Setelah berpisah dengan Abella, Chiara memutuskan kembali ke hotel. Dia merasa energi sosialnya habis dan ingin menghabiskan waktu untuk menonton sambil nyemil saja.
Sejak semalam, mood Chiara berantakan karena tiba-tiba muncul perasaan tidak tenang setiap melakukan sesuatu, dia merasa akan terjadi hal-hal yang membuat hatinya sedih. Namun, karena ini liburan mereka yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, Chiara berusaha menikmatinya.
Tiba di depan pintu kamarnya, Chiara disambut oleh buket lily yang cukup besar.
"Lagi?" Chiara mengambil buket itu keheranan.
Bahkan saat dia tiba di hotel kemarin, bunga lily sudah menyambutnya. Mungkin yang pertama hanya kebetulan, sebagai sambutan dari orang hotel karena mereka memesan salah satu kamar yang cukup besar dengan vasilitas terbaik. Tapi, bagaimana dengan hari ini?
Tidak ada surat, catatan kecil, maupun nama toko bunga yang bisa Chiara temukan untuk mengetahui dari mana asalnya bunga ini.
Saat masuk ke dalam, Chiara langsung menuju kamarnya. Dia sedikit kesusahan membuka pintu karena kedua tangannya penuh dengan barang bawaan.
Suara klik dari pintu terdengar lembut, tapi yang menunggu di baliknya bukan keheningan seperti biasanya.
Aroma alkohol samar langsung menyeruak, membuat langkah Chiara mendadak terhenti sebelum sempat masuk sepenuhnya.
Cahaya lampu kamar temaram, membuat Chiara tidak menyadari jika ada seseorang di sana. Pria bertubuh besar dengan dadaa bidang duduk santai di sofa dengan satu kaki disilangkan, sebotol minuman di tangan, dan tatapan yang terlalu familiar untuk dilupakan.
Lucan.
Dia benar-benar di sana.
Bunga lily dan belanjaan yang tadi Chiara tenteng terlepas begitu saja. Bunyi berisik dari kaleng minuman, buah yang berjatuhan, hingga beberapa di antaranya menggelinding pelan sampai menyentuh ujung sepatu Lucan.
Wajah tenang dan tatapan tajam itu entah kenapa langsung membuat jantung Chiara seperti ditusuk dari dalam.
Lucan menunduk sekilas, lalu menatap Chiara lagi sambil tersenyum miring.
"Are you okay, Babe?"
Suara itu rendah, berat, dan terlalu santai untuk situasi seaneh ini.
Chiara mematung, tangannya gemetar memegang gagang pintu. Dia bahkan sempat berpikir otaknya sedang mempermainkannya, semacam halusinasi karena mimpi waktu itu belum sepenuhnya hilang.
Tapi detik berikutnya, Lucan meneguk minumannya pelan, menghembuskan napas panjang, seolah sedang menikmati pertunjukan kecil ini.
"Apa—" Suara Chiara terkecat, nyaris tak keluar, "Apa yang kamu lakuin di sini?"
Lucan mengangkat alis, menatapnya dengan tatapan intimidasi tapi berusaha lebih tenang.
"Menunggu kamu," jawab Lucan enteng. "Anggap saja ini kejutan kecil dari saya. Kamu suka?"
Chiara menggeleng, tatapannya was-was takut Lucan melakukan sesuatu yang tak terduga lainnya.
"Pergi dari sini sekarang juga!" Chiara menggeram, meski tubuhnya tak berhenti bergetar. Entah bagaimana Lucan bisa masuk ke kamarnya, pria ini benar-benar gilaa—batin Chiara.
Lucan terkekeh pelan, meletakkan botolnya di meja.
"Terlambat. Sekali saya datang, tidak ada jalan pulang. Bukannya kamu yang ingin bertemu saya? Hari ini, saya kabulkan."
Ketika Lucan berdiri, bayangan tubuhnya menutupi cahaya dari lampu gantung kecil. Gerakan Lucan tenang, tapi aura di sekitarnya penuh tekanan tak kasat mata.
Chiara mundur refleks, punggungnya langsung menabrak pintu hingga tertutup rapat.
"Apa mau kamu?!" Air mata mengambang di pelupuk, Chiara tidak bisa menutupi ketakutannya.
"Tenang, Sayang," potong Lucan dengan nada dingin tapi berbahaya. "Kenapa gemetaran begini, huh? Dari tadi saya belum melakukan apapun." Lucan merendahkan tubuh dan mencondongkan wajah ke hadapan Chiara.
Lucan mengusap pelan rambut Chiara, menatap wanita itu lekat-lekat. Sungguh, dia sangat merindukannya.
"Kenapa nangis? Saya semenakutkan itu?"
Suasana hening.
Hanya suara jam dinding berdetak, dan detak jantung Chiara yang terasa terlalu keras di telinganya.
"Pergi, aku nggak mau kamu di sini. Tinggalin aku, dan jangan pernah muncul lagi."
"Kamu yang minta saya datang."
Chiara menggeleng, menepis tangan Lucan yang akan menyentuh untuk menyeka air matanya. Chiara tidak ingin menangis, tapi sialnya rasa cemas membuat air matanya lolos.
Lucan mengambil buket lily yang tergeletak tak jauh dari kakinya. "Suatu saat, bawa aku ketemu sama pengirim kalian, ya?" ucap Lucan mengulang satu kalimat yang sangat familiar di telinga Chiara.
"Enggak. Nggak mungkin!" Chiara membuang buket itu dan berniat kabur.
"Mau ke mana?"
