Niluh Lembah Ayu, namanya. Dia dulu tinggal di desa di kawasan pegunungan bersama neneknya. Sejak kecil, ibunya pergi entah ke mana. Juga Ayahnya. Selama seumur hidup, Niluh hanya sekali bertemu dengan ibunya. Saat itu dia berumur sepuluh tahun. Ibunya pulang tidak untuk menengoknya, tapi untuk meminta uang pada nenek.
Beberapa bulan yang lalu, satu-satunya orangtua yang dimilikinya, yaitu Nenek meninggal dalam tidurnya. Meninggalkan Niluh yang berusia 18 belas tahun sendirian di dunia ini.
Sebelum Nenek meninggal, wanita baik itu memberikan pesan pada Niluh, bahwa di mana pun dia berada, dia harus menjadi gadis yang berhati baik dan mengerti dengan penderitaan orang lain. Pesan itu selalu terngiang di kepala Niluh.
Setelah lama bersedih karena ditinggal sendirian di sebuah gubuk tanpa sanak saudara, Niluh akhirnya memutuskan untuk pergi merantau ke kota dengan ijazah SMA yang dia miliki. Dia mencoba ke sana ke mari untuk mencari pekerjaan demi melanjutkan hidupnya. Namun, hidup di kota tidak lah gampang.
Dia sudah kehabisan uang dan tidur di kantin stasiun ketika dia mendengar ada lowongan pembantu rumah tangga di sebuh rumah orang kaya di kawasan elit pusat kota.
Niluh pergi ke sana pada akhirnya. Ke sebuah rumah sebesar istana dengan nama Rose Hill di depan gerbang utama. Istina yang memiliki selusin kamar dan berlantai empat.
Di sana Niluh mengikuti seleksi calon pembantu rumah tangga yang mengharuskan cek darah terlebih dulu. Dan cek masalah fisik lainnya bersama beberapa pelamar.
Niluh bertemu dengan pemilik rumah itu. Seorang Nyonya besar yang cantik meski usianya nyaris setengah abad. Wanita itu tampak baik, sering tersenyum dan tampak sabar menghadapi calon-calon pembantu rumah tangganya.
Ketika Niluh dengan ceroboh menyenggol salah satu vas di rumahnya, wanita itu tampak tidak mempermasalahkannya.
“Maafkan saya, Nyonya. Saya benar-benar tidak sengaja melakukan. Maafkan keteledoran saya,” ucap Niluh dengan berlinang air mata karena begitu ketakutan jika sampai harus diminta untuk mengganti vas mahal itu. Nilu tidak punya uang. Dia juga tidak makan selama seharian.
Nyonya Carmila namanya. Dia mengenakan gaun rumah yang santai, dan rambutnya digelung rapi. Wanita itu memandang Niluh, dengan sabar menerima permohonan maaf Niluh.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Hanya vas murah kok. Lagi pula kamu kenapa jalan terhuyung-huyung seperti itu? Apa kamu sakit?” Nyonya Carmila bertanya sambil menepuk bahu Niluh. “Dan bajumu, kenapa seperti ini?”
Niluh memandang pakaiannya yang lusuh, dan sobek di lengannya. Ada kotoran di ujung celananya. Sangat menyedihkah, serta tidak sopan.
“Maafkan saya karena berpakaian seperti ini. Saya baru saja pindah dari desa, dan kehabisan uang. Saya juga belum makan sejak kemarin,” balas Niluh dengan malu mengakui keadaannya. Tapi dia adalah gadis yang jujur.
Nyonya Carmila tampak kasihan padanya dan akhirnya memberi gadis itu makanan dan pakaian bersih dan mengijinkannya tinggal di rumah pembantu di luar rumah utama untuk sementara menunggu pengumuman.
Di sana Niluh membantu pekerjaan kebun rumah itu tanpa digaji tapi diberi makan tiga kali sehari sambil menunggu pengumuman apakah dia lolos atau tidak untuk bekerja di rumah itu. Lalu kemudian pengumuman hadir. Bahwa dia diterima untuk bekerja di Rose Hill, sebutan untuk rumah istana itu.
Sebagai pembantu rumah tangga di rumah utama. Bukan sebagai tukang kebun. Dan hanya dia seorang yang diterima bekerja di sana.
Niluh begitu gembira dengan pekerjaan barunya. Gajinya banyak, dan dia memiliki tempat tinggal meski sepertinya pekerjaan di rumah itu tidak habis-habis dari pagi sampai malam karena saking luasnya rumah itu.
Meski seringnya dia dimarahi karena baru belajar membersihkan perabot-perabot mahal yang perlu keahlian dan cara khusus, Niluh tetap bersemangat.
