The Reasons III

1363 Words
Tandai jika masih terdapat kesalahan kepenulisan, EYD, Grammar dan lain sebagainya dalam cerita ini. Terima kasih. _________________________________________________________________________________________________________ “MASUK!!” bentak Sean dengan kasar sambil menghempaskan tubuh Miranda ke atas ranjang. Brak! Sean menutup pintu kamar dengan sangat kencang. Hingga Miranda pun dibuat ketakutan olehnya. “Dari mana saja kau?!” bentak Sean sambil mencengkram erat rahang Miranda. Mata biru Miranda sudah berkaca-kaca dan tak lama, air matanya pun menetes. Sean yang melihat Miranda menangis pun, malah semakin merasa muak dan murka. “Jangan menangis, s****n! Jawab pertanyaanku?! Kau dari mana hah?!” bentak Sean yang tidak bersimpati sedikit pun melihat lelehan air mata Miranda. “Jawab, Anne,” desis Sean dengan raut yang begitu mengerikan. Miranda perlahan memejamkan matanya, dia berusaha untuk tenang meskipun sulit. Setelah beberapa detik, Miranda kembali membuka matanya,dia menatap Sean dengan takut. “Ak-aku...pe-pergi ke rumah Kylie,” ujar Miranda dengan terbata. Sean tersenyum sinis mendengar penuturan isterinya. “Apa kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu?” bisik Sean lalu menghempaskan cengkeramannya di wajah Miranda dengan sangat kasar hingga meninggalkan bekas kemerahan di sekitar rahang wanita itu. Miranda terisak pelan, ini pertama kalinya dia diperlakukan dengan kasar oleh Sean. Selama ini Sean memang bersikap dingin padanya, tapi Sean tidak pernah bermain fisik seperti saat ini. Dengan semua kekuatan yang ia miliki, Miranda pun kemudian bangkit dan berdiri di hadapan Sean. “Kau pergi dari kemarin dan kau baru pulang sekarang heh? Kau pikir siapa dirimu?! Apa kau pikir kau sudah menjadi wanita berkelas ketika menikah denganku?” tanya Sean dengan begitu emosi. “Aku-…” “Kau tidak kembali ke rumah ketika matahari terbenam dan kau mengatakan jika kau pergi ke rumah Kylie Xander? Hah! Jangan-jangan kau sudah menjadi p*****r semalam?” ujar Sean memotong ucapan Miranda dengan kalimat yang begitu menyakitkan, hingga…. Plak! Satu tamparan keras mendarat di rahang tegas seorang Sean Russel McAdams untuk pertama kalinya. Dan itu dilakukan oleh isterinya sendiri! Sean mengepalkan erat buku jarinya saat ia merasakan rasa panas itu menjalar ke pipinya. Sean kembali memandang Miranda dengan tajam. Begitu juga dengan Miranda yang telah menitikkan air mata kekecewaannya untuk Sean. Sepertinya keputusannya menggugat cerai Sean adalah keputusan yang sangat tepat. “Aku tidak serendah itu, McAdams,” bisik Miranda dengan pelan dan kemudian melepaskan cincin pernikahannya. Miranda membuangnya ke sembarang arah hingga memantulkan bunyi yang khas. Ah, tahukah kalian jika Miranda menangis tersedu ketika melempar benda yang menjadi pengikat janji sucinya dengan Sean itu? Miranda pernah sangat bahagia ketika memakai cincin itu, dan Miranda juga harus menangis tersedu ketika ia melepasnya. What a pity.... Sean yang melihat itu pun menjadi semakin geram dan kembali mencengkram rahang Miranda. “Get out from my sight,” bisik Sean dan kembali melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Miranda seketika itu juga berlari menuju nakas dan mengambil sesuatu yang menjadi alasannya kembali ke sini. Setelah mendapatkan liontin yang ia cari, Miranda pun segera keluar dari kamar itu, meninggalkan Sean yang masih dalam keadaan marah. Sean mengusap kasar wajahnya dan menoleh ke belakang. Dan ternyata Miranda sudah pergi dari kamar itu. “Oh f**k!” umpat Sean lalu segera menyusul Miranda.  Sean menuruni anak tangga dengan gerakan secepat kilat, dia berlari keluar mansion dan dari jauh, dia bisa melihat Miranda sudah lebih dulu keluar dari gerbang mansionnya. “Kejar dia, s****n!” teriak Sean pada beberapa orang satpam yang berjaga di depan. Para satpam yang bingung dengan apa yang terjadi pun segera mengangguk, namun terlambat. Miranda sudah lebih dulu menghilang dari kejaran mereka. “Di mana dia?!” tanya Sean begitu ia keluar dari gerbang. “Kami kehilangan jejak Nona, Tuan,” ujar salah satu satpam yang mengejar Mirada dengan kepala yang tertunduk. “Arghh bodoh!!! Cepat cari menggunakan mobil kalian! Sekarang!” teriak Sean dengan kencang dan kembali masuk ke dalam mansion tanpa menyadari jika Miranda tengah bersembunyi di balik pohon besar sambil membungkam mulutnya agar isakannya tidak terdengar keluar. Setelah melihat Sean masuk ke dalam mansion diikuti oleh beberapa satpam tadi, Miranda pun segera menelepon Kylie dan meminta bantuannya agar ia segera dijemput. _____________________________________________________________________ McAdams Mansion 9.15 PM Sean masih saja terus mondar-mandir ke sana-sini setelah kejadian yang tidak menyenangkan tadi pagi. “Ke mana perginya gadis itu?!” geram Sean dengan kesal sembari kembali mencoba menelepon nomor Miranda. “The number you're calling.…” “f**k!!!” umpat Sean lalu menendang kursi yang ada di depannya. Sean pikir, Miranda akan segera kembali begitu matahari tenggelam. Namun, hingga pukul sembilan malam lewat, Miranda ternyata tak kunjung menampakkan dirinya dan itu cukup membuat Sean kesal.  “Apa benar dia ada di rumah Kylie?!” tanya Sean kepada dirinya sendiri. Tapi Sean langsung menggelengkan kepalanya. “Oh tidak-tidak! Dia hanya gadis kampungan! Mana mungkin dia berteman dengan wanita seperti Kylie Xander,” bantah Sean. “Apa dia benar-benar menjual dirinya?” perkataan itu keluar begitu saja dari mulut Sean hingga membuatnya menyugar rambut dengan kasar. Sean kemudian duduk di ranjangnya, dan tanpa sengaja matanya melihat ke arah cincin pernikahan yang Miranda buang tadi pagi. Dengan ragu, Sean pun mengambil cincin itu dan melihatnya dengan cermat. Ya, Sean ingat jika cincin itu adalah cincin yang ia berikan kepada Miranda ketika hari pernikahan mereka satu tahun yang lalu. Sean juga ingat, jika cincin dengan desain polos itu memiliki harga yang terbilang murah. Hanya US$780. Ketika sedang asyik melihat cincin itu, ponselnya pun berbunyi dan Sean segera tersadar dari lamunannya akan cincin itu. Sean segera mengambil teleponnya dan melihat siapa yang menelfon. Dan itu adalah telepon dari Ara, kekasihnya. Oh Sean bahkan sampai lupa menelepon Ara karena kejadian hari ini. “Oh hallo sayang?” “.…” “Sorry baby. Aku masih sibuk dengan pekerjaan sekarang. Bagaimana harimu?” “.…” “Aku ikut senang mendengarnya. Oh iya, jangan lupa makan dan tidur yang cukup hm?” “.…” “Thanks babe,” “.…” “Okay... See you... I love yo too,” Dan sambungan telepon pun terputus. Sean meletakkan ponselnya di atas nakas dan menjatuhkan dirinya di atas kasur yang empuk. Sean memandang langit-langit kamarnya dan tiba-tiba saja memori tentang Miranda masuk ke dalam kepalanya. Memori itu membawa Sean masuk ke masa saat pertama kali ia melihat seorang gadis biasa dan belia di kota New York. Saat itu, Sean masih ingat ketika salju pertama turun di awal bulan November. Dia yang saat itu tengah menikmati salju dari dalam  limusin hitamnya pun, tanpa sengaja melihat Miranda yang kala itu tengah membagikan secangkir cokelat hangat kepada beberapa orang jalanan. Senyum menghiasi wajah Miranda ketika ia memberikan coklat hangat itu kepada mereka yang membutuhkan. Sean bahkan sempat ikut tersenyum melihatnya. Wajah Miranda yang masih belia dan terlihat polos mampu membuat Sean tersenyum kecil. Namun itu hanya sebentar, sebelum akhirnya Arabella, kekasihnya menelepon dan memberitahu jika dia memiliki cara agar hubungan mereka tetap berlanjut meskipun Arabella sudah bertunangan minggu kemarin. Arabella yang saat itu telah ditunangkan dengan pria pilihan keluarganya pun menyarankan agar Sean juga harus memiliki isetri, agar tidak ada yang curiga dengan hubungan mereka. Ara memiliki tunangan, dan Sean memiliki isteri. Tidak akan ada yang mencium bau asmara di antara kedua orang terkenal itu. Dan Sean pun langsung menyetujui itu. Entah angin dari mana, Sean telah memutuskan jika yang akan menjadi ”tamengnya” adalah gadis biasa yang tengah membagikan cokelat hangat itu. Gadis cantik yang tak lain adalah Miranda. Dan seiring dengan berjalannya waktu, semua terjadi seperti apa yang dia inginkan. Miranda yang pemalu dan pendiam akhirnya mau menerima lamaran Sean di pertengahan bulan November, dan seminggu setelahnya atau akhir bulan November mereka menikah. Ya, semudah itulah Sean membuat gadis sepolos Miranda jatuh cinta. “Miranda.…” gumam Sean tanpa sadar. Sean kemudian bangkit dan berjalan menuju walk in closet nya untuk mengganti baju. Dia membuka lemarinya dan menemukan sebuah syal hitam rajutan Miranda. Ini adalah barang pertama yang Miranda berikan kepadanya. Miranda bilang, dia sendiri yang membuat syal itu. Sean ingat, jika ia hanya pernah sekali memakai syal itu dan itupun pada saat ia melakukan pendekatan dengan Miranda, tapi setelah itu, Sean tidak pernah lagi memakai syal buatan Miranda. Sean kembali menutup pintu lemarinya. Dan entah karena apa, kakinya tiba-tiba saja membawanya ke hadapan lemari Miranda yang ada di samping lemarinya. Selama ini, Sean tidak pernah membuka lemari Miranda untuk alasan apapun. Dia memberikan semua kebutuhan Miranda dengan bantuan para pelayan tanpa mau bersusah payah memberikannya sendiri kepada Miranda. Sean dengan perlahan membuka lemari itu, dan melihat pakaian dengan merk terkenal tergantung rapi di dalamnya. Sean melihat semuanya, bahkan perhiasan dan segala macam yang pernah ia berikan kepada Miranda masih tersusun rapi di dalam tumpukan kotak beludru masing-masing barang. Seolah memberi tanda jika Miranda memang sangat jarang menyentuh ataupun mengenakan perhiasan seperti itu. “Dia memang kampungan!” decih Sean dan baru saja ia akan menutup pintu lemari Miranda, Sean tiba-tiba teringat akan dress yang Miranda kenakan tadi pagi. Dress selutut dengan warna pastel seperti itu adalah gaya Miranda yang sesungguhnya. Namun sepanjang ia melihat lemari tadi, ia tidak menemukan satupun dress seperti itu tergantung di dalam sana. Untuk memastikan dugaannya, Sean kembali membuka lemari itu dengan kasar dan mencoba mencari kumpulan dress selutut Miranda yang sering dipakai olehnya. Sean berkali-kali memisahkan helai demi helai pakaian yang tergantung rapih di dalam lemari, namun seberapa keras ia mencari, ia tetap tidak bisa menemukan satu pun dress Miranda. Lama Sean mencari, hingga akhirnya ia lelah dan jatuh terduduk menyandar pada sisi lemari. Sean termenung dengan tatapan mata kosong. Ia baru menyadari, jika…. Miranda memang telah pergi dan tidak berniat untuk kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD