Pria Muda Berbahaya

896 Words
“Ellan,” panggil Alvino. Ia mengangguk. “Dad.” Matanya sekilas beradu pandang dengan Sheana. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk menyampaikan ribuan kalimat yang tak bisa diucapkan di ruangan itu. Sheana seketika menolak irama normal jantungnya. Itu benar-benar Ellan yang ia kenal beberapa malam lalu. Wajah pemuda itu tampak sedikit lelah, tapi masih sama. Matanya menyapu ruangan dengan tenang. Keduanya terdiam. Mata mereka terkunci satu sama lain. Sekilas, napas Sheana tertahan. Ellan pun tampak membeku di tempat, seolah waktu di sekitarnya berhenti berdetak. Dirga menoleh, heran melihat keheningan yang aneh itu. “Kamu kenal?” tanyanya pelan pada Sheana. Sheana cepat-cepat menggeleng. “Nggak. Cuma... kaget aja.” Ellan tersenyum. Bukan senyum gigolo. Tapi senyum anak muda yang baru saja menemukan sesuatu yang tak terduga. Ia melangkah masuk, menyapa ayahnya dengan cepat, lalu—dengan penuh kesadaran—berdiri tepat di depan Sheana. Dirga bangkit, menjabat tangan Ellan. “Akhirnya bisa bertemu juga. Aku Dirga, sahabat ayahmu.” Ellan mengangguk sopan. “Ellandra.” Lalu ia menoleh ke Sheana. “Tante?” gumamnya pelan. Sheana menegang. Ellan tersenyum tipis, lalu buru-buru menambahkan, “Ah, maaf, saya kira Anda ibu teman saya. Mirip sekali.” Dirga tertawa. “Istriku. Sheana.” “Pantas,” bisik Ellan, matanya tak lepas dari Sheana. “Pantas... terlalu cantik untuk seorang ibu teman.” Sheana menyunggingkan senyum datar. Alvino kembali sibuk bicara dengan Dirga, menuntunnya untuk melihat koleksi lukisan di ruang tengah. “Kamu ikut, Ell?” “Nanti nyusul,” sahut Ellan santai. Begitu dua pria itu berjalan menjauh, keheningan menggantung. Sheana memalingkan wajah, merapikan roknya. “Kecil dunia ini, ya?” Ellan menyeringai. “Sheana... dramatik banget. Aku suka,” katanya pelan, seperti mengomentari dialog film. “Biasa aja,” sahut Sheana, agak ketus. Ellan menyandarkan diri di dinding, menyilangkan tangan. “Kamu kelihatan gugup. Tapi tenang, aku jago jaga rahasia.” Sheana mendesah. “Bagus. Karena kalau kau buka mulut, aku juga bisa buka semuanya.” “Oh?” Ellan menaikkan alis. “Maksudmu… kamu akan bilang ke Daddy kalau aku kerja sambilan?” Sheana menatapnya tajam. “Kalau perlu, iya.” Ellan melangkah pelan, memperkecil jarak. “Dan aku akan bilang... kamu salah satu klienku. Gimana? Mau sama-sama hancur atau—kita main aman?” Sheana tercekat. Ini bukan lagi permainan biasa. “Kamu br*ngsek,” bisiknya, tapi tak bergeming. “Dan kamu cantik sekali waktu marah,” gumam Ellan, lebih rendah. “Ayo, kasih nomormu. Biar aku pastikan kamu nggak nyasar lagi ke tempat begitu.” Sheana mendelik. “Jangan berharap aku akan datang lagi.” “Aku nggak berharap,” Ellan tersenyum miring. “Tapi... berharap itu gratis.” Ia menyodorkan ponsel. Dengan kesal, Sheana mengetik nomornya, lalu menyerahkan kembali tanpa berkata apa-apa. “Terima kasih, Nyonya Dirga,” bisik Ellan, lalu berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan jejak tawa di balik bibir yang tak sepenuhnya ramah. Di luar sana, suara Alvino dan Dirga mulai terdengar kembali, menghapus keintiman singkat yang barusan terjadi. *** Sheana duduk di pinggir ranjang. Lampu kamar redup, sementara suara air dari kamar mandi dalam menandakan Dirga masih mandi. Ponselnya bergetar pelan. [Notifikasi w******p – Nomor tak dikenal] Ellan [ Udah bisa napas normal, Sheana? Or masih kebayang aku duduk di seberang kamu tadi siang? ] Sheana melirik layar, alisnya naik setengah. Typing... Typing... Tapi tak jadi dikirim. Baru saja dia meletakkan ponsel, notifikasi lain masuk. Ellan [ Kamu acting-nya bagus banget. Tapi sorot mata nggak pernah bohong. ] Sheana menggertakkan gigi, lalu membalas cepat. Sheana [ Ngapain sih kamu nyimpen nomorku? ] Ellan [ Ya karena aku emang perhatian. Lagipula, who else’s gonna remind you to behave? ] Sheana [ Lucu banget. Kamu pikir aku bakal ketar-ketir ketemu kamu lagi? ] Ellan [ Nggak. Tapi tadi kamu kayak orang baru keluar dari ruang interogasi FBI. I’d say... cute. ] Sheana [ Aku udah bilang, aku bukan bagian dari duniamu. ] Ellan [ Ah, denial is hot. ] Sheana [ Kamu emang sengaja cari masalah ya? ] Ellan [ Nope. Just good at reading people. Dan kamu tuh gampang banget dibaca. I mean... married to Dirga Aryan Bimantara? Come on. ] Sheana membeku. Tangannya memegang ponsel erat. Satu bagian dari dirinya ingin berhenti baca, tapi bagian lainnya... penasaran. Sheana [ Kamu nggak tahu apa-apa soal hidupku. ] Ellan [ Maybe. Tapi aku tahu gimana rasanya jadi invisibly miserable. ] Sheana [ Kamu bener-bener drama. ] Ellan [ I’m just observant. And guess what? I like what I see. ] Sheana [ Kamu tuh gigolo. Udah cukup buat ngelus d**a. ] Ellan [ Correction. Part-time entertainer. Big difference. ] Sheana [ Aku gak tertarik ketemu kamu lagi. ] Ellan [ Aku belum ngajak ketemu. Tapi... since you brought it up—wanna grab a drink tonight? ] Sheana [ Hard no. ] Ellan [ Yakin? Aku bisa bikin kamu lupa sama semua mimpi buruk yang kamu peluk tiap malem. ] Sheana [ Kamu tuh toxic. ] Ellan [ Maybe. Tapi kamu tetep bales chat aku. ] Tiba-tiba voice note masuk. Suara napas berat dan satu kalimat pendek. “You’ll think about me tonight. Just wait.” Sheana buru-buru menghapusnya. Ia menarik napas dalam, menatap bayangan dirinya di cermin. Matanya tajam, tapi ada getar di bibirnya yang tak bisa ia bantah. Dalam hati, ia berpikir... This guy is dangerous. Tapi justru itu yang bikin dia tak bisa sepenuhnya memalingkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD