Waktu terasa begitu lambat di dalam safehouse, bahkan detik jam seolah menyesuaikan ritme dengan tetesan infus. Suara burung camar di tepi pantai dibawa jauh oleh angin, menembus sela-sela papan penutup jendela. Sesekali suara kapal turut memecah hening, menelan derap langkah tim famiglia yang bergantian memeriksa perimeter. Kipas tua terus berputar, mengeluarkan bunyi klik—klik—klik yang ritmis. Gyan tertidur di lantai, di atas beberapa papan yang ia gunakan sebagai alas. Sudah dua jam berlalu sejak Matteo melakukan tindakan pada François, ia baru saja masuk kembali ke ruangan itu, memeriksa tanda vital pasiennya lalu duduk sambil menyusun catatan medis. Ia menguap, menggelengkan kepala, berusaha mengusir kantuk. “Bagaimana keadaannya?” Suara Gyan membuat mata Matteo melebar. Ia menut

