Bab 1 : Ketika Hidup Dihentikan

2011 Words
Tidak ada yang pernah mengajarkan Gina Chandiramani bagaimana caranya menghadapi hidup yang tiba-tiba berhenti. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ritme yang jelas. Bangun pagi, bekerja di gedung tinggi dengan nama besar EY menyelesaikan laporan, memenuhi tenggat, dan pulang dengan rasa lelah yang terasa sah. Hidupnya rapi. Terukur. Setidaknya, tampak begitu. Sampai suatu hari, semua itu berhenti tanpa aba-aba. Ia dirumahkan. Bukan karena kesalahan. Bukan karena kegagalan. Hanya karena keadaan. Email itu singkat, formal, dan dingin. Kalimat-kalimatnya tidak menyebutkan perasaan, seolah keputusan besar itu tidak akan meninggalkan bekas apa pun. Gina membacanya berulang kali, berharap menemukan makna lain di antara baris-barisnya. Tidak ada. Sejak hari itu, pagi-pagi Gina menjadi sunyi. Tidak ada laptop kantor yang harus dinyalakan. Tidak ada gedung kaca yang harus didatangi. Dan yang paling menyakitkan tidak ada peran yang harus ia jalani. Ia tidak diperbolehkan kembali ke kerja kantoran saat itu. Dunia seolah berkata: berhenti dulu. Masalahnya, Gina tidak tahu bagaimana caranya berhenti tanpa kehilangan diri sendiri. Hari-hari awal terasa seperti libur yang terlalu panjang. Namun perlahan, rasa jenuh berubah menjadi kegelisahan. Ia mulai mempertanyakan hal-hal yang dulu tidak pernah ia sentuh. Jika ia bukan akuntan EY, lalu siapa dirinya? Gina menyadari betapa besar hidupnya selama ini bertumpu pada satu identitas. Pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, ia adalah definisi diri. Dan ketika itu diambil darinya, yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tidak ia pahami. Mentalnya runtuh bukan karena tekanan kerja, melainkan karena ketiadaan arah. Di tengah kebingungan itu, Gina mengambil keputusan-keputusan kecil yang bahkan tidak ia rencanakan jauh-jauh hari. Ia mendaftar sekolah menjahit Elmodista. Bukan karena ingin menjadi desainer. Bukan pula karena rencana karier baru. Ia hanya ingin melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan masa lalunya. Di ruang kelas itu, ia duduk bersama orang-orang yang tidak mengenalnya sebagai “mantan Big Four”. Tidak ada CV. Tidak ada jabatan. Hanya kain, benang, dan kesalahan-kesalahan kecil yang boleh terjadi. Tak lama kemudian, ia juga mengambil sekolah bahasa Korea selama enam bulan. Ia ingin kembali menjadi pemula. Mengucapkan kata dengan salah. Tertawa karena keliru. Menjadi seseorang yang tidak harus terlihat pintar setiap waktu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gina mengizinkan dirinya tidak tahu. Namun di balik semua itu, satu perasaan terus mengikuti: kehilangan. Bukan kehilangan pekerjaan. Melainkan kehilangan jati diri. Ia sadar bahwa ia tidak sedang mencari pelarian. Ia sedang mencari dirinya yang entah tertinggal di mana di antara ambisi, tuntutan, dan identitas yang terlalu lama ia pegang. Gina belum tahu ke mana hidupnya akan berjalan setelah ini. Ia belum tahu bahwa suatu hari nanti ia akan duduk di bangku kuliah lagi, mengambil jalur yang sama sekali berbeda. Yang ia tahu saat itu hanyalah satu hal: jika ia terus bertahan pada identitas lamanya, ia tidak akan pernah menemukan dirinya yang utuh. Dan mungkin, hidup memang kadang harus dihentikan sementara agar seseorang berani memulai ulang di luar neraca yang lama ia kenal. _____ Cerita dimulai saat hari pertama masuk kelas menjahit. Ruang kelas Elmodista tidak menyerupai ruang belajar yang pernah Gina kenal. Tidak ada layar besar. Tidak ada grafik. Tidak ada target yang harus dicapai sebelum jam tertentu. Yang ada hanya meja-meja kayu, mesin jahit yang berbaris rapi, gulungan kain dengan warna-warna lembut, dan benang-benang tipis yang tampak rapuh namun justru itulah yang menyatukan segalanya. Pada hari pertamanya, Gina duduk di sudut ruangan. Tangannya kaku, seolah lupa bagaimana caranya bekerja tanpa keyboard. Ia merasa asing berada di tempat ini, mengenakan pakaian sederhana, tanpa ID card, tanpa titel yang menjelaskan siapa dirinya. Di sini, tidak ada yang peduli ia pernah bekerja di EY. Tidak ada yang menanyakan masa lalunya. Mentor kelas itu dipanggil Bu Rani perempuan paruh baya dengan suara tenang dan mata yang sabar. Ia tidak berbicara terburu-buru. Setiap instruksinya diucapkan perlahan, seolah memberi waktu bagi semua orang untuk bernapas. “Menjahit itu bukan soal cepat,” katanya suatu pagi. “Ini soal sabar.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat Gina terdiam. Bu Rani mengajarkan dasar-dasar yang tampak remeh: cara memegang jarum, mengenali arah serat kain, memilih benang yang tepat. Tidak ada istilah benar atau salah yang ada hanya cocok atau tidak. Saat Gina pertama kali mencoba menjahit lurus, hasilnya berantakan. Jahitannya melenceng, benangnya kusut, dan kainnya tertarik tidak seimbang. Refleks lamanya muncul: ingin membongkar, memperbaiki, menyempurnakan. Namun Bu Rani menghentikannya. “Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Benang bisa dilepas. Kain tidak perlu disalahkan.” Gina menatap jahitan yang gagal itu lama. Ia baru sadar betapa jarangnya ia mendengar kalimat tidak apa-apa ditujukan padanya tanpa syarat, tanpa evaluasi. Hari-hari berikutnya, ia mulai menyukai ritme kelas itu. Suara mesin jahit yang konsisten. Bau kain baru. Percakapan ringan antar murid yang tidak saling membandingkan pencapaian. Tidak ada siapa yang unggul. Tidak ada siapa yang tertinggal. Semua orang belajar dengan kecepatannya sendiri. Gina mulai memperhatikan benang-benang di hadapannya. Tipis, mudah putus, tampak tidak berarti. Namun ketika ditarik dengan sabar dan dijahit dengan benar, benang itulah yang menyatukan potongan-potongan kain menjadi sesuatu yang utuh. Ia merasa seperti melihat dirinya sendiri. Selama ini, ia mengira kekuatannya ada pada struktur, angka, dan ketepatan. Namun di kelas menjahit itu, ia belajar bahwa ada kekuatan lain yaitu ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk melanjutkan meski pernah putus. Setiap kali benang terlepas, Bu Rani selalu berkata hal yang sama: “Ulangi dari titik terakhir. Tidak perlu kembali ke awal.” Kalimat itu menempel di kepala Gina lebih lama dari yang ia kira. Mungkin hidup juga begitu. Putus di satu bagian tidak berarti gagal seluruhnya. Perlahan, jahitan Gina membaik. Tidak sempurna, tapi jujur. Tangannya mulai hafal gerakan. Pikirannya mulai tenang. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia pulang dari sebuah kelas tanpa rasa lelah yang dirasa hanya rasa penuh yang sunyi. Di Elmodista, Gina tidak sedang belajar menjadi penjahit. Ia sedang belajar menyambung dirinya sendiri. Dengan benang yang sederhana. Dengan kesalahan yang diperbolehkan. Dengan kesabaran yang tidak pernah ia berikan pada dirinya dulu. Dan di antara jarum, kain, dan jahitan yang tidak selalu lurus, Gina mulai percaya bahwa jati diri yang hilang itu tidak benar-benar lenyap. Ia hanya menunggu untuk disambung kembali. ⸻ Bu Rani jarang bertanya tentang kehidupan murid-muridnya. Ia tidak pernah menanyakan pekerjaan, status, atau alasan seseorang duduk di kelas menjahit. Namun entah bagaimana, ia selalu tahu kapan seseorang datang dengan hati yang penuh, dan kapan dengan hati yang retak. Gina datang dengan yang kedua. Suatu sore, kelas hampir usai ketika Bu Rani mendekatinya. Gina masih berusaha merapikan jahitan yang kembali melenceng, wajahnya tegang, napasnya pendek seperti sedang menghadapi tenggat yang tidak terlihat. “Kenapa kamu marah sama kainnya?” tanya Bu Rani pelan. Gina terkejut. “Aku tidak marah,” jawabnya cepat, refleks lama yang sulit dilepas. Bu Rani tersenyum tipis. “Orang yang tidak marah tidak menjahit sekeras itu.” Kalimat itu tidak menghakimi. Hanya jujur. Gina menurunkan tangannya. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia terbiasa menjelaskan segalanya dengan logika, namun perasaan tidak pernah semudah itu dirapikan. “Aku terbiasa benar,” akhirnya Gina berkata lirih. “Kalau salah, rasanya seperti gagal.” Bu Rani mengangguk, seolah sudah mendengar pengakuan itu berkali-kali dari orang yang berbeda, dengan cerita yang serupa. “Kalau begitu,” katanya sambil menunjuk jahitan Gina, “menjahit akan mengajarkan kamu hal yang paling kamu hindari.” “Apa?” tanya Gina. “Bahwa salah itu bukan akhir.” Sejak hari itu, Bu Rani mulai memberi Gina perhatian kecil yang tidak mencolok. Ia tidak memanjakannya, tidak juga menekannya. Ia hanya hadir cukup dekat untuk mengamati, cukup jauh untuk memberi ruang. Sesekali, Bu Rani bercerita tentang dirinya. Tentang masa muda yang tidak selalu lurus. Tentang keputusan-keputusan yang tampak salah di mata orang lain, tapi justru menyelamatkannya. Ia tidak pernah menggurui. Ia hanya berbagi, seperti seseorang yang pernah jatuh dan bangkit tanpa merasa perlu membuktikan apa pun. “Tidak semua hidup harus lurus,” katanya suatu hari. “Yang penting, kamu tahu ke mana mau menyambung.” Suatu kali, benang Gina benar-benar putus saat ia menariknya terlalu keras. Ia terdiam, menatap ujung benang yang terpisah, dadanya tiba-tiba terasa sesak seperti reaksi yang berlebihan untuk sesuatu yang sepele. Bu Rani mengambil benang baru, menyerahkannya pada Gina. “Kalau benang putus, jangan menyalahkan tanganmu,” katanya. “Mungkin kamu menariknya saat belum siap.” Gina menelan ludah. Ia merasa kalimat itu tidak sepenuhnya tentang benang. “Aku dulu akuntan,” ucapnya tiba-tiba. “Di kantor besar. Semua serba cepat. Serba benar.” Bu Rani tidak tampak terkejut. “Dan sekarang?” “Sekarang aku tidak tahu aku siapa.” Bu Rani terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Itu berarti kamu sedang jujur. Banyak orang tidak pernah sampai ke titik itu.” Kalimat itu tidak menyelesaikan apa pun. Namun entah kenapa, Gina merasa sedikit lebih ringan. Di kelas menjahit itu, Bu Rani bukan hanya mentor. Ia menjadi saksi—seseorang yang melihat Gina apa adanya, tanpa masa lalu yang harus dibela, tanpa masa depan yang harus dijanjikan. Bagi Gina, itu cukup. Ia mulai menunggu hari-hari ke Elmodista bukan karena ingin mahir menjahit, melainkan karena ada satu tempat di mana ia boleh belajar tanpa harus unggul, dan boleh diam tanpa harus menjelaskan. Dan di antara benang yang sering putus dan jahitan yang perlahan membaik, Gina menyadari sesuatu yang sederhana namun menguatkan: kadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah arah, melainkan seseorang yang berkata, tidak apa-apa jika kamu belum tahu ke mana. ⸻ Hari Terakhir di Elmodista Hari terakhir itu datang tanpa terasa. Tidak ada spanduk. Tidak ada perayaan. Ruang kelas Elmodista tetap sama seperti hari pertama Gina datang ada meja kayu yang penuh bekas jarum, mesin jahit yang berdengung pelan, dan gulungan kain yang tertata rapi di sudut ruangan. Namun Gina tahu, ini bukan hari biasa. Di hadapannya tergeletak potongan kain terakhir yang ia jahit sendiri. Bukan karya yang istimewa. Jahitannya masih belum sempurna, garisnya sedikit melenceng di beberapa bagian. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menyembunyikan ketidaksempurnaan itu. Ia justru membiarkannya ada. Bu Rani berdiri di tengah kelas, memeriksa satu per satu hasil muridnya. Tidak ada penilaian. Tidak ada angka. Hanya anggukan kecil dan senyum yang tulus. Saat tiba di meja Gina, Bu Rani berhenti lebih lama. “Kamu sudah lebih pelan sekarang,” katanya. Gina tersenyum kecil. “Bukan karena lebih bisa,” jawabnya, “tapi karena sudah tidak terlalu takut salah.” Bu Rani mengangguk. “Itu kemajuan yang jarang kelihatan, tapi paling penting.” Kelas hari itu berlangsung hening. Mesin jahit tetap berbunyi, namun tidak tergesa. Setiap orang seolah tahu bahwa ini adalah pertemuan terakhir, dan memilih untuk menyimpannya dalam diam. Saat waktu hampir habis, Bu Rani mematikan mesin jahit terlebih dulu. Suara dengung itu berhenti, meninggalkan keheningan yang terasa lebih luas dari biasanya. “Sebelum kalian pulang,” katanya, “saya mau bilang satu hal.” Semua murid menoleh. “Menjahit tidak selalu tentang kain,” lanjutnya. “Kadang ini tentang menyambung diri sendiri. Kalau suatu hari kalian berhenti menjahit, saya harap kalian tetap ingat caranya menyambung bukan merobek.” Gina menunduk. Tenggorokannya mengeras. Setelah kelas selesai, satu per satu murid berpamitan. Pelukan singkat. Senyum canggung. Janji yang tidak semua akan ditepati. Ruang kelas perlahan kosong. Gina membereskan mejanya lebih lambat dari biasanya. Bu Rani mendekatinya, lalu meletakkan gulungan benang kecil di atas meja. Warnanya abu-abu muda tidak mencolok, tidak berani, tapi tenang. “Untuk kamu,” kata Bu Rani. Gina menggeleng pelan. “Saya belum pantas dapat ini.” Bu Rani tersenyum. “Ini bukan hadiah karena kamu paling rapi. Ini pengingat.” “Pengingat apa?” “Bahwa kamu pernah bertahan, meski benangmu putus.” Gina menggenggam gulungan benang itu. Kecil. Ringan. Namun rasanya lebih berat dari apa pun yang pernah ia bawa pulang dari kantor lamanya. Di ambang pintu, Gina berhenti dan menoleh. “Bu… kalau suatu hari saya benar-benar bingung lagi?” Bu Rani menjawab tanpa ragu, “Berarti kamu masih hidup.” Gina tertawa kecil, hampir menangis. Ia melangkah keluar dari Elmodista sore itu tanpa rasa kehilangan. Yang ia rasakan justru kesiapan yang sunyi seperti seseorang yang akhirnya berdiri sendiri tanpa merasa sendirian. Menjahit telah selesai. Namun pelajarannya tinggal. Dan di dalam tasnya, gulungan benang kecil itu menjadi saksi: bahwa Gina Chandiramani pernah belajar menyambung dirinya sendiri dan kini, siap melangkah ke benang yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD