saja selesai bersiap-siap, saat ini keduanya baru keluar dari lift. "Inez sudah siap atau belum?" "Sepertinya sudah siap, lah dia yang paling semangat untuk pergi." Alexa terkekeh, tahu betul apa alasan Inez sangat bersemangat. Alexander ikut terkekeh, tahu betul apa rencana Inez. Alexander, dan Alexa, sangat tahu kalau Ashila itu tidak suka dengan Inez begitu pun dengan Erlina. Pasti Ashila dan Erlina sangat berharap kalau Inez tidak akan ikut makan malam kali ini. Oleh karena itulah Inez sangat bersemangat untuk membuat Ashila dan Erlina kesal. Bayangkan saja, Ashila dan Erlina tidak berharap Inez untuk datang, tapi Inez malah akan datang. Ashila dan Erlina pasti sangat jengkel, luar biasa jengkel. "Di mana dia?" Alexander mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah, mencari keberadaan Inez. "Inez, ayo kita berangkat!" Alexander akhirnya berteriak memanggil Inez. Inez yang saat ini berada di ruang tamu mendengar teriakan Alexander, tapi Inez sama sekali tidak menyahut. Inez diam, menunggu Alexander kembali berteriak memanggilnya. Alexander kembali berteriak, bukan hanya 1 kali, tapi 2 kali. Saat Alexander berteriak untuk yang ke 4 kalinya, barulah Inez menyahut. Inez balas berteriak, memberi tahu Alexander dan Alexa di mana posisinya saat ini. Alexander dan Alexa pergi menuju tempat di mana Inez berada, dan ternyata Inez berada di ruang tamu, sedang duduk santai di sofa. "Kamu dari tadi di sini?" Alexalah yang bertanya. "Iya, Inez dari tadi ada di sini." "Berarti kamu dengar dong pas Om teriak manggil kamu?" Kali ini giliran Alexander yang bertanya. "Tentu saja Inez mendengarnya." "Terus kenapa diam aja?" Jika Inez mendengar teriakannya, seharusnya Inez menyahut sejak tadi. Tapi kenapa Inez malah diam? "Sengaja." Inez menyahut sambil tersenyum lebar. "Sengaja?" Ulang Alexa, menatap Inez bingung. "Iya, Inez sudah lama tidak mendengar teriakan Om Alex, karena itulah Inez sangat merindukannya." Alexander dan Alexa kompak tertawa begitu mendengar alasan Inez yang menurut mereka sangat konyol. "Ya sudah, ayo kita berangkat." "Ayo." Inez menyahuti ucapan Alexa dengan penuh semangat membara. Alexander, dan Alexa lagi-lagi tertawa, senang saat melihat betapa semangatnya Inez. Sebenarnya bukan hanya Inez yang bersemangat, tapi mereka berdua juga sangat bersemangat. Mereka ingin melihat dengan mata kepala mereka sendiri mimik wajah Ashila juga Erlina begitu melihat kedatangan Inez. Keduanya pasti sangat terkejut. Ketiganya pergi menuju mobil yang sejak tadi sudah siap untuk mengantar mereka bertiga pergi. Alexander tahu kalau Ashila tidak menyukai Inez sejak 2 tahun yang lalu. Saat itu, Alexander datang ke rumah sang Kakak untuk menjenguk Inez yang katanya sedang sakit. Alexander tahu kalau Kakaknya sedang di kantor, jadi di rumah hanya ada Kakak iparnya, Inez, dan tentu saja para pelayan yang sedang bekerja. Semua anggota keluarganya mengira kalau ia masih berada di luar negeri, padahal sebenarnya ia memutuskan untuk pulang lebih awal ketika tahu kalau Inez sedang sakit. Alexander memang pulang diam-diam karena ia ingin membuat kejutan untuk Inez. Begitu sampai di rumah sang Kakak, ia langsung pergi ke kamar Inez begitu tahu kalau Inez sedang makan siang, katanya makan siang Inez di bawakan langsung oleh Ashila. Ketika akan memasuki kamar Inez, tanpa sengaja ia mendengar obrolan antara Ashila dan Inez. Saat itulah ia tahu kalau selama ini, Ashila hanya pura-pura baik pada Inez. Inez sedang sakit, tapi Ashila malah memarahi Inez habis-habisan. Sakit, itulah yang Alexander rasakan begitu tahu kalau selama hampir bertahun-tahun ini, Ashila hanya berpura-pura sayang pada Inez, karena pada kenyataannya Ashila sangat membenci Inez. Seharusnya dari dulu ia sadar dan tahu kalau Ashila memang tidak akan pernah tulus menyayangi Inez. Alexander ingin sekali menghampiri keduanya, melabrak Ashila yang saat itu terang-terangan sedang memaki Inez, mengeluarkan banyak sekali kata-kata kasar yang pasti sangat melukai hati Inez. Tapi Alexander memilih untuk tidak menerobos memasuki kamar Inez. Saat tahu kalau Ashila akan keluar dari kamar Inez, Alexander segera bersembunyi, dan setelah yakin kalau Ashila pergi, barulah ia memasuki kamar Inez. Inez yang saat itu sedang menangis sesegukan tentu saja terkejut begitu melihat kedatangannya. Tangis Inez semakin menjadi begitu ia memeluk keponakannya tersebut. Alexander memberi tahu Inez kalau ia sudah mendengar semua ucapan kasar dan menyakitkan yang Ashila lontarkan pada Inez. Alexander meminta agar Inez bercerita padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya Inez menolak untuk bercerita, tapi Alexander memaksa. Dengan berderai air mata, Inez memberi tahu Alexander kalau selama ini, Ashila tidak bersikap adil padanya. Ashila tidak menyayanginya seperti Ashila menyayangi Erlina. Ashila hanya akan bersikap baik penuh kasih sayang padanya jika di hadapan semua orang, dan Ashila akam bersikap buruk padanya jika mereka hanya berdua. Inez bercerita dengan sejujur-jujurnya, termasuk memberi tahu Alexander kalau ia juga sering mendapatkan kekerasan fisik dari Ibunya. Ashila sering menjambaknya, dan juga menamparnya, bahkan tak jarang Ashila juga akan meludahinya. Sama seperti Inez, Alexander juga berderai air mata, tak menyangka kalau selama ini Inez sangat menderita. Pantas saja Inez tidak betah jika tinggal di rumah, dan sejak kuliah memilih untuk tinggal di tempat yang jauh dari rumah. Pantas saja Inez selalu terlihat tidak nyaman jika berada di dekat Ashila. Alexander juga menyalahkan dirinya sendiri karena ia yang tidak peka tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Inez. Bukan hanya dalam kurun waktu 1 atau 2 tahu, tapi hampir bertahun-tahun lamanya. Alexander berniat untuk memberi tahu Kakaknya, atau Ayah Inez tentang perlakuan buruk Ashila pada Inez, tapi Inez melarang Alexander melakukannya. Alexander memilih untuk menerima permohonan Inez untuk tidak memberi tahu sang Ayah tentang apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu, Alexander mengumpulkan para pelayan, lalu bertanya, apa mereka tahu atau tidak tentang sikap buruk Ashila pada Inez. Mereka semua tahu, tapi mereka tidak berani mengadu pada Narendra ataupun anggota keluarga yang lain karena Ashila mengancam mereka semua. Saat Alexander mengumpulkan semua pelayan, Ashila tidak ada di rumah, karena setelah memarahi Inez, Ashila pergi untuk bertemu dengan para rekan sosialitanya. "Sayang." Alexa menegur sang suami saat ia sadar kalau suaminya melamun. Alexander tersadar dari lamunannya, lalu menoleh pada sang istri. "Iya sayang, kenapa?" "Kamu melamun." Alexander tersenyum kecut. "Aku hanya sedang teringat pada masa lalu." Alexander lantas menatap Inez, begitu pun dengan Alexa. "Kita akan selalu ada untuknya," bisik Alexa yang ternyata di dengar oleh Alexander. "Iya, kita akan selalu ada untuknya." Alexander menyahut lirih. Tak sampai 5 menit kemudian, mereka sampai di kediaman kedua orang tua Inez. Inez terlebih dahulu keluar dari mobil, lalu menekan bel karena pintu dalam keadaan terkunci. Ah, Inez sudah tidak sabar untuk melihat raut wajah Ibunya yang pasti akan