2- Salah Estimasi

1528 Words
Ruang BK itu memanjang ke arah kanan. Sebelum Dinda dan pemuda yang ternyata bernama Mahesa itu berakhir di sana, ada beberapa siswa dan siswi yang juga berada di sana dan jumlahnya lumayan. Tanpa sadar Dinda tersenyum membuat Mahesa melirik ke arahnya heran. "Ngapain cengar cengir kek orang kesetanan?" bisik Mahesa di telinga Dinda dengan sangat pelan. "Gue seneng karena ternyata bukan hanya kita aja yang bakalan kena hukuman," kata Dinda bahagia dan tersenyum jahil. Salah satu guru BK yang terlihat menyeramkan dengan kumis lebat dan janggut tipis itu sedang memberi nasehat panjang lebar ke arah para siswa dan siswi yang telat masuk kelas, termasuk Mahesa dan Dinda. Kalimat-kalimat yang sama yang diucapkan para guru pada umumnya. Mau jadi apa kalian jika datang ke sekolah aja terlambat? Kalian sudah duduk di bangku SMA. Seharusnya kalian itu jadi contoh remaja-remaja teladan. Bukan remaja telatan! Nasehat-nasehat seperti itulah yang terus dikatakan oleh Bapak guru BK yang bernama Pak Mukhlis. Ketika Pak Mukhlis melewati Mahesa, ia memandang pemuda itu sejenak dan berdehem ke arahnya seraya melirik ke arahnya dengan tatapan heran. Kemudian ia menghembuskan napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika Pak Mukhlis kembali berjalan dan berhenti tepat di depan Dinda, ia menatap Dinda yang sedang menundukkan kepalanya karena merasa takut. Ia memerhatikan Dinda dengan seksama dan dahinya berkerut, mungkin karena beliau merasa tak pernah melihat wajah Dinda di barisan ruangan BKnya "Angkat wajahmu," katanya dengan tegas, ia harus memerhatikan wajahnya dengan seksama. Setelah Dinda mengangkat wajahnya, Pak Mukhlis semakin terkejut, apalagi bet sekolah yang dikenakan di seragam abu-abunya hanya bet depan saja. Tidak ada pengenal kelasnya. "Siapa kamu?" tanya Pak Mukhlis. "Saya Adinda, Pak. Siswi baru pindahan dari Bandung," kata Adinda pelan. "Siswi baru? Kelas berapa?" "XI MIPA 2," jawab Adinda dengan menatap sekilas ke arah pak Mukhlis lalu wajahnya tertunduk kembali. "Baru hari pertama dan udah lompat pagar?" tanya Pak Mukhlis dengan sedikit geram. "Maaf, Pak," kata Dinda. "Kalian semua gak dapat jatah istirahat! Yang perempuan bersihkan toilet perempuan dan yang laki-laki bersihkan toilet laki-laki," kata Pak Mukhlis memberi hukuman. "Sekarang bubar, masuk ke kelas!" kata Pak Mukhlis. Para murid yang terkena masalah itu langsung berebut keluar ruang BK. Karena Adinda tak tahu di mana kelasnya, ia mengikuti Mahesa yang berjalan tergesa ke arah tangga. Mahesa cuek saja saat Dinda memanggil-manggil namanya. Sedangkan Dinda sibuk melihat ke sekeliling dan membaca tanda kelas di atas pintu saat ia sudah berada di lantai dua gedung sekolah itu. "Tahu kelas gue, gak?" tanya Dinda, tapi Mahesa tak menyahut sama sekali. Dinda sedikit berlari mengejar Mahesa dan akhirnya berhasil menyamai langkah kaki pemuda itu. "Lo kadang-kadang tuli, ya?" tanya Dinda dengan nada mengejek. Dinda tahu kelemahan Mahesa dengan cepat, agar lelaki itu memerhatikannya. Harus ada sedikit sentilan hinaan rupanya, pikir Dinda kala Mahesa memutuskan berhenti dan menatapnya jengah. "Lo punya mata dan bisa baca, kan? Cari sendiri kenapa?!" kata Mahesa tak kalah ketus. "Kan, lebih cepet tanya ke lo." "Kenapa harus gue? Kenapa gak tanya yang lainnya tadi?" tanya Mahesa. "Gue kenalnya cuma sama lo. Sama mereka nggak." "Tapi gue gak kenal sama lo." "Lo bisa baca nama gue di sini," tunjuk Dinda pada tanda nama yang berada di d**a atas kanannya yang langsung bisa dibaca dengan jelas oleh Mahesa. Mahesa merasa sangat sebal. Gadis itu selalu saja bisa menjawabnya. "Gak penting!" kata Mahesa seraya masuk ke kelas yang siswanya pada berisik dikarenakan gurunya belum datang. Dinda mengangkat wajahnya dan melihat plang tanda kelas di sana. XI MIPA 2. Dinda tersenyum senang. Ketika ia melangkahkan kaki masuk, angin segar berhembus dan mengibarkan rambutnya. Langkah kakinya melambat. Beberapa siswa tanpa sengaja menoleh ke arahnya dan melihatnya yang sangat cantik berjalan seperti artis iklan shampo ke dalam kelas mereka. Satu siswa dari para siswa siswi di kelas itu menyuruh teman-temannya untuk diam menutup mulut dengan salah satu telunjuk diarahkan ke bibirnya. "Sssstttttt!" kata pemuda itu yang langsung ditanggapi seluruh siswa kelas itu. Mereka semua memandang takjub ke arah Dinda yang kecantikannya sekelas Natasha Wilona atau Emma Watson. Tak berselang lama, satu guru perempuan berkacamata memasuki kelas dan mendahului langkah Dinda lalu berhenti tepat di depan Dinda. Demi melihat pesona Dinda yang cantik itu, ia sampai melepas kacamatanya dan memerhatikan Dinda dengan seksama. "Saya siswi baru, Bu," kata Dinda pada guru tersebut dengan senyuman khas yang menambah kesempurnaan parasnya. Para siswa berdehem lembut dan terbuai dengan senyum Dinda, kecuali Mahesa yang terlihat malas. Ia merasa sial hari itu dan itu semua ia pikir karena Adinda. "Oh, kamu yang pindahan dari Bandung itu?" tanya guru Fisika yang juga merangkap menjadi wali kelas XI MIPA 2. Dinda mengangguk membenarkan ucapan guru itu yang tersenyum melihat satu muridnya sangat cantik. "Kau cantik sekali, sama persis seperti aku saat muda," kata guru tersebut narsis yang membuat Dinda menatap baik-baik ke arah gurunya dan beberapa siswa berseru dengan nada yang aneh. Seolah tak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakannya barusan. Ya, bagaimana para siswa di sana bisa percaya? Dinda memiliki bibir yang bagian bawahnya terdapat garis belahan, bentuknya pun mungul dan indah, tak seperti gurunya yang cenderung tebal. Kulit Dinda putih, gurunya sawo matang. Hidung Dinda macung sekali, tak seperti gurunya yang sedikit minimalis. Mata indah Dinda dengan bulu mata asli yang lentik itu berbanding terbalik dengan mata sipit gurunya dengan bulu mata yang lurus seperti kena rebonding. Dan masih banyak lagi perbedaan mencolok lainnya diantara keduanya. "Yang cantik kayak Dinda ya, Mamanya, Bu," kata salah seorang siswa yang langsung disambut gelak tawa siswa lainnya. Sang guru menatap kesal kepada muridnya, tapi ia tak bisa marah, bagaimanapun buruknya siswa kelas XI MIPA 2 di mata guru lainnya, tetap saja kelasnya paling menonjol kalau soal berkompetensi dan nilai pelajaran. Kelas itu hanya sering gaduh saat jam kosong pelajaran, membuat kelas lain sangat kesal. "Kapan-kapan akan Ibu bawakan foto ibu pas masih muda," kata guru tersebut. "Aku sudah punya foto Ibu. Ada di album Mamaku. Ibu sama Mamaku satu angkatan, loh. SMA 3 Malang, kan?" kata salah seorang siswi. "Sudah-sudah, ayo sekarang kamu kenalkan dirimu, Dinda," kata Bu Guru tersebut. "Kenalkan, saya Adinda Adiswara," kata Dinda yang langsung membuat Mahesa mendongak kaget ke arahnya. Namanya sama dengan namanya. "Eh, kalen saudaraan? Kok nama kalian sama?" tanya Helen seraya menoleh ke belakang dimana Mahesa berada. Mahesa hanya mengedikkan bahu. "Tapi kalian gak ada mirip-mirpnya sama sekali kok. Dia putih, lo coklat eksotis. Nama kalian aja kale ya, yang mirip," imbuh Helen. Mahesa kembali mengedikkan bahu tanda ia tak peduli. Mahesa memang selalu tak memedulikan sesuatu yang menurutnya tak penting. Sementara Dinda menceritakan hobi dan kegemarannya, Mahesa menyumpalkan earphone ke telinganya. Salah seorang siswa angkat tangan kala Dinda masih membicarakan soal dirinya. Sang guru mempersilahkannya bertanya. "Dinda, kamu udah punya pacar? Kriteria cowok kamu bagaimana?" tanya siswa itu yang langsung mendapatkan sorakan ramai dari teman-teman kelas Dinda yang lainnya. Dinda tertawa kecil melihat tingkah konyol teman-teman kelasnya. "Gak ada kriteria khusus jadi pacar aku. Yang jelas harus satu," kata Adinda dengan senyum yang penuh arti. "Dia harus bisa mencuri hatiku dan Ayahku," lanjutnya. "Ah, gampang." "Bagaimana kau bisa mencuri hatiku dan Ayahku?" "Tenang saja, aku bisa mengatasinya," kata siswa itu dengan berani. Dinda hanya tertawa kecil seraya mengangguk mengerti, lalu ia meminta ijin kepada gurunya untuk duduk. "Kamu duduk di ..." mata Bu Guru tersebut mencari-cari bangku kosong. "Apa boleh di sana, bu?" tunjuk Dinda ke arah Mahesa yang menunduk karena sedang main game di ponselnya. "Boleh," kata Bu Guru tersebut. Dinda tersenyum senang dan segera berjalan ke arah di mana Mahesa berada, kemudian dengan segera ia menghempaskan pantatnya begitu saja di bangku sebelah Mahesa. Sontak lelaki itu langsung menoleh dan kaget melihat keberatan Dinda yang dengan ajaibnya duduk di sebelahnya sembari tersenyum cantik ke arahnya. Mahesa tak membalas senyum itu. Lelaki itu benar-benar dingin seperti es di kutub utara. "Lo duduk di sini sampai pelajaran bu Nurul selesai," kata Mahesa dingin. "Ya emang, lo lupa, ya? Kita habis ini bersihkan kamar mandi," kata Dinda acuh tak acuh. Bu guru Nurul sudah memulai menerangkan pelajaran Fisika kala Dinda dan Mahesa masih berdebat hingga bu Nurul menoleh ke arah keduanya dan meminta mereka menyelesaikan soal di papan tulis. Dinda berdiri dari kursinya. "Kalo lo pinter dan gak mau duduk sebelahan sama gue di sini, ayo kita cepat-cepatan nyelesaikan sepuluh soal di papan tulis. Lo lima, gue juga lima," tantang Dinda. "Sapa takut. Kalo lo kalah, gue mau lo pindah duduk sekarang juga, selesai kita maju ke depan." "Boleh. Tapi kalo lo yang kalah, lo harus nemenin gue kemanapun selama sebulan. Gue perlu tahu Malang dan sekolah ini lebih jauh," kata Dinda. Jika benar ia bisa menang, maka ia akan mendapatkan jalan-jalan gratis ke Malang yang sudah terkenal dengan tempat wisatanya. "Deal," jawab Mahesa. Keduanya berdiri dan mengambil bulpoin untuk papan tulis di depan. Mereka berlomba-lomba memberi jawaban kepada sepuluh soal yang tertera. Terkadang Mahesa berhenti untuk membaca soalnya kembali saat ia merasakan sakit di bagian kepalanya yang peenah terluka. "Saya sudah selsai, Bu," kata Dinda yang langsung membuat Mahesa diam seribu kata. Mahesa hanya kurang satu soal saja. Tapi Dinda sudah lebih dulu selesai, padahal soal yang dikerjakan oleh Dinda jauh lebih sulit dari yang Mahesa kerjakan. "Ibu emang denger, kamu juara olimpiade Fisika tahun lalu, kan?" kata Bu Nurul yang seketika membuat Mahesa memucat. Mahesa salah estimasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD