Dua gelas kaca di meja makan sudah kosong. Satu botol wine merah tinggal separuhnya lagi. Sedangkan botol wine putih masih tersegel. Sepasang manusia yang otaknya setengah dimabuk minuman dan setengahnya lagi mabuk akan nafsu, dengan seenaknya menempati ranjang milik Rayya. Keduanya saling melucuti baju dan bergumul dengan nafsu setan. Tidak peduli ini di mana dan status keduanya yang belum menikah. Bergelut dalam peluh dan desah, tidak ada rasa sungkan, apalagi sekadar malu. “Ohh, Sab ….” Yudhis hanya sempat meracau sebentar, kemudian mulutnya kembali membungkam bibir Sabrina yang mulai bengkak. Ranjang yang tadi rapi dan harum, mereka buat acak-acakan tidak karuan. Sabrina sudah lupa daratan. Dimabuk kepayang. Tatapan matanya sendu, berkabut, dan seringkali terpejam kuat. Untuk menah

