SELAMAT MEMBACA
Auris serta Alexis telah mempersiapkan diri untuk pergi ke Distrik Avanuela. Mereka telah menunggu Liam sekitar satu jam, tapi tidak ada tanda-tanda Liam akan segera tiba, hingga akhirnya Ansei datang menemui mereka. Mereka mengerutkan keningnya ketika melihat Ansei memakai pakaian penyamaran seperti mereka.
"Kemana Yang Mulia? Lalu kenapa pakaianmu seperti kami?" tanya Alexis pada Ansei.
"Yang Mulia tidak bisa ikut. Hari ini putri bangsawan vampir yang setara dengannya datang," kata Ansei.
Auris menolehkan kepalanya untuk melihat Alexis yang tiba-tiba mengembuskan napas kasar, " Ternyata putri yang tergila-gila pada Yang Mulia."
Auris menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti.
"Sudahlah, lebih baik kita berangkat," kata Ansei.
"Bagaimana dengan Yang Mulia, tanpa salah satu dari kita menemaninya?" tanya Auris.
"Tenang saja Eliot, Yang Mulia mempercayakan hal ini pada kita bertiga, maka dari itu dia tidak membutuhkan kita disisinya," jelas Alexis dan mereka bertiga mulai meninggalkan istana.
Mereka menunggangi kuda dan menyusuri jalan yang akan membawa mereka pada Distrik Avenuela. Kali ini mereka telah memasuki hutan-hutan.
Sejujurnya Auris masih penasaran dengan putri yang Alexis serta Ansei maksud, jadi lebih baik bertanya ketimbang hanya mendengar suara sepatu kuda.
"Sebenarnya siapa putri yang kalian maksud tadi?" tanya Auris.
Alexis ingin menjawab namun Ansei lebih dulu berbicara hingga membuat Alexis memanyunkan bibirnya.
"Namanya adalah Zeline Leteshia. Dia adalah putri bangsawan Oeslarc. Banyak rumor yang mengatakan bahwa Zeline adalah sosok yang amat cantik serta putri bangsawan yang memiliki kekuatan sangat luar biasa. Namun, ketika kami melihatnya datang pada bulan lalu, wajahnya biasa saja."
"Benarkah? Sehebat apa dia?" tanya Auris, ia jadi penasaran dengan Zeline. Sehebat apa dia hingga dijuluki putri bangsawan yang luar biasa.
"Dia mampu menyaingi kekuatan Yang Mulia." kata Alexis.
Ansei menggeleng, " Tidak. Itu hanya rumor! Kenyataanya, Yang Mulia pernah mengajak Zeline berduel, dan hasilnya kekuatan putri itu setara dengan Alexis. Lumayan hebat namun tidak setanding Yang Mulia," jelas Ansei.
Auris mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Lalu kembali fokus pada perjalanannya.
" Tapi, yang lebih mencuri perhatian adalah putri bangsawan bertopeng dari bangsawan Ortheanix," kata Ansei yang sukses membuat Alexis serta Auris menatapnya.
"Kenapa begitu?" tanya Auris.
"Oh aku lupa bahwa ada kakaknya disini," kata Ansei terkekeh kecil.
"Kenapa dengan adikku?" tanya Auris sesantai mungkin, ia tidak ingin dicurigai.
"Maaf sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu," kata Ansei.
Alexis berdecak, " Katakanlah sebelum aku memukul kepalamu, Ansei!"
Auris menaikkan sebelah alisnya, seharusnya dia yang berbicara seperti itu. Ansei menaikkan sebelah alisnya pada Alexis.
"Kenapa kau yang mengebu-ngebu?"
"I-itu karena adik kakak ipar adalah wanita yang ku sukai! Aku hanya ingin tahu kenapa dia mencuri perhatian!" seru Alexis dengan daun telinga memerah dan Auris menahan senyum melihat ekspresi Alexis, ternyata seorang pria yang sudah dewasa seperti Alexis bisa menujukkan ekspresi anak-anak yang sedang tersipu malu.
Ansei menghela napas sembari memutar bola matanya malas. Ia kemudian menatap Auris dengan serius. Mereka mengisi keheningan hutan dengan gosip yang berkualitas.
"Aku yang saat itu mengendap-endap tidak sengaja mendengar hal ini dari mulut para bangsawan kerajaan. Mereka membicarakan tentang pembataian yang terjadi pada keluarga Qwera. Dan saat itu beberapa saksi mata mengatakan bahwa seorang wanita bertopeng dari keluarga bangsawan datang saat itu dan setelahnya pembantaian terjadi, kemudian mereka mencurigai putri dari bangsawan Ortheanix sebab hanya dia yang menggunakan topeng dan dikenal memiliki kekuatan hebat."
Auris hanya diam setelah mendengar alasannya.
Alexis menautkan alisnya, " Keluarga Qwera? Aku baru mendegarnya."
Auris yang diam kini angkat bicara untuk menjawab pertanyaan Alexis. " Keluarga Qwera adalah vampir bangsawan yang mengagap dirinya paling berkuasa hingga menindas banyak vampir biasa. Keluarga Qwera membuat masalah dengan meneror vampir biasa serta menjadikan mereka budak." jelas Auris.
"Jadi, apakah benar Auris melakukannya?" tanya Alexis pada Auris.
Auris menyunggingkan senyum bangga kala pertanyaan itu meluncur.
"Ya, dia melakukannya," jawab Auris.
"Eliot hentikan senyuman mu itu, kau membuatku sedikit merinding," protes Ansei yang melihat senyum Auris yang menurutnya cukup menyeramkan, seperti psikopat.
Auris tertawa melihat reaksi Ansei, sedangkan pria itu tertegun sembari mengedipkan matanya berkali-kali. Ansei menggeleng kuat kemudian menatap lurus ke depan. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Ia benar-benar menjadi gila.
Mereka menghentikan perbincangan itu dan memilih melanjutkan perjalanannya. Selama di perjalanan Ansei dan Auris banyak berbicara sedangkan Alexis tengah memikirkan tentang pembataian tadi serta jawaban dari Auris. Jika keluarga Qwera masih bangsawan, berarti Auris sangat kuat hingga mampu membantai hanya seorang diri.
Alexis melihat Auris dengan lekat. " Aku harus memastikan sesuatu."
****
Distrik Avanuela, sore hari.
Sebuah Kondotel dengan tiga buah kamar telah ditempati oleh Alexis, Ansei serta Auris. Perjalanan menuju Distrik Avanuela begitu panjang, hingga mereka sampai saat sore hari.
Auris segera memasuki kamar mandi dalam kamarnya untuk membersihkan diri, berbeda dengan Alexis yang memilih terkapar diatas kasurnya sedangkan Ansei pergi keluar.
Dalam kamar mandi terdapat bak mandi yang bagus serta cermin dengan wastafel. Auris melepas wignya. Ia menghela napas berat saat berdiri di depan cermin, matanya melihat lingkaran merah pada ujung dahinya akibat wig yang selalu ia pakai. Rambutnya ia gerai begitu saja kemudian melangkah mendekati bak mandi yang telah ia isi air hangat. Auris mengembuskan napasnya lagi, tangannya terulur ke atas.
"Kakak, aku harap kau tahu kondisiku saat ini," kata Auris sedih.
Menyamar menjadi lelaki membuatnya selalu ketakutan bahkan tidak bisa bergerak bebas. Sejak menyamar menjadi Eliot, banyak urusan yang telah ia abaikan, misalnya mengunjungi anak-anak yatim piatu diperkotaan-perkotaan.
"Eliot, apakah mandimu masih lama?" suara Alexis menyahut dari luar hingga Auris panik dan cepat menyelesaikan mandinya.
"Ada apa?" tanya Auris dari dalam dengan suara keras.
"Ansei baru saja membeli makanan, kami menunggumu," kata Alexis dari luar.
"Aku sebentar lagi selesai, kau boleh keluar," kata Auris.
"Baiklah," kata Alexis kemudian melenggang pergi.
Auris menyambar handuknya, " Aku lupa mengunci pintu!" kata Auris.
Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, memastikan Alexis sudah tidak ada di kamarnya. Merasa aman, Auris berlari kecil ke arah pintu dan menguncinya. Kemudian ia segera memakai pakaian dan turun ke bawah.
Mereka memakan makanan serba daging. Ah, mereka tidak meminum darah sebab tidak terlalu dibutuhkan. Vampir memang lebih sering berkaitan dengan darah dalam hal makanan. Namun, mereka vampir yang berbeda, mereka hidup sama seperti manusia pada umumnya. Vampir bisa kedinginan, gerah, demam dan hal lainnya yang biasa terjadi pada manusia, perbedaanya hanya pada kekuatan yang mereka miliki. Mereka yang mementingkan hawa nafsunya mungkin akan mengkonsumsi darah setiap saat atau mungkin setiap hari. Mereka yang belum memiliki kekasih ataupun istri dianjurkan meminum darah hewan namun ada juga yang melanggar hal tersebut dengan meminum darah sesamanya secara paksa.
Mereka menyelesaikan acara makan tersebut kemudian saling berbincang tentang rencana yang akan mereka lakukan besok. Seharusnya hari ini, namun mereka malah sampai sore hari.
Auris menatap keluar jendela, ternyata sudah malam, tidak terasa.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Alexis hingga Auris menatapnya.
Ansei mengerenyitkan dahinya, ia berpikir keras.
"Bagaimana jika kita berkeliling lebih dulu di Distrik ini?" usul Ansei.
"Aku setuju," jawab Auris.
"Bukankah seharusnya kita menemui Kepala Wilayah Distrik Avanuela?" kata Alexis.
Auris menatap datar kedua orang milik Liam ini. Seharusnya Liam memikirkannya matang-matang sebelum mengutus dua orang ini. Jika rencana dari tugas ini saja tidak jelas, bagaimana mau berhasil?
"Kita akan mengunjungi Kepala Wilayah, setidaknya besok kita lebih menghemat waktu dan tenaga," jelas Auris dan akhirnya kedua pria tersebut menyetujuinya.
Mereka keluar dari Kondotel. Para gadis yang bekeliaran disana, termangu melihat tiga pria tampan baru saja keluar dari Kondotel.
"Ketampananku seperti bercahaya di malam hari," bisik Alexis pada Ansei.
Ansei memutar bola matanya malas. Sedangkan Auris memilih memperhatikan hal sekitarnya.
WUSH!
Alexis tersentak, ekor matanya tidak sengaja melihat bayangan hitam melintas cepat di beberapa sudut yang agak gelap. Sedangkan Ansei merasakan aura yang cukup kuat mendekat memasuki Distrik Avanuela.
"Sial! Aku merasakan akan ada penyerangan secara diam-diam!" kata Alexis pada Ansei serta Auris.
"Mereka dalam jumlah banyak," kata Auris.
"Salah satu dari mereka ada yang sangat kuat, bagaimana ini?" tanya Ansei.
Auris tahu bahwa Ansei tidak terlalu hebat dalam betarung, ia menepuk kedua pundak Ansei.
"Pergilah temui kepala wilayah, bahwa ada penyerangan. Mereka pasti mengincar dia, kami akan menangani mereka!" kata Auris sembari menatap Alexis.
BUM! AAAAAA!
Ledakan besar langsung terdengar dan posisi itu tidak jauh dari mereka, teriakan-teriakan menggema, mereka berlarian, berbeda dengan beberapa bangsawan yang diam untuk melihat apa yang tengah terjadi. Auris terkejut melihat seorang pria bertopeng berdiri disana, matanya menatap seluruh bangsawan, tangannya memegang sebuah senjata yang mampu melukai vampir bangsawan.
Auris tersenyum penuh kemenangan tatkala mata pria dibalik topeng tersebut menghujam hazelnya. Tentu saja, sebab kekuatannya yang paling terasa kuat disana.
"Ansei pergilah, dan Alexis temani Ansei. Aku yakin beberapa dari mereka telah menuju kediaman Kepala Wilayah Distrik."
"Bagaimana denganmu?" tanya Alexis.
Auris menampilkan senyum mengerikannya kemudian pada tangan kanannya muncul sebuah belati kecil.
"Ini hanya masalah kecil, pergilah sebelum pimpinan mereka tiba."
Alexis serta Ansei bergidik ngeri. Ekspresi dan hawa pembunuh milik Auris sangat mirip dengan Liam ketika melihat musuh. Mereka juga tidak boleh lupa bahwa orang dihadapan mereka adalah bangsawan tingkat satu dari keluarga Ortheanix.
"Kami menunggumu disana," kata Alexis kemudian menarik Ansei menjauh.
Auris yang melihat Alexis telah menjauh, kini mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
"Mari saling bertarung dengan memakai topeng," kata Auris dengan senyum angkuh, Ia kini memasang topeng yang selalu ia kenakan. Identitasnya adalah putri bertopeng, dan ia tidak akan melupakannya.
BERSAMBUNG...