Sebuah Mimpi Indah

2762 Words
Rasa cinta tidak selalu menggebu Mengguncangkan d**a serta rusukmu Seringkali datang layaknya bunga kapas Ringan namun terasa menyesakkan tiap hembusannya *** Sebuah Mimpi Indah Pagi telah menjelang ketika kumandang ayam jago menyapa pendengaran. Kicauan burung gereja menambah ramai suasana di pagi hari. Seberkas cahaya masuk melalui celah-celah tirai. Sinarnya tepat mengenai seorang pemuda berwajah damai yang masih terlelap di dalam mimpi indahnya. Ia hanya menggumam sebentar lalu berguling untuk menghindari terpaan cahaya. Memang bisa menghindari cahayanya namun sayang hanya sekejap. Angin sepoi-sepoi tertiup lembut menyebabkan tirai tersibak sepenuhnya. Dan, cahaya mentari telah seutuhnya memenuhi ruangan berantakan ini. "Argghhh, kenapa bangun sepagi ini sih!?" Pagi? Bagaimana bisa menyebutnya terlalu pagi saat jam weker menunjukkan angka sepuluh? Tidak biasanya ia bangun sesiang ini. Ditambah lagi mengeluh karena telah terbangun di pagi hari. Rambut coklat tua spikenya berantakan, ada sepasang lingkaran hitam menjadi hiasan alami pada wajahnya. Bibir tipis itu tersenyum sejenak, lalu menggerutu karena pagi telah menjelang. Entah karena hal apa, mungkin ada bidadari cantik yang ia temui. Perlahan menuruni tempat tidur. Mengambil beberapa sampah kertas di seputaran kasur dan membuangnya pada tempat sampah di dekat kamar mandi. Masih dengan mata setengah terpejam, ia berlalu menuju kamar mandi. Dapur minimalis menjadi pemandangan selanjutnya setelah menuruni dua puluh empat anak tangga di lantai dua. Setelah berbelok ke kanan terdapat ruang makan keluarga. Di sana telah duduk dua orang dewasa dan seorang remaja putri yang sangat manis. Ia berambut coklat muda sebahu, ikal dan kulitnya putih pucat, ada bintik-bintik kecil di seputaran tulang pipinya. Matanya berwarna hitam kelam. Ruang makan di rumah ini bersebelahan dengan dapur. Terdiri dari empat kursi dan meja yang terbuat dari kayu jati. Ada lukisan pemandangan sebuah desa terpencil dipajang pada tembok. Sebuah vas bunga berukuran sedang menghiasi meja panjang yang diisi oleh berbagai menu sarapan. "Ada apa denganmu, huh?" "Apa sih?" Ia menarik kursi di sebelah gadis muda yang masih memandangi dengan pandangan ingin tahu. Setelahnya, mengambil menu sarapan. "Jangan menjawabku seperti itu Rey jelek." "Kamu yang seharusnya menjaga sikapmu, Audrey. Ingat! Aku ini kakakmu," ujarnya menepuk-nepuk kepala adik kesayangannya. "Huh.. Oke, aku mengalah." "Wahahaha, tumben tidak ada perlawanan seperti ini." "Aku hanya mencoba hormat pada kakak yang sudah tua sepertimu," jawab Audrey lalu tertawa kecil karena berhasil meledek. Ia menatap sosok kakaknya dengan pandangan ingin tahu. Beberapa kali mengerjap tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari Rey. Audrey menaruh alat makannya lalu mengedip-ngedipkan mata –mencoba untuk menarik perhatian. "Hmm kamu benar-benar hormat kepada kakakmu yang tua ini. Apa yang ingin ditanyakan? Mumpung aku lagi berbaik hati,” jawabnya tersenyum tipis. Kedua orang tua mereka hanya mengulum senyum. Waktu berjauhan dulu tidak mengetahui bagaimana hubungan kedua anaknya. Hingga akhirnya sekarang dapat melihatnya, bahwa kedua anak ini hidup akur selama ditinggal ke Belanda. Hal ini membuat mereka bersyukur dan tidak menyesal mempercayakan semuanya terhadap Rey. "Kenapa ada dua lingkaran hitam di bawah matamu, Rey?" Audrey kembali bertanya. Ia memajukan wajahnya untuk melihat dari dekat kalau yang dilihat adalah benar. Ada garis mata hitam tipis di bawah kelopak mata kakaknya. Audrey tersenyum penuh arti seakan membaca yang dialami oleh Rey. Sesudah itu terlihat berbisik-bisik dengan Ibu dan Ayah. "Itu..." Bukan hanya Audrey, orang tua mereka juga menunggu jawaban pasti dari putra sulungnya. Tidak biasanya ia bangun sesiang ini, dan munculnya dua garis hitam bawah mata. Jika bukan karena tugas kuliah, pasti mengenai hal lain yang sama pentingnya. "Ada apa, Rey?" Giliran ibu dari pemuda itu bertanya. Ia berhenti makan untuk mendengarkan penuturan darinya. Kedua tangan Rey mengetukkan jari pada meja. Sangat terlihat jelas kalau gugup. Kebiasaan ini dilakukannya sejak berumur lima tahun. Jika diamati, sosok Rey lebih banyak kemiripan dengan Ibunya. Yang membedakan hanyalah corak kulit sawo matang dan mata hitam kelamnya. "Aku tidak bisa tidur." Sebuah kalimat yang terlalu singkat, padat dan tidak jelas. Akan ada pertanyaan selanjutnya jika jawabannya semudah itu. Sayangnya hal ini tidak benar-benar terpikirkan oleh Rey. Menurut pemikirannya asal menjawab pertanyaan saja sudah cukup. Tidak peduli dengan komentar lain yang dilayangkan padanya. "Hahaha. I don't think so, boy." Kali ini Ayah Rey bersuara. Ia paling paham yang tengah mendera anaknya itu. Rambut coklat tua ikalnya terlihat berantakan, mungkin efek baru bangun dari tidur. Hidungnya mancung dengan perawakan galak. Satu hal lagi, ia berbadan besar tinggi walaupun sosok Rey berhasil melewati tingginya. "It's a girl, right?" "Bukan, Ayah. Aku hanya tidak bisa tertidur lelap." "Bagaimana kalau kita ganti pertanyaannya.” Sepasang mata coklat tua itu memicing. "It's a boy, huh?" Sontak saja seluruh ruang makan menjadi ramai dipenuhi gelak tawa dari Audrey, Ibu, serta Ayah. Rutinitas begini jarang ditemukan di hari-hari biasa tanpa kehadiran mereka. Menggoda anak sulungnya ternyata menyenangkan. Karena biasanya ia adalah pribadi dingin yang jarang menampilkan ekspresi. Mereka bahkan takut jika tidak ada satu gadis pun mendekati Rey. "That's not funny, Dad." Ia mengerucutkan bibirnya sebal. Layaknya seorang anak kecil yang tengah merajuk mainan baru. Ini pertama kalinya Rey diejek oleh Ayah. Malu dan kesal bercampur menjadi satu. Pertanyaan yang dilontarkan padanya tidak sepenuhnya benar. Jika yang dibahas adalah yang pertama maka hal itu benar adanya. Ada seorang gadis telah mencuri perhatian Rey sejak pertama melihatnya. Pertemuan itu bisa dikatakan sangat singkat dan hanya terdiri dari beberapa kalimat tidak berarti. Jadi, bisa jelaskan yang terjadi dengan pemuda ini? "Hahaha, sumpah deh Rey. Kamu benar-benar pintar membuat kami dalam suasana hati yang baik." Entah sebuah pujian atau sindiran Audrey berkata dengan tersenyum lebar yang bagi Rey sendiri merupakan ejekan. Ia melanjutkan sarapannya tanpa peduli ekspresi kakaknya yang semakin tidak terbaca, entah itu kesal atau marah. "Terserah padamu saja, Drey." “Memang benar kata Audrey, Rey. Dalam keluarga ini hanya kamu yang bisa membuat perasaan kami kembali membaik.” “Kami sangat bersyukur memilikimu..” ujar Ibu menimpali. Kali ini mendengar penuturan kedua orang tuanya membuat ia tersenyum simpul. “Thanks Dad, Mom.” “Oh ya, Ayah sampai lupa. Kapan kamu memperkenalkan gadismu, hm? Agustus tahun ini umurmu sudah dua puluh tahun.” Ia bungkam tanpa berkata-kata Selama ini tidak satu pun gadis mampu menarik perhatiannya. Sejak kepindahan ke Indonesia belum sempat dekat dengan siapa pun. Satu hal yang pasti. Gadis yang diinginkan bukan hanya cantik tapi memiliki sifat baik dan periang. Tidak ada lagi yang bersuara. Mereka kembali melanjutkan sarapan dalam diam. Sama halnya dengan Rey yang lesu. Kalau dulu ia selalu menghabiskan makanannya di dalam situasi apa pun. Namun kali ini berbeda. Ia sama sekali tidak menyentuh daging asap, telur mata sapi kesukaannya dan keju. Hanya menghabiskan roti gandum dan jus buah. Tentu saja hal ini membuat seluruh penghuni meja makan bertanya-tanya. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" "Hm? Hanya kurang berselera." "Kamu yakin? Ibu bisa mengantarmu ke dokter keluarga kita." Audrey dan Ayah menghentikan makan. Menoleh pada Rey berbarengan. Mungkin benar apa yang dikatakan Ibu. Wajah pemuda itu sedikit pucat. Rasanya karena ia tidak dapat tertidur pulas. "Kamu sakit, Kak?" "Tidak, Drey. Hanya mengantuk." Ayah terdengar memotong daging asap di atas piring. "Ia memang sakit, tapi hatinya." Pandangan yang semula terpaku pada sarapan berpaling memandangi anaknya. "Karena tidak dapat menemui orang yang ditaksirnya, dulu aku juga seperti itu," lanjut Ayah memperjelas maksud perkataannya. Bukan tanpa alasan wajah seseorang memerah kan? Sangat kontras dengan kulit pucatnya. Semburat merah itu membenarkan pernyataan Ayah. Bukan hanya itu, kini pandangan matanya dialihkan ke sekitar. Yah, tentu saja ciri orang yang gugup. "Hahaha.. Ayah memang pandai menebak. Iya kan, Kak?" Audrey ikut memanas-manasi. Malu untuk menjawab, ia memilih untuk melanjutkan sarapan yang tertunda. Tidak menghiraukan adik satu-satunya yang masih saja mengganggunya. Untuk saat ini jika boleh ia ingin menyembunyikan wajahnya memakai karung boni. Sifat acuh tak acuh, dingin terhadap setiap gadis yang ditemui, jarang menampilkan ekspresi menyenangkan, dan tidak peka terhadap sekitar. Sifat inilah yang telah mendarah daging pada diri Rey. Kali ini terpatahkan hanya karena seorang gadis. Jika diperhatikan wajah pemuda itu sedikit merona, ekspresi di wajahnya bahagia bahkan terlihat sangat senang. Ia juga menghiraukan setiap ejekan yang ditujukan padanya. Bukankah hal itu aneh? Dalam waktu satu minggu ia telah berubah menjadi pribadi yang benar-benar manusiawi. Hal ini memancing gelak tawa dari keluarga. Setidaknya ada hal positif jika Rey dekat dengan mahluk bergender perempuan. Ibu hanya mengulum senyum saat kedua orang yang dicintai menggoda Rey. Setidaknya cukup terhibur hingga waktu sarapan tidak membosankan seperti hari-hari biasa. Dulu sewaktu di Belanda. Setiap hari memikirkan waktu agar bisa berkumpul lagi bersama kedua anaknya. Menikmati sarapan, makan siang, dan makan malam bersama. Kali ini semua telah terjawab sejak keputusan suaminya untuk melanjutkan bisnis keluarga di Indonesia. .+.+.+.+.+. Seusai sarapan Rey kembali ke lantai atas -kamar miliknya. Membaringkan tubuhnya ke kasur empuk guna menghilangkan suntuk. Ia mengambil pemutar musik di dalam laci sebelah tempat tidur. Kemudian, menyisipkan earphone di telinganya. Hendak mendengarkan musik jazz yang dapat menenangkan hati. "I thought  I'm going crazy." Ia bergumam sendiri, menyentuh rongga d**a. Merasakan debar jantung yang terus saja mengusiknya. Hal ini berulang-ulang terjadi selama beberapa hari terakhir. Parahnya adalah bayang-bayang gadis itu seringkali merasuk di dalam mimpi. Alam bawah sadarnya. "Aku harus bagaimana?" Rey bertanya sendiri seakan kehilangan akal. Walaupun mendengarkan lantunan musik kesukaannya. Tetap belum bisa mengusir risau yang menyebabkan tidurnya tidak pulas. Ia berguling hingga kini telah tengkurap menghadap sebuah lemari pakaian berkaca besar di tengah-tengahnya. Kemudian memandangi pantulan wajahnya. Banyak hal yang dilihat. Mulai dari pantulan gambar kasur, jendela, hingga hal berantakan lain. Ia tersenyum lembut memandangi pantulan wajahnya. 'Rupanya seperti ini wajah orang yang sedang jatuh cinta.' Ia bergumam sendiri. Tidak menyadari getaran ponsel di sebelah. Hitungan menit berlalu. Rey mengambil ponsel layar sentuh miliknya. Saat membaca isi pesan singkat dari seseorang, segera saja bangkit berdiri dan merapihkan pakaian seadanya. Setengah berlari melewati pintu kamar dan membanting dengan keras. .+.+.+.+.+. Terik matahari masih menyapa seluruh pemukiman penduduk di daerah Sanur. Meski pun menyalakan penyejuk ruangan, tetap saja hawa panas menjadi hal mengganggu bagi sebagian orang. Tidak terkecuali bagi seluruh pemilik rumah makan di pinggir jalan dekat pantai Sanur. Rumah makan yang cukup besar dan ramai menjadi tempat pas untuk bertemunya kedua pemuda ini. Plang di luar bertuliskan Restoran Pemudi. Sebuah restoran letaknya di dekat Pantai Sanur. Dari pengakuan banyak orang restoran ini terkenal dengan steak yang enak. Mereka duduk di pojok ruangan bersebelahan meja bar. Ada hiasan pada tiap-tiap dinding menyerupai bunga jepun bali. Kemudian, lentera kertas berwarna-warni menggantung di tiap-tiap meja. Di dekat mini panggung terdapat sebuah piano hitam mengkilat –biasanya digunakan pada malam hari. "Jadi, kenapa mengirimi pesan singkat seperti ini, hm?" Ia menyodorkan ponsel, menampilkan beberapa kalimat yang diketahui milik sahabatnya. Di mana menjelaskan bahwa akan pergi untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Bukannya langsung menjawab. Ia justru menarik kedua sudut bibir, tersenyum. Menyentuhkan punggung tangan pada dagu dan menatap sosok Rey yang kebingungan. Sampai sekarang ia masih tidak bisa percaya bahwa orang di hadapannya adalah sahabat terdekat. "Melihatmu pendiam seperti sekarang membuatku bergidik ngeri." "Haha, aku hanya berpikir Rey," jawabnya menyenderkan punggung pada sandaran kursi. Tidak berubah sama sekali. Sifatnya masih menjengkelkan seperti sebelum-sebelumnya. Yang membuat berbeda hanya model rambut. "Berpikir mengenai apa?" Baru saja hendak menjawab pelayan datang membawa sebuah nampan besar berisi satu porsi kentang goreng, satu porsi steak tenderloin dan dua gelas jus melon. Sontak saja ia membantu meletakkan seluruh makanan di meja. Rey tersenyum setelah semua menu yang mereka pesan dihidangkan. Setelahnya, ia mengambil jus melon menyeruputnya. Lalu, menyunggingkan seulas senyum tipis. Bahkan, terlihat samar. "Aku berpikir tentang reaksimu yang terlalu berlebihan seperti sekarang." Lagi, ia tersenyum mengejek. Bila diingat kembali, perkenalan mereka bisa dikatakan sangat aneh. Karena bermula dari permusuhan. Berkat hal itu ia menjadi pembicaraan hangat di kampus. Sebagai lawan yang menjadi kawan. Rey tengah memotong daging steak. Namun segera menoleh saat Brandon berbicara. Ia meletakkan garpu dan pisau. Kedua alisnya bertautan mencoba memahami maksud perkataan sahabatnya. "Berlebihan? Kamu bercanda?" Ia mengambil tisu dan membersihkan sisa saus yang menempel di sudut bibir. "Tiba-tiba saja mengirimkan pesan bahwa akan melanjutkan kuliah di Singapura. Kamu kira itu lucu, hah?" Dari perkataan Rey, ia benar-benar menentang kepergian sahabatnya, Brandon. Yang membuatnya marah adalah Brandon pergi besok dan baru memberitahu pada hari terakhirnya berada di Indonesia. Lebih tepatnya Bali. "Hahaha, tahan emosimu Rey. Jangan sampai aku gagal ke Singapura hanya karena harus dirawat di rumah sakit." Padahal ia tahu Rey benar-benar marah. Justru, Brandon kembali menyunggingkan senyum lebar. Ia paham dengan baik perilaku sahabatnya. Meski terdengar hendak memukul, tapi itu mustahil. Rey hanya menggertak kecil. "Tentu saja tidak. Aku hanya kesal. Dengan siapa lagi aku berdiskusi maupun bercerita hal yang kusukai?" "Oh ya? Kamu masih punya tembok di kamarmu, kan? Setidaknya bisa bercerita padanya. Ia tidak akan menyela bahkan diam seribu bahasa." Brandon terlihat menahan tawanya. Apalagi melihat ekspresi kesal Rey. Ia benar-benar tidak menyesal akan melanjutkan kuliah di luar negeri dan memberitahu satu hari sebelum keberangkatannya. "Kamu tahu? Leluconmu benar-benar tidak lucu. Aku hampir saja tersedak." "Aku hanya mencoba menghiburmu. Sudahlah Rey, kamu bisa menceritakan apa pun padaku melalui email. Aku pasti membalasnya." Kali ini bukan sebuah ejekan melainkan sebuah senyum tulus dari seorang sahabat. Rey balas tersenyum, ia baru menyadari satu hal. Bahwa mereka tidak pernah bertengkar dalam kurun waktu lama. "Baiklah jika itu pilihanmu. Sebagai teman aku hanya bisa mendukung keputusanmu." "Terima kasih, Rey." "Hal apa yang mendasarimu pergi ke sana? Setahuku kamu tidak punya keluarga di sana dan nilai kuliahmu jauh di atas rata-rata." Brandon tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Rey. Tangannya sibuk memencet tombol qwerty pada ponselnya. Siapa pun tahu bahwa ia mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Apa saja boleh ditanya selain pertanyaan mengenai alasan kepergiannya yang tiba-tiba. "Jawab aku! Kali ini pasti karena Dewi, kan?" "Rey! Ini bukan karena dia. Aku masih merasa nilaiku perlu ditingkatkan lagi. Dan, satu-satunya cara adalah dengan belajar di Singapura." Tangannya mengambil jus melon yang dipesan dan menyeruputnya habis tak tersisa. Ternyata orang yang emosi bisa juga kehausan, ya? "Semua teman di kelas juga tahu, gadis yang telah menarik perhatianmu sejak semester satu. Ia baru saja jadian dengan ketua BEM seminggu lalu." "Hahahaha.. Apakah aku menyedihkan?" "Tidak perlu tertawa seperti itu. Kamu tidak menyedihkan. Setidaknya sudah berusaha." "Aku bukannya sakit hati. Hanya saja kecewa. Aku sudah dekat dengannya hampir satu setengah tahun lalu, tapi ia justru berpacaran dengan orang yang baru dikenalnya sebulan." Tangan Rey terulur menepuk pundaknya, "Sudahlah.. Jika pergi ke Singapura adalah obat terbaik bagimu, maka pergilah." "Terima kasih. Ah ya, aku pergi duluan. Ada beberapa hal yang perlu dibereskan." "Sampai jumpa," ucap Rey sambil melambaikan tangan beberapa kali. Hingga sosok sahabatnya telah menghilang dari kerumunan orang yang datang. Cukup lama ia menghabiskan seporsi steak tenderloin. Rey mengunyah dalam diam. Seingatnya ada yang ingin diceritakan pada sahabatnya. Tapi, bingung mengenai hal apa. Sampai akhirnya menaruh alat makannya dan menengadah. ‘Aku lupa menceritakan tentangnya,’ batinnya di dalam hati. .+.+.+.+.+. Mentari telah terbenam di ufuk barat. Warna biru, oranye, dan putih menjadi perpaduan indah di langit yang luas. Saat sepenuhnya cahaya telah pudar, muncul puluhan bintang berpencar di seputaran langit hitam pekat. Hadirnya sang rembulan menambah kesan indah bagi siapa pun yang melihatnya. Sebuah jendela di lantai dua terbuka. Dari sana kita dapat melihat sesosok pemuda yang tengah kebingungan. Ia dari tadi berjalan kesana kemari –walaupun hanya seputaran kamar. Sebelah tangannya dipakai untuk menyangga wajah. Banyak foto yang bertebaran di tempat tidurnya. Ada gambar pemandangan, bunga, pohon-pohon rindang, dan bunga-bunga yang telah layu. Namun dari sekian banyak foto hanya ada satu yang mencuri perhatiannya. Seorang gadis berpakaian dress pantai putih dengan saku di bagian bawah. Ia terlihat sangat cantik di foto itu. Dengan melihatnya saja sudah jelas bahwa foto ini diambil secara diam-diam oleh seseorang. Dan orang itu adalah pemuda yang dari tadi mondar-mandir di kamarnya. “Apa yang bisa aku lakukan?” Ia bertanya sendiri. Tentu saja ia tidak sedang bertanya pada tembok. Atau, mulai mempertimbangkan saran temannya yang menyuruhnya untuk menceritakan apa pun pada tembok? Ia tidak segila itu kok. Hanya bingung dengan perasaan yang mengganggu tidurnya beberapa hari ini. Rasanya sesak di d**a. Dan, ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Tok.Tok.Tok. “Rey, kamu berisik sekali!” Terdengar omelan Audrey dari luar. Ia tidak sadar menaikkan nada suara hingga gumamannya terdengar sampai keluar kamar. Tentang apa yang dirasakannya setelah sekian lama. “Bukan urusanmu, Drey. Pergilah!” “Huh, dasar menyebalkan.” Karena tidak ada suara lagi terdengar, ia pun memilih untuk duduk. Meregangkan otot-otot punggung pada kursi malas di depan meja belajar. Mata coklatnya menerawang jauh. Mengingat kembali pertemuan dengan gadis manis pencuri hatinya. Ia pencuri ulung yang cantik. Sebuah senyum lebar terkembang dan raut wajahnya bahagia. Hanya dengan mengingatnya saja sudah semenyenangkan ini. Apalagi bisa bertemu lagi dengannya? Ia pasti bias bertemu dengannya. Bukan sekarang atau pun besok. Pasti suatu hari lagi saat malaikat cinta telah yakin memilih mereka berdua untuk dipersatukan. Atau, ia bisa mengatur waktu agar bisa bertemu dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD