Alma dan Ririn masih saja berbincang-bincang mengenai pacar barunya itu. Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua, jika sedang berkumpul selalu mengutarakan isi hatinya masing-masing. Bahkan, Alma selalu memperlakukan Ririn seperti saudaranya sendiri. Hanya saja, ia tidak tahu jika dibalik kebaikannya Ririn, tersimpan hati yang penuh dengki dan iri. "Bagus lah kalau begitu, jadi dia pengertian sama kamu. Kamu harus bersyukur karena dia tidak seperti mantan aku, pelitnya mengalahkan Nyi Endit, makanya aku minta putus saja," kata Ririn dengan santainya. "Apa! Kamu sudah putus lagi?" kata Alma tercengang. "Iya, kenapa? Ada masalah kah?" tanya Ririn sembari mendelik ke arah Alma. "Tidak, cuma terkejut saja, soalnya baru kemarin pacaran, masa sudah putus lagi?" celetuk Alma. "Biarin, soaln