berubah sangat masam begitu melihat kalau dirinyalah yang saat ini berdiri di hadapannya, bukan Alexander ataupun Alexa. Inez mundur 1 langkah begitu mendengar suara kunci terbuka. Saat pintu terbuka, Inez tersenyum dengan sangat lebar, begitu pun dengan Ashila. Senyum Inez masih setia menghiasi wajahnya, berbeda dengan Ashila yang kini tidak lagi tersenyum. Seperti yang sudah Inez duga, senyum lebar di wajah Ibunya tidak bertahan lama, dan alasan senyum tersebut hilang tentu saja karena yang di lihatnya saat ini adalah dirinya, bukan Alexander ataupun Alexa. Inez terlebih dahulu mengucap salam sebelum akhirnya menyapa Ashila, lalu menyalami tangan kanan Ashila. Setelah menyapa Ashila, Inez memasuki rumah, meninggalkan Ashila yang luar biasa shock begitu tahu yang menekan bel adalah Inez, bukan Alexander ataupun Alexa. "Dasar menyebalkan!" umpat Ashila dalam hati. Tentu saja umpatan tersebut Ashila ucapkan dalam hati, karena Ashila tidak mau Alexander dan Alexa mendengar umpatannya. Ia tetap harus menjaga imagenya di depan Alexander dan Alexa. Ashila tidak tahu saja kalau sebenarnya Alexander dan Alexa sudah tahu bagaimana sifat aslinya pada Inez. Alexander dan Alexa sekuat tenaga menahan tawa mereka tat kala melihat raut wajah Ashila yang berubah masam. Begitu melihat Alexander dan Alexa mendekatinya, Ashila merubah mimik wajahnya. Ashila kembali tersenyum, lalu menyapa keduanya secara bergantian. Setelah itu, Ashila mempersilakan keduanya memasuki rumah. Ashila membawa Alexander dan Alexa menuju ruang makan, karena memang sudah waktunya untuk makan malam. Ashila tidak mau menunda, ia takut kalau keduanya akan kelaparan. "Kak Inez mana?" Ashila tidak melihat Inez di ruang makan, karena itulah ia penasaran ke mana Inez pergi? Tadi saat melewati ruang keluarga, ia juga tidak melihat Inez. "Kak Inez ikut?" Erlina terkejut, lalu menatap Ashila, Alexander, dan Alexa secara bergantian. "Iya, Kakak kamu ikut. Dia enggak masuk ke sini?" Jika memang Inez tidak memasuki ruang makan, Ashila yakin kalau Inez pergi ke kamarnya. Erlina menggeleng. "Enggak. Kak Inez enggak masuk ke ruang makan." "Inez tidak akan makan, karena Inez memang sudah makan." Alexa akhirnya bersuara. Tujuan Inez ikut datang ke rumah kedua orang tuanya karena Inez akan mengambil beberapa barangnya, termasuk salah satu mobilnya yang akan Inez bawa ke apartemen. Ashila tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, saat tahu kalau Inez tidak akan ikut makan malam bersama. Jadi ia dan sang putri bisa berbicara panjang lebar dengan Alexander dan Alexa. Makan malam tidak berlangsung lama, bahkan tak sampai 30 menit, karena Alexander dan Alexa hanya makan sedikit. Saat ini, mereka semua kecuali Inez sedang berkumpul di ruang keluarga. Sejak tadi, Inez belum terlihat batang hidungnya. "Oh iya, ini oleh-oleh untuk Mba dan Erlina." Alexa menyerahkan dua paper bag berukuran sama pada Ashila dan juga Erlina. Senyum di wajah Ashila, dan Erlina melebar, karena inilah momen yang memang mereka tunggu-tunggu. Keduanya sama-sama mengucap terima kasih. Tak lama kemudian, Inez datang. Inez pamit, baik itu pada Ibu dan juga adiknya, ataupun pada Alexander dan juga Alexa. Inez akan kembali ke apartemennya, kali ini tentu saja membawa sendiri mobilnya. Tak lama setelah Inez pergi, Alexander dan Alexa juga pamit undur diri. Setelah mereka semua pergi, Ashila dan Erlina segera membuka paper bag yang tadi Alexa berikan. Ibu serta anak tersebut ingin tahu, oleh-oleh apa yang Alexa berikan pada mereka. "Wah, dompetnya bagus banget." "Iya Bu, dompetnya bagus banget." Oleh-oleh yang Ashila dan Erlina terima adalah sebuah dompet couple dari salah satu brand ternama dunia. "Kira-kira Kak Inez dapat oleh-oleh apa ya?" Erlina penasaran, ingin tahu oleh-oleh apa yang Inez terima dari Alexa. Apa sama seperti mereka? Atau justru berbeda? "Ibu juga penasaran. Ingin tahu oleh-oleh apa yang dia dapat." "Bu, kita foto yuk oleh-olehnya, terus kita upload di akun social media kita." "Ide bagus." Ashila setuju dengan saran yang Erlina berikan. Inez sudah sampai di apartemen. Inez segera membuka oleh-oleh pemberian Alexa. Inez memekik kegirangan begitu tahu kalau oleh-oleh tersebut adalah sebuah tas dari salah brand ternama dunia. Tas tersebut adalah tas yang memang ingin ia miliki, tapi ia belum mampu membelinya karena uang tabungannya sudah habis, ia gunakan untuk memberi apartemen, dan juga mobil baru. Inez meraih ponselnya, lalu mengirim pesan pada Alexa. Inez mengucap terima kasih, luar biasa bahagia dengan oleh-oleh yang Alexander dan Alexa berikan padanya. Setelah mengirim pesan pada Alexa, Inez lalu membuka akun social media miliknya, melihat story yang Ibunya dan Erlina unggah beberapa menit yang lalu. "Gue jahat gak sih?" gumam Inez, bertanya pada dirinya sendiri. "Ah bodo amat, Ibu sama Erlina juga posting oleh-oleh pemberian Tante Alexa, masa gue enggak?" lanjutnya, bergumam pada dirinya sendiri. Inez berencana melakukan hal yang sama seperti apa yang Ashila dan Erlina lakukan, memposting barang pemberian Alexa di akun social media miliknya. Inez meletakkan tasnya di meja, lalu mulai mencari posisi yang pas agar ia bisa mengambil foto dengan bagus. Setelah memfoto tas tersebut, Inez lalu mempostingnya di salah satu akun social media miliknya, tak lupa untuk menuliskan ucapan terima kasih atas oleh-oleh yang sudah Alexander dan Alexa berikan padanya. Inez sontak tertawa kegirangan begitu tahu kalau orang pertama yang melihat postingan storynya adalah Ashila dan Erlina. Inez sudah menduga kalau keduanya pasti menunggu postingan di akun social media miliknya. Jika Inez sedang tertawa, maka lain halnya dengan Ashila juga Erlina yang saat ini sedang sama-sama emosi. Ibu dan anak tersebut tentu saja kesal saat melihat oleh-oleh apa yang Alexander dan Alexa berikan pada Inez. Sebuah tas limited edition yang pastinya memiliki harga yang begitu fantastis, tak sebanding dengan harga dompet yang Alexa berikan pada mereka sekalipun harga kedus dompet tersebut di satukan. Alexander dan Alexa memang sengaja melakukan hal itu, ia ingin agar Alisha dan Erlina tahu kalau di perlakukan secara tidak adil rasanya sangat menyakitkan. "Ibu, Erlina mau tas yang seperti Kak Inez." Erlina mulai merengek, luar biasa kesal karena oleh-oleh yang ia dapatkan tidak sama dengan oleh-oleh yang Inez dapatkan. Dirinya hanya di beri dompet, begitu pun dengan Ibunya. Lebih tepatnya, mereka mendapatkan dompet couple sebagai oleh-oleh, tapi kenapa Inez malah mendapatkan tas mewah? Ini benar-benar tidak adil. "Ibu juga mau!" Ashila menyahut ketus. "Kak Inez posting foto lagi!" seru Erlina heboh. Ashila ikut heboh, lalu ia merebut ponsel Erlina, lalu melihat foto apa yang baru saja Inez posting. Kali ini Inez memposting sebuah foto yang memberi informasi tentang berapa harga tas tersebut, di barengi dengan emot shock. Ya, Inez memang luar biasa shock begitu tahu kalau tas tersebut memiliki harga yang begitu fantastis. Ashila dan Erlina juga sama shocknya begitu tahu berapa harga tas tersebut, dan kini keduanya luar biasa iri pada Inez.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD