Kamu terlalu biasa untuk mendapat perhatian lebih. Ada banyak gadis yang lebih darimu di luaran sana, dan kamu bukan satu-satunya gadis yang layak kuamati.
...
Archer mengibaskan jas OSIS-nya dan menghela nafas sembari mengambil beberapa buku yang berjajar rapi di meja belajarnya, hari ini ada minimal 6 mata pelajaran yang harus ia lalui.
"Jadi ketos enak ga?" celetuk Valiant yang sedang bercermin dengan tangan menyisir rambutnya.
Archer mendongak sesaat, lalu kembali menyibukkan diri dengan beberapa map yang tersimpan di lacinya. Genap sudah 2 bulan ia menetap di asrama, ia merasa betah meski tidak bisa terlalu santai.
"Dari raut wajahnya saja aku bisa menebak, menjadi ketos adalah mimpi terburuk," balas Dion.
Archer mengangguk saja sebagai jawaban, dan itu cukup memuaskan teman-temannya. Dalam hati Archer, ia merindukan Inggris. Meski saat di sana ia terkurung di dalam dinding besi dan berteman dengan darah, di sana ia merasa bebas. Di sini ia harus memperbanyak bicara, bukan tindakan.
Dan bersikap ramah untuk menjaga nama baiknya sebagai ketos, sangat melelahkan, juga menjengkelkan.
Ketukan pintu terdengar, membuat Dimitri berjalan ke sana dan membukanya. Iris dengan jas OSIS-nya terpampang.
"Cari siapa?" tanya Dimitri dingin.
"Archer," jawab Iris dengan suara lirih.
Mendengar namanya disebut, Archer menoleh dan berjalan ke arah Iris yang berdiri canggung.
"Ada masalah apa?" tanya Archer tanpa basa-basi.
Iris tertunduk, lalu menyodorkan bungkusan plastik bening yang berisi 1 cup kopi bermerek yang terkenal mahal.
Archer mengangkat sebelah alisnya, bertanya tanpa suara mengenai maksud Iris yang sebenarnya.
Iris menelan ludah, "Tadi Zevanya dapat kunjungan dari orang tuanya, dan ada lebihan. Buat kamu," jelas Iris.
Archer menggeleng, sebuah sirat ketidaksukaan terpampang jelas di wajahnya. "Bilangin ke dia, ga perlu repot-repot. Lagian aku ga terlalu suka kopi," tolak Archer, membuat Iris mendesah kecewa.
"Tapi, Zevanya tadi sengaja sisain satu buat kamu," paksa Iris.
Archer tersenyum tipis, "Katanya tadi lebihan?"
Mata Iris mengerjap ketika menyadari ia salah ucap, "Ya.. ya.. maksudnya.."
Tanpa banyak kata, Archer meraih kopi itu dan mundur, "Makasih banyak," gumam Archer kemudian menutup pintu dengan cepat.
"Dikasih apa sama Iris?" tanya Dimitri dengan mata memicing.
Archer mengangkat bahunya, "Zevanya yang kasih," jawab Archer kemudian meletakkan bingkisan itu di meja Arnius, "Ambil aja, aku ga suka kopi."
Alis Arnius menyatu, "Kalo ga suka, kenapa diterima?" tanya Arnius heran.
Archer memejamkan matanya, "Ini masih pagi Ar, aku bisa sakit perut kalau meminumnya sekarang," kilah Archer.
Valiant menggeleng dengan senyum mengejek andalannya, "Ini masih pagi Ar, jangan berbohong. Bulan lalu Zevanya memberimu donat, cake, teh, pizza, spaghetti, hingga steak. Kau menerimanya, dan memberikannya pada kami, kau ini sebenarnya kenapa?"
Archer mendengus, "Aku hanya kurang nyaman," jawab Archer jujur.
"Menerima apa yang dia beri, itu sama saja memberikan harapan padanya," cetus Arnius.
Archer menyugar rambutnya, "Lalu aku harus bagaimana? Kalian bilang jika aku menolaknya akan membuatnya sakit hati," balas Archer malas, ia benci berada di posisi serba salah seperti ini. Lagi pula, gadis yang bernama Zevanya-Zevanya itu, meski cantik tapi tak ada bedanya dengan para gadis lainnya.
Bagi Archer, tak ada yang istimewa darinya.
Arnius mengangguk pelan, "Mengurusi para gadis memang membingungkan."
Archer abai, "Whatever that is, aku tak peduli. Arnius, ambilkan map hijau yang merangkap data murid kelas delapan ke ruang OSIS nanti!" perintah Archer kemudian melenggang keluar kamar, diikuti tatapan ketiga temannya.
"Archer tidak suka didekati, lagi pula ia punya gadis lain yang ia sukai," celetuk Valiant ditengah keheningan.
Hanya ia dan Arnius yang tahu hal ini, karena mereka termasuk pengurus OSIS, sedangkan Dimitri yang tak tahu apapun memilih berpikir keras, menebak siapa gadis yang beruntung itu.
[{}{}{}]
Archer membuka pintu kantor OSIS ketika sebuah panggilan tertuju padanya, membuat gerakan tangannya berhenti.
"Kopinya gimana tadi? Enak ga?" tanya Zevanya dengan nada riang.
Mendengar itu, Archer menghela nafas panjang. Ia merasa harus segera meluruskan kesalahpahaman ini, ia tak mau menyakiti hati gadis yang begitu baik kepadanya.
"Maaf Nya, kopinya ku kasih ke Arnius tadi," lirih Archer merasa bersalah, ia tertunduk.
"Kenapa?" tanya Zevanya dengan getar kekecewaan. 'Padahal aku berharap kamu minum,' batin Zevanya.
Archer masih diam.
"Ar? Kenapa ga diminum? Ga suka kopi? Atau alergi? Kamu pasti punya alasan, kan?" ujar Zevanya.
Archer menelan ludahnya, mengangkat wajahnya dan menatap Zevanya gamang, "Nya, minum kopi di pagi hari ga baik buat pencernaan, aku belum makan soalnya," jawab Archer.
Zevanya ber-oh, dengan raut sesal ia menundukkan tubuhnya sejenak, "Maaf ya, soalnya aku ga tahu begituan. Terus, sekarang, kamu udah makan?"
Archer menggeleng.
"Ah! Aku dibawakan roti bakar tadi, nanti aku kirim ke kelasmu, ya!" tawar Zevanya bersemangat.
Archer menggeleng.
Tatapan Zevanya menjadi sayu, "Kenapa ga mau?"
Archer berdecak pelan, "Kamu makan aja, Nya. Orang tuamu ngirim buat kamu, aku bisa beli sendiri," tolak Archer halus, ia berharap Zevanya segera pergi dari hadapannya. Banyak murid berlalu-lalang di depannya yang mengamati mereka.
"Tapi kan itu udah jadi hakku! Terserah mau aku kasih ke siapa!" balas Zevanya jengkel.
Archer memilih diam, tetap berdiri di tengah kecanggungan yang Zevanya bentuk. Zevanya terdiam, sesekali mencuri pandang.
Aida yang merupakan pengurus OSIS melintas, menatap Archer penuh tanya, lalu berucap, "Ar, buku yang kamu bawa itu, apa perlu aku bawa sekalian ke dalam?"
Archer melirik buku-buku yang ia bawa kalau mengangguk dan menyerahkannya pada Aida, "Tolong ya, makasih."
Aida mengangguk dan masuk ke kantor OSIS. Meninggalkan Zevanya bersama Archer yang diam.
"Ke kelas gih, awas ada pr, nanti kelupaan ga digarap," peringat Archer.
Zevanya tersenyum tipis, memandang wajah Archer sekali lagi. "Iya, makasih ya, aku duluan," pamit Zevanya.
Archer mengangguk, tetap berdiri di sana sampai Zevanya hilang di belokan tangga. Ketika akan berbalik, bayangan seorang gadis yang kini sedang menjadi inti tugasnya melintas.
"Hey, kamu!" panggil Archer sedikit lantang, membuat seisi murid di koridor tersebut menghentikan langkahnya, tapi tidak dengan gadis yang ia panggil.
Archer berdecak, "Hey!" panggil Archer sekali lagi.
Seorang gadis dengan wajah manis menyikut temannya yang berjalan dengan wajah jutek. "Dipanggil Archer tuh!" peringat gadis berwajah manis itu pada temannya yang tidak peka.
Kini gadis yang berkulit putih itu menoleh, menatap Archer yang berdiri di depan kantor OSIS, "Aku?"
Archer mengangguk sembari mengayunkan tangannya, meminta gadis itu mendekat.
"Davina Illona Ozora kan? Kelas sembilan kedua?" tanya Archer berbasa-basi, rasanya akan timbul masalah jika ia langsung menyuruh gadis jutek itu melakukan sesuatu.
Davio menatap Archer curiga, "Kenapa?"
Archer masuk ke kantor OSIS dan memberikan sebuah map putih ke Davio yang langsung mengernyit tak suka.
"Absensi kelas? Bukan aku yang piket hari ini," ketus Davio sembari menyodorkan kembali map tersebut, ia tak mau repot-repot melakukan hal yang bukan tanggung jawabnya.
"Hemat tenaga, Dav. Sekalian ke kelas," paksa Archer sembari menyodorkan map tersebut lebih keras.
Davio berdecak, menatap map itu malas, lalu mengedarkan pandangannya ke ujung koridor dan melambaikan tangannya pada seorang gadis yang juga memakai jas OSIS.
"Kenapa Dav?" tanya Anzul berjalan mendekati Davio.
Davio menyodorkan map tersebut pada Anzul, "Titip sekalian."
Archer terperangah, kekagumannya tumbuh detik itu juga.