Tetapi gagal karena Lucan bergerak lebih cepat untuk menahan pintu. Sekarang, jarak mereka sangat dekat, Chiara sampai menutup matanya saking tak ingin melihat keadaan ini.
"Saya senang kamu baik-baik saja."
Chiara bedecak kasar, berusaha melepaskan diri, tetapi Lucan semakin menghimpit tubuhnya yang jauh lebih kecil.
"Lucan Fuckiing Maelric!" umpat Chiara ketika dadanya semakin sesak dan tidak bisa bergerak ke mana pun.
Lucan tertawa kecil. Ada perasaan senang ketika namanya disebutkan, setelah sekian lama. "Suara itu yang paling saya ingin dengar, Chiara. Coba panggil saya sekali lagi."
Chiara mengantup bibirnya rapat-rapat, dan memalingkan wajah. Dia masih berusaha mendorong Lucan meski hasilnya nihil. Dia tetap dihimpit, bahkan sekarang napas Lucan terasa begitu hangat di dekat telinganya.
Bulu kuduk Chiara sampai berdiri. Tubuhnya merespon dengan cepat setiap sentuhan kecil Lucan.
"J—jangan kayak gini."
"Beri tahu saya, saya harus bersikap seperti apa biar kamu tidak ketakutan." Lucan menarik pinggang Chiara, memenjara agar wanitanya tidak banyak menghindar. "Saya datang bukan untuk membunuh kamu. Jangan berlebihan.”
"Pergi. Aku mau kamu mati aja!"
Lucan terdiam beberapa saat, lalu memijat pelipisnya. "Nyawa saya banyak, Chiara. Mati satu, akan tumbuh sepuluh lagi. Besar juga nyali kamu minta saya mati."
Chiara mengangkat wajah, menatap Lucan. Tatapan itu didominasi dengan perasaan benci dan kecewa. Lucan tidak menemukan cinta lagi di sana.
"Aku benci kamu. Pergilah, dan jangan pernah datang lagi. Aku mohon."
Mendengar ucapan itu dilontarkan penuh emosi dan kebencian, Lucan melonggarkan jarak mereka. Dia membiarkan Chiara bernapas dulu.
"Aku tahu kamu bisa ngelakuin apapun, tapi tolong jangan hancurkan hidup aku lagi. Tinggalin aku, kayak terakhir kali kamu memutuskan untuk mengakhiri semuanya."
Kali ini, perasaan Lucan-lah yang kena. Ada sesuatu yang menghantam dadanya, susah sekali Lucan jelaskan. Dia tidak suka merasakan perasaan aneh ini, tetapi setiap kali bersama Chiara, semuanya terasa berbeda.
Saat punya kesempatan kabur dari kamar, Chiara keluar untuk menghindari Lucan. Dia tidak sanggup jika terus berlama-lama di sana.
Tatapan Lucan barusan cukup menyentuh ruang terdalam di hati Chiara. Dia tidak ingin merasakannya, apalagi sampai merasa iba.
Chiara menangis di ruang tengah sampai ketiduran, berharap ketika bangun nanti, semuanya akan baik-baik saja. Ini hanya mimpi buruk seperti yang biasanya terjadi saat pikiran Chiara sedang kacau.
***
"Sudah saya bilang, jangan pakai cara ini. Anda terlalu keras kepala!"
Lucan menjauhkan ponsel dari telinga, menggeram karena Taylor lancang mengomelinya terus-menerus.
Dia sedang duduk di dekat Chiara, setelah menyelimuti wanita itu. Tidurnya sangat lelap, sampai Lucan bingung harus melakukan apa. Pergi enggan—karena merasa belum puas, berlama-lama di sana pun tidak bisa. Mungkin sebentar lagi Abella akan datang.
"Apa saya menginap di sini saja? Saya akan bersembunyi di kamar Chiara tanpa sepengetahuan Abella."
"Anda bercanda?" Taylor mencebikkan bibir. "Nona Chiara yang akan melaporkan Anda ke pihak hotel. Anda itu penyusup, jangan pura-pura lupa."
"Tidak akan berani, saya jamin."
Taylor mendumel, "Susah bicara sama orang stress."
"Taylor, sekali lagi kamu mengatakan yang tidak-tidak, saya kembalikan kamu ke Jakarta."
"Akan lebih baik begitu saja. Saya lebih betah bersama Tuan Thorne, kewarasan saya terjaga."
Lucan memutuskan sambungan telepon mereka, melempar ponselnya ke ujung sofa saking kesalnya.
"Masih saja cengeng!" Lucan menatap wajah Chiara yang sembab, geleng-geleng. "Harusnya kamu sambut kedatangan saya dengan bahagia, bukan malah ketakutan."
"Saya jauh lebih tampan hari ini, daripada yang terakhir kali. Harusnya beri saya pelukan, bukan makian. Mulut kamu ini dari dulu, memang cuman enak buat ciuman."
Cukup lama memandangi Chiara, Lucan akhirnya memutuskan untuk pergi. Nanti akan dia pikirkan pertemuan selanjutnya tanpa membuat Chiara ketakutan.
Kali ini, anggap saja masih percobaan. Lucan tidak berbakat untuk menciptakan suasana romantis, alhasil bertindak sesuai yang ada di kepalanya saja.
Cukup lama setelah kepergian Lucan, benda pipih yang sempat dilempar ke sofa tadi berdering beberapa kali hingga mengganggu tidur Chiara.
Taylor is calling.
Saat akan Chiara angkat, panggilan terhenti, digantikan satu pesan yang muncul di layar terkunci.
Taylor: Lucan, masalah muncul lagi. Saya melihat ada seorang penguntit berbahaya di sekitar Anda. Apa sebaiknya langsung dilenyapkan saja?