“Begitulah Mas, keadaan mamaku. Rumah ini rasanya hampa, nggak ada semangat. Ketemu mama, aku cuma bisa kasihan saja. Nggak bisa bantu apa-apa yang berarti. Biaya pengobatan mama saja semuanya masih tergantung dari papa. Padahal … aku benci papa. Seperti yang kamu tau. Aku serba salah, Mas,” lirih Sabrina sambil terus berjalan mengantar Yudhis ke teras depan. “Yahh kamu sabar dulu beberapa bulan ini, ya. Paling lambat setahun, aku usahain kita sudah bisa menikah. Dan kamu, nggak perlu lagi tinggal di rumah orangtuamu.” Kedua bola mata Sabrina berbinar seketika. “Nanti setelah kita punya rumah sendiri, ajak mamaku tinggal sama kita ya, Mas? Boleh ya?” Semangat sekali Sabrina. Yudhistira berdeham pelan. Agak kaget juga mendengar itu. Padahal maksud dia adalah, hanya membawa Sabrina saja k

