Kelam tak datang pelan-pelan, seluruh rubanah berada dalam kegelapan absolut. Suara pun nyaris tak ada, hanya menyisakan dengung pendek dari panel listrik yang mati mendadak. Tak ada jeda. Tak ada peringatan. Gelap menelan mereka tanpa kompromi. Belle mengulurkan tangan, menyelipkan dua senjata ke Gyan. Satu digenggamnya, satu lagi ia serahkan ke Bruno. Untunglah mereka saling bersisian saat meeting tadi. Gyan dalam mode siaga—refleks tubuh yang lebih cepat dari kendali pikiran. Di sudut matanya, tersisa bias cahaya dari retina yang tadi menatap layar. Setelahnya… hanya hitam. Lalu, terdengar suara menghantam meja. ‘Duk!’ Satu ketukan telapak tangan, datar, pukulan tunggal—kode kuno yang pernah Antoine ajarkan pada Gyan. Hening. Semua orang di ruang komando menahan gerak. Kursi ya

