Part 20

1132 Words
Waktu berlalu sangat cepat dan sudah tidak terasa pernikahan Fazio dan Sahara sudah melewati bulan pertama yang selalu dianggap bulan yang indah untuk pasangan baru. Tapi itu sepertinya sepenuhnya benar atau juga salah untuk mereka. Pernikahan mereka yang hasil dari sebuah perjodohan membuat keduanya harus lebih banyak mengenal satu sama lain terlebih dahalu. Jika diibaratkan dalam sebuah hubungan, mereka saat ini sudah seperti teman dekat yang bisa berbagi apapun. Perkembangan hubungan mereka mungkin bisa dikatakan cukup cepat karena kehadiran Rafali yang membuat keduanya lebih sering melakukan sesuatu bersama untuk mengurus si kecil. “Jadi gimana rasanya nikah, Mbak?” tanya Della, adik perempuan Sahara yang sedang membuat es jeruk. “Ya gitu,” jawab Sahara ambigu membuat Della menoleh. “Ya gitu gimana? Enak apa banyak sedihnya?” tanya Della yang penasaran. “Kayaknya semua rasa ada, Dell. Lengkap,” jawab Sahara yang mengingat satu bulan ke belakang. “Sedihnya karena Mbak harus pisah sama Umi, Abi dan kamu terus tiba-tiba tinggal sama pria yang belum banyak Mbak kenal,” tutur Sahara yang bercerita sambil memastika bakwan yang sedang digorengnya tidak gosong. “Untung aja Mas Zio tipe orang yang mudah gaul, jadi Mbak enggak canggung.” “Mas Zio emang tipe-tipe anak ibu kota yang kekinian, sih, Mbak,” angguk Della yang mengingat jika kakak iparnya itu selalu tampil keren. “Tapi Mbak, Mas Zio enggak ada jahatin Mbak kan? Soalnya Umi hampir tiap hari khawatir sama Mbak.” Sahara yang mendengarnya tersenyum walau hatinya sedikit tidak nyaman. Sang ibu nampaknya belum benar-benar menyukai suaminya. “Kamu tenang aja, Dell. Mas Zio orangnya baik kok. Yah, walaupun kadang-kadang bikin Mbak darah tinggi.” Sahara pikir, hanya butuh beberapa hari saja untuk tahu sifat asli Fazio. Tapi ternyata pria itu benar-benar luar biasa membuatnya mengelus d**a. Ada saja tingkah pria itu yang membuat Sahara kadang takjub melihatnya, seperti memasan banyak makanan online namun hanya mencoba beberapa saja membuat Sahara mau tak mau ikut membantu menghabisinya. Atau pria itu juga pernah menonton film yang dia sendiri sudah tahu bahwa pemeran utamanya tiada namun tetap menontonnya dan berakhir Sahara yang menenangkannya seharian. Selain itu Sahara juga baru tahu jika Fazio sangat menyukai film, pria itu malah sudah seperti perpustakaan film menurutnya. Sahara hanya perlu menyebutkan satu teman film yang ingin dia tonton dan Fazio akan merekomendasikannya dari yang di dalam nergi sampai luar negeri atau dari yang terburuk sampai terbaik. “Mas Fazio so sweet juga ya Mbbak,” ucap Della ketika mendengar jika Fazio pernah menggendong Sahara saat tertidur di sofa namun karena pria itu tidak terlalu kuat membuat mereka berdua jatuh. Sahara yang mendengar itu tertawa lagi. “Padahal sebenarnya bisa bangunin Mbak aja, enggak perlu angkat-angkat,” tutur Sahara mengingatnya. Saat mereka jatuh, Fazio menggunakan tubuhnya untuk membuat Sahara tidak langsung mengenai lantai yang membuat pria itu kesakitan. “Oh iya, Mbak, ngomong-ngomong soal Mas Fazio yang saudaraan, Mas Dirga jarang lho kesini setelah Mbak Hara nikah. Padahal dulu rajin banget kesini buat ketemu Mbak, eh maksudnya sama Bapak,” canda Della sambil terkekeh membuat Sahara melotot mendengarnya. “Hush, enggak boleh ngoming kayak gitu, kalo ada yang denger gimana?” tanya Sahara yang tidak ingin dikaitkan dengan pria lain saat dirinya sudah menikah. “Mas Dirga kayaknya lagi sibuk aja, dia kan penerus perusahaan orang tuanya.” “Mas Zio termasuk enggak, Mbak?” tanya Della sambil menuangkan es dan memberikannya pada sang kaakk. “Tahu gak Mbak? Hampir tiap hari Umi bahas pekerjaan Mas Zio. Umi kayaknya enggak tenang karena Mas Zio sering ketemu lawan jenis, Umi takut ami-amit Mas Zio kecantol sama perempuan lain.” “Jangan omong aneh, Dell. Mbak yakin kalo Mas Zio itu orang setia.” Sahara menyadari jika Fazio bukanlah tipe orang yang memendam perasaannya, jadi ketika pria itu ingin dijodohkan dia mungkin akan menolak jika memiliki wanita sendiri. “Itu udah selesai belum mbak goreng bakwannya? Della mau satu,” pinta Della dengan wajah kelaparan. “Iya, ambil aja. Tapi hati-hati karena masih panas.” Della mengangguk senang, mengambil tisu dan membalut bakwan ke dalamnya. “Enak, Mbak. Enggak keasinan kayak dulu lagi, kalo udah jadi istri orang mah beda,” kikik Della membuat Sahara yang mendengarnya menjadi malu. Suara rengekan kecil terdengar memasuki dapur, membuat Sahara sontak menoleh saat melihat ibunya sedang menggendong Rafali. “Nangis, Mi? Sini biar sama Hara aja.” “Enggak usah sama Umi aja, ini sama Rafa laper pengen s**u,” ujar sang ibu mengambil botol s**u Rafali. “Hara, pokoknya kalo kamu balik ke rumah, kamu santai aja sama istirahat yang banyak. Umi yakin kalo kamu sendiri kan yang jagain Rafali di apartemen? Umi lihat si Zio itu kayaknya belum siap punya anak.” Sahara yang mendengar itu tiba-tiba terdiam, dia menyadari jika walau sudah satu bulan terlewati namun sang ibu nampaknya masih belum menerima Fazio sebagai menantunya. “Enggak kok Mi, Mas Zio sering bantuin Hara kalo jaga Rafali,” jawab Sahara jujur. Yah, walaupun kadang tidak lama Rafali akan menangis karena Fazio akan menganggunya. “Kalo dia sering bantu, ya bagus. Dia ayahnya kok,” ujar sang ibu. “Oh iya, Hara, kamu ada tanda-tana hamil belum? Umi udah enggak sabar gendong cucu.” “Rafali kan cucu Umi juga,” balas Sahara sambil mengangkat bakwan terakhir dan bergabung bersama ibu dan adiknya yang sedang duduk di meja makan. “Iya, Umi tahu. Tapi maksud Umi itu cucu yang lahir dari rahim kamu sendiri,” ujar sang Ibu membuat Sahara memaneang ke arah Rafali yang sedang meminum s**u dengan tenang, anak itu mungkin tidak mengerti arti perkataan itu sekarang namun dalam beberapa tahun lagi, Rafali akan mengerti dan mungkin akan sedih. Sebesar apapun cinta Sahara, dia tidak bisa menutup fakta bahwa Rafali bukan hadir ke dunia ini karenanya. “Sahara sama Mas Zio udah sepakat mau nunggu Rafali besar dulu, Mi,” jawab Sahara. Dia sudah berjanji pada Fazio untuk tidak memiliki anak dulu saat ingin mengadopsi Rafali. “Lho kok gitu, Hara? Umi tahu kamu sayang sama Rafali tapi jangan sampai kehadirannya bikin kalian nunda anak kandung sendiri. Gimana kalo misalnya karena nunda kalian jadi keterusan enggak punya anak?” tanya sang ibu membuat Sahara terkejut. “Umi kok gitu sih ngomongnya, Sahara sama Zio saat ini mau fokus besarin Rafali dulu, Mi.” “Hara dengerin Umi baik-baik, ini demi kepentingan kamu,” tutur sang ibu dengan wajah serius. “Gimana kalo tiba-tiba orang tuanya Rafali datang buat ambil dia lagi? Kamu enggak mungkin nolak kan? Kamu harus punya anak sendiri, anak itu perekat hubungan kamu sama suami.” “Tapi, Mi, banyak yang punya anak tapi masih cerai,” balas Sahara dengan wajah cemberut. “Pokoknya kalian harus punya anak sendiri, kalo bisa nanti Umi temenin kamu untuk program hamil supaya bisa cepet punya anak. Umi enggak terima bantahan lagi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD