Dalam Sorot Mata yang Salah

1163 Words
“Kalau aku Dirga, dan aku curiga istriku punya hubungan dengan anak kolegaku... aku akan bikin skenario kayak gini.” Sheana menelan ludah. Tiba-tiba saja segala tawa dan kehangatan berubah jadi sesuatu yang menggantung di udara. Tegang. Tak pasti. “Kalau itu benar...” bisiknya, “we’ve been watched.” “Kalau itu benar,” sahut Ellan, “maka kita udah terlalu dalam.” Sheana menatapnya. “Kamu nyesel?” Ellan mengangkat bahu. “Kalau hari ini kencan... I’d ask for another round.” Sheana menghela napas. “Kamu selalu jawab pakai kalimat yang nggak ada di soal.” Ellan menyeringai. “Tapi bikin kamu senyum, kan?” Sheana tak membalas. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menatap hujan yang makin deras. Tangannya tanpa sadar bergerak, menyentuh lengan baju Ellan. “Thanks... for today.” “You’re welcome,” bisik Ellan. “Anytime. Even if you don’t ask.” *** Sheana memutar sendok kecil di dalam gelas es kopinya. Café kecil bergaya industrial di pojok kota itu sedang ramai, tapi dia memilih duduk di sudut yang agak tersembunyi. Rambutnya disisir rapi ke samping, kemeja putih gading, dan bibir tipis berwarna nude. Grace datang beberapa menit setelahnya, mengenakan blazer putih, high heels hitam, dan aroma parfum yang sama sejak lima tahun lalu. “Sorry lama, makeup artist gue sibuk banget ngerapiin alis klien. Gue jadi korban terakhir,” ujarnya sambil duduk. Sheana tertawa kecil. “Masih sempat selfie lima kali di parkiran, kan?” Grace menyeringai. “Always.” Setelah basa-basi sebentar, Grace menyipitkan mata, menatap Sheana yang tengah menyeruput minumannya. “Lo glowing,” kata Grace sambil menarik kursi. “Like, weirdly glowing.” Sheana tertawa kecil. “Sheet mask semalam bagus, mungkin.” Grace menyipitkan mata. “I’m serious, Na. You look like someone who’s been thinking about something... or someone.” Sheana mengangkat alis. “Lo overthinking.” “Oh come on. I know that face. Itu glowing yang bukan karena serum atau sheet mask mahal. Glowing karena lo lagi... kebanyakan mikir sesuatu yang manis.”” Sheana pura-pura menyibukkan diri dengan menu. “Lo mau pesan apa?” Grace tidak menjawab. Ia hanya menatap sahabatnya lama, sampai akhirnya ia bersandar santai. “Gue pengen tahu siapa yang bikin lo kelihatan kayak... lo baru nyolong matahari.” Sebelum Sheana sempat menjawab, pintu café terbuka. Dan masuklah dia. Ellan. Kaos putih tipis, jaket hitam polos, celana jeans gelap. Rambutnya sedikit acak, dan ada bekas senyum di sudut matanya saat melihat Sheana. “Shea,” senyumnya tipis, “I missed this face... more than I probably should.” Grace membeku sepersekian detik. Sheana menoleh cepat. “Ellan?” “Sorry, gue liat story lo yang bilang mau hangout sama Sheana di kafe ini, gue kebetulan deket. Nggak ganggu, kan?” tatapnya ke arah Grace. Grace hanya tersenyum tipis. “Not at all.” Ellan menarik kursi, duduk di samping Sheana—bukan di seberangnya. Tangannya otomatis membuka jaket dan meletakkan ponsel di meja. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Tapi Sheana tampak... nyaman. “Kamu udah makan?” tanya Sheana. “Belum. But I’m full just seeing you,” jawab Ellan santai. Grace menyilangkan kaki, mengaduk kopinya. “Okay, that was cheesy.” Sheana tertawa kecil. Dan setelah itu, Grace melihat sesuatu. Bukan dari kata-kata mereka. Tapi dari cara mereka saling pandang. Dari cara Sheana tak lagi kaku. Dari cara Ellan memperhatikan detail kecil di sekitar Sheana—seperti bagaimana ia menyingkirkan tisu yang jatuh, atau menuangkan air ke gelasnya tanpa diminta. Rasa curiga mulai merayap—pelan. Tidak menuduh. Tapi nyata. “Gue keluar sebentar, ada telepon masuk,” kata Ellan, bangkit. Sheana mengangguk. “Jangan lama.” Dan itu—"Jangan lama"—bukan kalimat seorang istri yang bicara ke teman. Itu kalimat seseorang yang sedang... sayang. Begitu Ellan menghilang ke luar kafe, Grace langsung menatap Sheana. “Na.” “Ya?” “You sure about this?” “Maksud lo?” “Jangan pura-pura bego. Kucing juga tau kalau ada yang nggak beres dari kalian berdua.” “You’re being dramatic, Grace.” “Nggak. Feeling gue nggak mungkin salah. Lo punya hubungan atau seenggaknya perasaan terlarang sama Ellan. Ngaku aja. Gue sahabat lo. Kenal dan paham banget sama gesture tubuh lo yang beda banget saat ada dia.” Sheana diam. Matanya mengarah ke luar jendela. Tapi jari-jarinya saling menggenggam erat di pangkuan. “Gue nggak rencana, Grace,” bisiknya. “Gue juga kaget.” “Lo jatuh?” “Gue udah jatuh.” “Lo beneran? Ya Tuhan, gue cuma iseng ngenalin kalian biar lo bisa ketawa-ketawa sebentar. I didn’t expect you to actually fall for him.” Grace menarik napas pelan. “It’s not like that,” bisik Sheana, meski tidak terdengar yakin. “Oh please, Na. Lo pikir gue nggak lihat cara lo ngomong tentang dia? Atau... cara lo berhenti ngomong begitu gue nyebut namanya?” Grace mengangkat alis. “Dan jangan bilang lo nggak pernah ketemu dia lagi di luar yang gue tahu.” Sheana menunduk. Ada gugup yang tak bisa ia sembunyikan. Grace menghela napas. “Lo tahu gue sayang sama lo, kan?” “Of course.” “Makanya gue bilang ini bukan lelucon. Lo bukan cewek dua puluhan yang bisa putus-nyambung tanpa dampak. Lo istri orang, Na.” Sheana memejamkan mata. “Gue tahu...” “Dirga mungkin bukan suami ideal. Tapi pernikahan lo tetap nyata. Sah. Dan lo udah jalan terlalu jauh kalau udah mulai mikirin dia di antara napas lo.” Sheana terdiam. Kata-kata Grace menusuk. Bukan karena kasar. Tapi karena benar. “Gue cuma... ngerasa hidup lagi, Grace,” bisiknya lirih. “Bukan... karena gue pengen selingkuh. Tapi karena akhirnya ada yang bikin gue ngerasa dilihat.” Grace menatapnya lama. “Dan lo pikir Ellan itu jawaban?” “Dia nggak pernah janji apa-apa. Tapi dia hadir.” “Dan lo nggak takut jatuh?” Sheana tersenyum getir. “Justru karena gue jatuh, gue sadar kalau gue masih punya hati.” “Dia escort, Na.” “I know.” “Dia lebih muda dua belas tahun. Dia bukan siapa-siapa buat lo. Lo itu istri orang.” “Gue juga manusia, Grace,” sahut Sheana cepat. "Yang udah terlalu lama Cuma diem, Cuma nurut... kayak patung.” “Lo yakin itu cinta?” Suara Grace menegang. “Atau lo Cuma capek pura-pura kuat terus?” Sheana tidak menjawab. Grace menyentuh tangannya. “Gue ngerti lo kesepian. Tapi ini... ini bukan jalan yang lo siapin dari awal. Gue ngenalin lo ke dia bukan buat begini.” Sheana menunduk. “Gue tahu. Tapi Ellan datang bukan karena lo kenalin. Dia datang... karena gue ngerasa hidup pas bareng dia.” Sunyi. Grace berdiri. “Gue pulang duluan.” Sheana menatapnya, “Lo marah?” “Gue takut. For you.” Dan ia melangkah pergi. Di luar kafe, Ellan baru saja menutup telepon saat Grace muncul dari pintu. “Kita ngobrol sebentar?” tanya Grace langsung. Ellan mengangguk, menyimpan ponsel di saku jaketnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD