“Apa yang harus kulakukan jika kamu membuat kekacauan saat meeting?” tanya Bruno. “Siapa kamu?” balas Gyan sembari merangkul Bruno. Bruno mendengus. “Usir saja semua orang dari ruang meeting,” lanjut Gyan, menjawab pertanyaan Bruno. Bruno mendecak. “Lihatlah di luar,” ujar Gyan lagi. “Langit Paris kelabu lagi. Padahal waktu kita mendarat dari Jakarta, warnanya biru cerah.” “Sepertinya... lebih baik aku mendaftarkanmu ke psikiater sekarang.” Gyan mendengus. “Aku mengkhawatirkannya.” “Dia juga pasti mengkhawatirkanmu,” balas Bruno. “Apakah dia akan sekacau aku?” “Tentu tidak. Tidak mungkin!” sanggah Bruno. “Sialan!” Tiga hari setelah Belle terbang ke Milan, Gyan masih lebih sering memikirkan kekasihnya itu di sela-sela kesibukannya. Mood-nya fluktuatif, dan cukup memburuk jika ti

