Aku tidak peduli apa yang pria itu ucapkan. Aku melangkah keluar bandara dan menunggu jemputan. Ya, bapak akan menjemputku. Aku sudah menghubungi beliau.
"Larasati, aku ini Robi teman SMP dulu," tiba-tiba pria itu berada di depanku.
Aku mengernyit dan berpikir keras.
"Robi... Robi anak Bu Mina?" Tanyaku memastikan.
"Akhirnya kamu ingat juga, kamu semakin cantik ajah. Aku juga merantau di Batam tapi sepertinya kita beda wilayah," ucapnya.
Dia menatapku dari atas sampai bawah dan beralih ke wajahku yang berdandan seperlunya.
"Dari dulu aku selalu begini, cantik darimananya?" Aku berkelit.
Penampilanku memang seperti gadis kampung pada umumnya. Sederhana tanpa embel-embel riasan tebal.
Aku lebih suka berpakaian sederhana seperti baju kaos berlengan panjang dan bawahan celana jeans panjang. Aku nyaman dengan cara berpakaianku walaupun banyak dari mereka yang mengatakan bahwa aku ini lebih cantik dan cocok jika berpenampilan feminim.
"Kamu berbeda dari sebelumnya," Dia tersenyum lebar.
"Hem," Aku melangkah pergi setelah melihat bapak yang sedang celingukan mencari keberadaan anaknya ini.
"Tunggu dong! Main pergi begitu aja sih," Pria itu sepertinya mulai jengkel dengan sikapku.
"Maaf, bapak sudah menjemput. Aku harus pulang bersamanya," Aku melangkah lebih cepat.
Tak kupedulikan lagi pria itu. Aku menyusul langkah bapak agar beliau tidak lebih jauh lagi mencariku.
Kutepuk pundak bapak dari belakang.
Pria paruh baya itu menoleh dan tersenyum lebar ketika melihat anaknya ini.
"Kamu lebih cantik sekarang nak," Bapak tersenyum lembut.
Kucium punggung tangan beliau dan memeluknya erat. Kerinduan yang aku pendam selama tiga tahun ini akhirnya sudah terobati.
"Sama aja pak seperti dulu. Ayo pak kita pulang sekarang!" ucapku sambil menggandeng tangannya.
Kami berjalan dan menuju tempat parkir bandara. Kulihat motor butut bapak di parkiran seolah menjadi pemandangan yang merusak keindahan mata siapapun yang melihat. Ku pakai helm yang sudah disiapkan oleh bapak. Kami mengendarai motor tersebut dan menjauh dari parkiran bandara. Aku tidak ingin menyusahkan bapak namun beliau bersikeras untuk menjemput anak gadis satu-satunya ini.
Beberapa jam kemudian aku sudah tiba di kampung. Kampungku cukup jauh dari kota dan ada di pelosok. Di perjalanan tadi kami berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Sebuah rumah sederhana yang kurindukan sudah terlihat. Ibu dan Putra sudah menunggu kepulanganku.
**
"Bu, Larasati udah sampai, kan?" Pekikan suara seorang gadis membuyarkan lamunanku.
"Masuk saja! Dia sudah bangun dan melamun sejak tadi pagi," seru ibu.
Kulihat seorang gadis berjilbab tengah mengobrol dengan ibu di kursi kayu yang terletak di teras rumah. Gadis itu antusias, dia masuk dan memanggilku. Aku dengan cepat masuk ke kamar mandi untuk menghindarinya.
"Larasati, aku kangen sama kamu," Dia memekik sambil mencariku di kamar karena aku mendengar suara deritan pintu.
"Ngapain sih dia kemari? Lagi males bertemu siapapun nih," gerutuku kesal.
"Ati... kamu di dalam, kan?" Seseorang menggedor pintu kamar mandi.
"Iya memangnya kenapa? Kamu siapa sih?" Aku berpura-pura tidak tahu.
"Ayo buruan keluar! Aku Ratih, Ada yang ingin ku ceritakan padamu," ucapnya.
Mau tak mau aku keluar dan menemui Ratih yang sudah menunggu di depan pintu kamar mandi.
Kuhela napas singkat, menatapnya yang terbengong melihatku dari atas sampai bawah.
"Jangan bilang kalau aku berubah," Aku sudah bisa menebak isi kepalanya.
"Ayo kita masuk ke kamarmu!" Ajaknya.
Gadis itu menggeret lenganku.
Dia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya sebagai seorang guru honorer. Dari sana juga dia berkenalan dengan seorang pria dan mereka berpacaran hingga saat ini.
Pandangannya menatapku dengan tajam, dia mengernyit dan bersedekap.
"Ceritakan kisah asmaramu! Aku yakin kalau kamu pasti sudah punya pacar," tebaknya.
"Memangnya kamu tidak bosan mendengarkan ceritaku?" Kugaruk rambut yang tidak gatal.
Dia mendesakku agar bercerita. Mau tak mau aku tenggelam dan terbawa pada kenangan silam, kenangan tiga tahun lalu.
Waktu itu aku terpana melihat keindahan kota Batam. Walaupun tak kupungkiri hawanya panas dan menyengat kulit.
Pertama kali pergi bekerja, aku begitu bersemangat.
"Kamu Laras?" Seorang gadis muda seumuran denganku menyapa.
Dia hendak duduk di sebelah kursi bus yang kami naiki.
"Iya, aku Laras. Kenapa bisa tahu namaku?" Kening mengernyit.
"Aku melihat daftar pekerja yang baru datang. Ada fotomu di sana. Hanya namamu yang aku ingat karena gampang dihapal," Gadis itu terkekeh.
"Nama yang kampung sekali bukan?" Kumenahan tawa.
"Tidak, nama yang indah dan cocok sekali dengan orangnya," Dia menghiburku.
Kami berkenalan supaya lebih dekat. Setengah jam berlalu, bus berhenti pada sebuah bangunan yang besar. Kami semua turun dan berkumpul di depan pintu masuk.
Ada seorang pria paruh baya yang menunggu kedatangan kami. Dia memberikan sebuah kartu akses masuk pada divisi kami masing-masing. Kami masuk sesuai divisi. Aku yang seorang operator mesin otomatis berjalan mengikuti wanita paruh baya yang ditunjuk oleh Leader tadi.
Ada yang menyenggolku sampai kartu yang aku pegang terjatuh di lantai.
Kuraih kartu itu namun sudah diambil oleh tangan seorang pria.
"Maaf, aku tidak sengaja. Ini kartunya," Dia mengulurkan tangannya.
"Kamu pekerja baru ya?" Telisiknya.
Aku mengangguk, kutatap wajahnya yang tampan. Aku meraih kartu tersebut. Namun, tangannya tiba-tiba menjauh dariku. Dia melihat kartu itu kemudian mengembalikannya lagi.
"Maaf ya Laras," Senyumnya terkembang sempurna.
Kuambil kartu itu dan mengikuti langkah rekan kerja yang lain. Setengah berlari aku mengikuti mereka.
"Ganteng," lirihku tersenyum lebar.
"Hey, kamu kenapa? Kok sepertinya ngos-ngosan gitu?" Leli menepuk pundak ini.
"Kartuku terjatuh," sahutku.
Kami berjalan beriringan, aku masih mengatur napas yang memburu.
***
Seminggu berlalu.
Setiap berangkat kerja aku menjadi bersemangat. Mengapa tidak? Karena ada dia, pria yang telah mencuri hati ini. Namun aku hanya memendam perasaan. Aku terlalu malu untuk mengatakannya bahkan pada Leli sekalipun. Aku menyukainya secara diam-diam. Setiap hari kami bertemu, ternyata dia adalah seorang Quality Control di pabrik ini. Tugasnya mengecek bahan dan barang produksi yang baru saja keluar dari mesin.
Siang ini kebetulan di waktu istirahat, kami duduk satu meja. Meja kantin penuh, hanya meja yang aku tempati berdua dengan Leli saja yang kursinya masih tersisa.
"Permisi mbak-mbak manis, boleh kami duduk di sini?" Pria yang tidak aku kenal tersenyum.
"Duduk ajah asal jangan mengecap saat makan," Leli menyahut malas.
"Duduk aja mas, mumpung masih kosong," senyumku tipis.
Mereka berdua duduk dengan santai. Untunglah makanan kami sudah hampir habis. Jadi kami tidak salah tingkah ketika harus satu meja dengan dua pria tersebut.
Pria yang aku sukai diam-diam ternyata menatapku dengan intens. Beberapa kali kami bertemu pandang dan dia tersenyum padaku. Temannya menyikut dan memberikan kode padanya. Aku tidak mengerti apa maksud dari kode tersebut.
"Kamu, aku ada perlu denganmu sebentar," Temannya menarik Leli.
"Hah, apaan?" Leli bingung dengan tingkah pria di depannya.
"Aku ada perlu denganmu, ayo ikut aku sebentar," Dia menarik Leli dan melangkah menjauhi kami.
Aku tertegun menatap mereka yang menjauh.