06 - Bersyukur - √

2002 Words
  Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Arsa terlihat cemas.   Wajar saja kalau Arsa terlihat cemas, sekaligus khawatir, itu karena sampai saat ini, Inez belum juga bisa dihubungi.    Arsa sudah meminta agar Nesya menghubungi Inez, tapi hasilnya sama saja, Inez tidak bisa di hubungi. Itu artinya, Inez memang mematikan ponselnya.   Saat ini, mobil yang Arsa, Reno, juga Nesya tumpangi sudah dalam perjalanan pulang, bahkan sebenyatdekat dengan rumah.   Arsa segera meraih ponselnya begitu ponselnya bergetar, itu artinya ada pesan masuk.   Pesan yang masuk ternyata dari Mahesa. Mahesa memberi tahu Arsa ke mana Inez pulang, dan ternyata Inez pulang ke apartemen, tidak pulang ke rumah orang tuanya.   Arsa semakin cemas serta khawatir begitu tahu kalau Nesya pulang ke apartemen, bukan rumah.   Padahal, seharusnya jika Inez sedang sakit, perempuan itu pulang ke rumah, di mana di rumah orang tuanya ada banyak sekali orang, bukan malah pulang ke apartemen yang tidak ada siapa-siapanya.   Baiklah, karena Inez pulang ke apartemen, maka Arsa mengunjungi Inez malam ini juga.   Arsa tidak akan bisa tenang sebelum ia melihat sendiri bagaimana kondisi Inez. Apa Inez baik-baik saja? Atau tidak? Arsa harus datang, dan melihatnya sendiri.    Begitu mobil terparkir sempurna di garasi, Arsa bergegas keluar dari mobil, di susul oleh Reno juga Nesya.    "Loh, Abang mau ke mana?" Nesya tentu saja kebingungan saat melihat Arsa malah meraih kunci mobil yang memang di simpan di laci yang ada di garasi. Jika Arsa meraih kunci mobil, bukankah itu berarti kalau Arsa akan pergi?   "Abang mau ke apartemen Inez. Abang mau lihat kondisi Inez."     "Tunggu dulu." Nesya mencekal pergelangan tangan Arsa, membuat langkah Arsa sontak terhenti.   Arsa berbalik menghadap Nesya, menatap sang adik dengan raut wajah bingung. "Kenapa, Dek?"    "Ini sudah malam, dan di luar juga sedang hujan deras. Sebaiknya Abang datang besok pagi saja, jangan malam ini." Nesya takut terjadi sesutu yang buruk pada Arsa, apalagi saat ini hujan turun dengan sangat deras.    Saat dalam perjalanan pulang, hujan deras tiba-tiba turun. Ada banyak sekali jalan yang terendam air, bahkan mungkin di sebagian titik kota akan mengalami banjir karena curah hujan yang semakin tinggi. Hujan turun di sertai dengan petir dan angin, karena itulah Nesya merasa cemas jika Arsa akan pergi keluar.    Arsa meraih tangan Nesya yang sejak tadi mencekal pergelangan tangannya, lalu mengusap punggung tangannya dengan penuh kasih sayang. "Abang tidak akan mengebut, Abang janji kalau Abang akan berhati-hati."    Nesya menarik dalam nafasnya, lalu mengangguk. "Baiklah, nanti kalau sudah sampai di apartemen Kak Inez, tolong hubungi Nesya ya," pintanya memaksa.    "Iya, Abang akan menghubungi kamu."   Setelah pamit pada Reno dan Nesya, Arsa pergi menuju apartemen Inez. Jarak dari rumahnya ke apartemen Inez tidak terlalu jauh, mungkin hanya akan memakan waktu kurang lebih 10 menit. Itupun jika lalu lintas lancar, jika macet, maka bisa lebih dari itu.    Arsa akhirnya sampai di kawasan apartemen Inez. Arsa memarkirkan mobilnya di basement, dan sebelum keluar dari mobil, Arsa terlebih dahulu mengirim pesan pada Nesya, memberi tahu sang adik kalau ia sudah sampai di apartemen Inez dengan selamat.    Arsa yakin, adiknya pasti tidak akan tenang sebelum ia memberi kabar. Jadi setelah ia memberi kabar kalau ia sampai dengan selamat, maka perasaan Nesya pasti akan tenang.    Setelah mengirim pesan pada Nesya, Arsa bergegas keluar dari mobil, lalu memasuki lift yang berada tepat di hadapannya.   Ini bukan kali pertama Arsa datang berkunjung ke apatemen Inez, karena itulah Arsa sudah tahu di lantai berapa Inez tinggal, begitu pun dengan nomor apartemennya.    Saat Arsa keluar dari lift, Arsa melihat seorang pria yang mungkin seusia dengannya baru saja keluar dari apartemen Inez. Arsa tidak tahu siapa pria tersebut, karena ini adalah kali pertama ia melihatnya.   Arsa jadi bertanya-tanya, siapa pria tersebut? Apa dia Kakak Inez? Tapi setahunya, Inez tidak memiliki Kakak. Atau mungkin pria itu adalah saudara Inez? Atau jangan-jangan pria tadi adalah kekasih Inez?   Arsa tiba-tiba merasa kesal begitu pemikiran tentang pria tersebut adalah kekasih Inez tiba-tiba ada dalam benaknya.   Saat dirinya dan pria itu berpapasan, seperti orang lain pada umumnya, mereka saling melempar senyum simpul.   Arsa menunggu sampai pria itu memasuki lift, setelah itu barulah ia berdiri di depan unit apartemen Inez.   Arsa menekan sandi untuk membuka apartemen Inez, bernafas lega saat tahu kalau Inez tidak mengganti sandinya.    Inez yang baru saja akan memasuki kamar sontak saja mengurungkan niatnya, lalu berbalik untuk melihat siapa orang yang baru saja memasuki apartemennya begitu ia mendengar pintu apartemennya terbuka.   Inez menghela nafas panjang, saat ia tahu siapa pria yang baru saja memasuki apartemennya.   "Siapa pria yang barusan keluar dari apartemen kamu?" Bukannya menanyakan bagaimana kondisi Inez, Arsa malah mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak penting, menurut Inez.   Inez menatap bingung Arsa. Tentu saja ia bingung karena saat ini raut wajah Arsa sangat dingin, dan nada bicaranya juga sangat ketus.   "Apa yang terjadi pada Arsa?" Itulah pertanyaan yang saat ini ada dalam benak Inez.  "Kamu tadi papasan sama dia, kenapa enggak bertanya langsung?" Bukannya menjawab pertanyaan Arsa, Inez malah balik bertanya. Sama seperti Arsa, Inez juga bertanya dengan sangat ketus.   Arsa menarik dalam nafasnya, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Arsa mencoba meredam amarahnya yang tiba-tiba saja bergejolak.   Arsa tidak tahu kenapa amarahnya tiba-tiba menyeruak, tapi yang pasti adalah, ia kesal saat melihat ada pria yang keluar dari apartemen Inez.   "Apa dia kekasih kamu?"   Pertanyaan yang baru saja Arsa ajikan berhasil membuat Inez luar biasa kesal.   "Kamu pasti tahu kalau aku lagi sakit. Jadi aku enggak mau berdebat sama kamu, dan juga membahas hal yang sama sekali enggak penting. Sebaiknya kamu pulang saja, jangan menganggu aku." Inez berbalik membelakangi Arsa, lalu pergi menuju kamarnya.   Inez marah, itu sudah pasti. Inez melampiaskan kemarahannya dengan cara membanting pintu kamarnya.    Kedatangan Arsa bukannya menghilangkan rasa pusing yang saat ini Inez rasakan, tapi malah membuat Inez semakin pusing.    Inez membaringkan tubuhnya di tempat tidur, baru saja akan memejamkan matanya begitu ia mendengar ponselnya berdering. Inez meraih ponselnya, lalu melihat siapa nama yang tertera di layar ponselnya.   Tanpa pikir panjang, Inez segera mengangkat panggilan tersebut. "Halo Ayah," sapanya terlebih dahulu.   Inez sudah terlebih dahulu menyapa sang Ayah, sebelum sang Ayah menyapanya.   "Nak, kenapa kamu tidak pulang ke rumah?" Narendra baru saja sampai di rumah, alangkah terkejutnya ia saat tahu kalau ternyata sang putri tidak pulang ke rumah. Begitu turun dari mobil, Narenda segera bertanya pada kepala pelayan, bagaimana kondisi sang putri? Tapi kepala pelayan malah memberi tahunya jika Inez tidak pulang ke rumah.   Ada banyak sekali alasan kenapa Inez memilih pulang ke apartemen dari pada pulang ke rumah. Salah satu alasannya adalah, jika Inez pulang ke rumah, lalu Ibunya tahu ia sedang sakit, ia pasti akan di marahi habis-habisan. Ashila tentu saja saat memarahinya ketika sang Ayah tidak ada, karena Ashila akan bersikap manis begitu ada Ayahnya.   Inez tidak pernah mengadukan sikap buruk sang Ibu pada Ayahnya, karena Inez tidak mau membuat sang Ayah merasa khawatir atau terbebani, mengingat mengurus pekerjaan di kantor saja pasti sudah sangat berat.   Inez akan dengan sabar menunggu, menunggu hari di mana Ibunya akan benar-benar bersikap baik padanya, bukan hanya akan bersikap baik jika ada sang Ayah.   Inez tidak tahu kapan itu akan terjadi, tapi ia berharap secepatnya, karena ia sudah mulai merasa lelah, lelah untuk mencoba terlihat baik-baik saja di saat sebenarnya ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.    Inez juga lebih memilih untuk memendam sendiri rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Inez tidak pernah bercerita pada sahabatnya, baik itu Arsa ataupun Nesya, tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya.   Inez tidak mau membuat sahabat serta teman-temannya merasa khawatir.   "Ayah, kalau di apartemen, Inez bisa istirahat yang cukup."    "Tadinya Ayah mau susul kamu ke apartemen."   "Eh enggak usah, ini sudah malam dan di luar juga hujan deras. Ayah enggak usah ke sini, Inez baik-baik aja kok."   "Besok sebelum berangkat ke kantor, Ayah akan datang untuk menjenguk kamu. Kalau sampai besok kondisi kamu juga belum membaik, Ayah akan membawa kamu ke rumah sakit."    "Ok, Inez tidak akan menolak saran Ayah." Inez menyahut penuh semangat.   Saat mendapatkan perhatian dari sang Ayah, Inez selalu ingin menangis. Ia sangat bersyukur karena sang Ayah yang begitu peduli, serta menyayanginya dengan sepenuh hati.    Narendra tidak pernah pilih kasih pada Inez, bahkan mungkin sebenarnya Narendra lebih peduli pada Inez ketimbang pada Erlina.   "Sudah makan dan minum obat pereda nyeri?"    "Sudah Ayah. Tadi sebelum Inez berangkat ke acara ulang tahun perusahaan, Inez sudah makan dan minum obat."    "Lain kali kalau kamu lagi sakit bilang lebih awal ya Sayang. Ayah pasti tidak akan memasak kamu untuk datang kalau Ayah tahu kamu Ayah sakit." Narendra menyesal karena tadi pagi ia tidak menghubungi putrinya secara langsung. Jika saja tadi pagi ia menghubungi Inez secara langsung, mungkin ia akan tahu kalau Inez sedang sakit.   "Iya Ayah. Inez minta maaf karena Inez sudah membuat Ayah khawatir."   "Ayah tentu saja khawatir saat tahu kalau putri Ayah sakit."   Senyum di wajah Inez melebar dengan sempurna begitu mendengar ucapan sang Ayah. Tidak apa-apa kalau ia tidak mendapatkan kasih sayang dari Ibunya, yang terpenting baginya adalah, ia masih mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya.   Inez harus segera istirahat, karena itulah Narenda tidak bisa mengobrol lama dengan Inez, meskipun sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin Narendra bicarakan dengan Inez.   Inez kembali meletakkan ponselnya di nakas, lalu kembali memejamkan matanya. Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi, karea itulah ia ingin segera tidur, agar ia tidak lagi merasakan pusing.    Inez meminta agar Arsa pergi, tapi sampai saat ini Arsa masih berada di apartemen Inez. Saat ini Arsa sedang berada di dapur, membuat bubur untuk Inez.   Arsa tidak akan pulang, karena malam ini ia akan menemani Inez. Arsa akan tidur di kamar yang berada di samping kamar Inez.   30 menit sudah berlalu, dan Arsa baru saja selesai membuat bubur. Bubur yang ia buat tidak banyak, karena itulah tidak membutuhkan waktu lama untuk memasaknya.   Arsa segera menghidangkan bubur yang baru saja ia buat ke dalam mangkuk, tak lupa untuk menambahkan toping di atasnya.   Arsa juga membuat teh madu, minuman yang selalu Inez minum jika Inez sedang sakit.   Setelah menaruh mangkuk dan gelas di atas nampan, Arsa pergi menuju kamar Inez.   Sebelum memasuki kamar Inez, Arsa terlebih dahulu mengetuk pintunya, dan tanpa menunggu jawaban dari Inez, Arsa membuka pintu kamar.   Inez yang memang belum tertidur sontak menoleh, terkejut saat melihat Arsa yang kini memasuki kamarnya. Ia pikir, Arsa sudah pulang, tapi ternyata Arsa masih berada di apartemennya. Sekarang ia menyesal karena tidak mengunci pintu kamar.   "Ayo makan dulu, aku buat bubur untuk kamu." Arsa meletakkan nampan yang ia bawa di nakas, lalu duduk di samping kanan Nesya.   "Aku sudah makan dan minum obat, jadi aku enggak lapar." Dengan lirih, Inez menolak untuk memakan bubur buatan Arsa. Inez kembali memejamkan matanya, dalam hati berdoa agar Arsa segera pergi keluar dari kamarnya.   "Jangan berbohong, aku tahu kalau kamu belum makan ataupun minum obat." Arsa bersedekap, tak lupa untuk memberi Inez tatapan tajam.   Mata Inez yang sejak tadi terpejam akhirnya terbuka begitu mendengar ucapan Arsa. "Kamu tahu dari mana?" tanyanya dengan mata memicing penuh curiga.   "Tadi aku sudah menghubungi asisten kamu di butik, dan dia bilang kalau kamu sama sekali belum makan sejak tadi sore. Itu artinya kamu juga belum minum obat." Saat tadi Inez memasuki kamar, ia langsung menghubungi asisten Inez, mengajukan banyak sekali pertanyaan.   Inez mengangguk, membenarkan ucapan Arsa. Sejak tadi sore ia memang belum makan, dan ia juga belum minum obat. Tadi ia terpaksa berbohong pada sang Ayah, karena ia tidak mau membuat Ayahnya khawatir.   "Sekarang ayo bangun dulu, biar aku suapi."   Inez ingin sekali menolak untuk makan, tapi ia yakin kalau ia menolak, maka Arsa pasti akan mengadu pada Ayahnya. Mau tak mau, Inez bangun dari tidurnya, lalu duduk dengan punggung bersandar.   Inez ingin makan sendiri, tapi Arsa malah memaksa ingin menyuapinya. Inez sedang malas berdebat dengan Arsa, karena itulah Inez memilih untuk menurut.   Selesai makan, Arsa memberi Inez obat. Inez tentu saja bertanya, dari mana Arsa mendapatkan obat tersebut? Arsa bilang, tadi sebelum membuat bubur, Asra terlebih dahulu pergi ke apotek untuk membeli obat.   Untuk kesekian kalinya Inez merasa bersyukur, bersyukur karena Arsa begitu padanya.   Arsa meminta agar Inez istirahat. Arsa juga memberi tahu Inez kalau ia akan menginap di apartemen Inez, dan akan tidur di kamar yang berada di samping kamar Inez. Jadi jika Inez butuh sesuatu, Inez bisa menghubunginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD