Sedan hitam mewah milik Arjuna perlahan berjalan memasuki perkomplekan rumah Yudhistira. Mereka hampir mencapai blok rumah Yudhis. Benar, terlihat di sana, mobil milik Rayya terparkir di depan rumah Yudhis. “Juna, mendingan mobil kamu mundurin lagi deh. Parkir di depan rumah kosong sana saja, agak jauhan. Nanti kita ngintip lagi kesini. Yuk!” Arjuna nyengir. “Senangnya main petak umpet bareng kamu, Ray.” “Ish, apaan sih! Ayo cepat nanti dia keburu pergi lagi!” “Iya, iya.” Arjuna mengikuti saran Rayya. Setelah mobil terparkir dengan aman. Memang rumah kosong itu terlihat begitu gelap, dan tepat di halaman rumahnya ada pohon besar. Tidak ada lampu yang menyala sama sekali di rumah itu. Jadi, sedan hitam milik Arjuna memang benar-benar tersamar di sana. Keduanya berjalan mengendap baga