Pada suatu sore, dia diminta oleh Nyonya Carmila untuk mengantar teh Camomile untuk putranya. Setahu Niluh, Nyonya Carmila memiliki suami yang sering pergi untuk bekerja ke luar kota, dan dia memiliki dua orang anak. Seorang perempuan dan laki-laki.
Niluh mengantar teh ke kamar putra Nyonya Carmila, dan di sana, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Raka. Niluh mengetuk pintu yang tidak terkunci.
“Permisi,” ucap Niluh, tapi tidak ada jawaban. Dia mengulanginya lagi tapi tetap tidak ada jawaban. Bunyi tivi terdengar keras dari dalam ruangan itu. Lalu dia membuka pintu itu dengan pelan, dan masuk ke dalam ruangan.
Niluh melihat seorang pria sedang terdiam dan melamun di sebuah kursi. Tivi menyala di hadapannya, tapi raut wajahnya tampak sedih.
“Permisi, Tuan,” ucapnya lagi.
Pria itu menoleh, seseorang yang cukup tampan. “Oh, kamu mengirim teh?”
Niluh mengangguk. “Teh Camomile dari Nyonya besar,” balas Niluh lalu meletakkan secangkir teh itu di meja di depan pria itu.
“Kamu baru di sini?” tanya Raka sambil mengamati Niluh.
“Ya, saya baru di sini,” balas Niluh. Lalu dia menegakkan diri dan berpamitan pergi.
“Tunggu!” panggil Raka. “Bisa aku minta tolong?” tanyanya.
Raka mengajak Niluh ke kamar pakaiannya yang besarnya sama seperti gubuk miliknya di desa. Pakaian-pakaian berderet di rak-rak yang diberi lampu penerangan kekuningan. Jas-jas dan kemeja-kemeja. Pakaian olahraga dan sebuah meja dengan penutup kaca yang berisi dengan jam-jam mahal.
“Aku baru saja pulang dari luar negeri, jadi bisa kamu bantu aku bongkar koperku itu?” Raka menunjuk ke arah dua kopernya yang tergelak di lantai.
Niluh pun melakukannya. Membongkar pakaian Raka dan merapikannya di rak. Sementara Raka menungguinya. Dia bertanya nama Niluh dan asal gadis itu.
“Di desa kami bertanam. Sayuran dan beberapa buah untuk dimakan sendiri,” ujar Niluh. “Lalu kami biasanya mencari ikan di sungai. Berternak ayam sendiri di belakang rumah.”
“Sungainya jernih?”
Niluh mengangguk. “Seperti permukaan cermin.”
“Sepertinya nikmat sekali tinggal di desa. Perkebunan yang membentang dan udara yang segar tanpa polusi,” balas Raka.
“Mana mungkin senikmat itu Tuan, kami tinggal di desa dengan ancaman tidak bisa makan kalau panen gagal, serta gubuk-gubuk yang bocor,” ujar Niluh sambil meletakkan pakaian bersih di rak. “Hidup saya tidak senikmat Anda yang tinggal di rumah sebagus ini. Anda orang yang beruntung.”
Niluh tersenyum pada Raka, dan Raka membalas senyumannya.
Isi koper itu kian menyusut dan akhirnya habis. Niluh menutup koper, dan pada saat itu, sebuah gelang jatuh ke lantai.
“Maaf, Tuan, saya tidak sengaja,” buru-buru Niluh memungut gelang dari logam berwarna emas dengan hiasan batu-batu berwarna ungu berbentuk hati yang mengkilap dari lantai. Gelang itu cantik sekali dan terlihat mahal. Niluh memberikan gelang itu pada Raka.
“Oh, gelang itu. Ambil saja,” balas Raka dengan ringan.
Ambil saja? Ulang Niluh dalam hati. Dia tampak bingung. Gelang itu indah dan mengkilat. Tidak mungkin tidak mahal.
“Maaf, Tuan saya tidak bisa mengambil benda mahal semacam ini,” Niluh meletakkan gelang itu dengan hati-hati di meja arloji.
“Nggak apa-apa. Ambil saja. Nggak mahal kok. Cuma souvenir dari teman. Bukan permata, Cuma batu langka,” balas Raka.
“Tapi─”
“Nggak usah tapi-tapian. Bawa saja,” desak Raka. “Kalau kamu sungkan, besok bawakan lagi aku teh camomile, dan aku senang mendengarmu bercerita tentang desa tempat kamu tinggal.” Raka menatap Niluh dengan sungguh-sungguh lali menambahkan. "Dan kamu cantik."
Raka tersenyum. Dan senyum itu membuat Niluh jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Meski pada suatu hari nanti dia akan menyesali kejadian di dalam kamar itu, dan gelang Kecubung itu.