Gadis yang belum genap delapan belas tahun itu selalu mampu memukul telak Randi dengan kata-katanya. Setiap kalimat yang diucapkan bak anak panah yang menghunjam tepat di jantung. Mematikan kinerja seluruh sarafnya. Sepeninggalan gadis itu, Randi hanya mampu terdiam. Dua kalimat terakhir yang diucapkan Rena membuat tubuhnya gemetar. Tiba-tiba saja lantai tempatnya berpijak mengeluarkan hawa panas yang mampu membakarnya hingga menjadi abu. Bagai makan buah Simalakama. Jika dia menuruti keinginan sang ibu, maka hati istrinya akan tersakiti. Begitu pula sebaliknya. Titah sang ibu adalah harga mutlak, tetapi perasaan Alin juga tak kalah penting. Keduanya adalah wanita yang sangat ia cintai. Randi tercenung, tatapan matanya kosong. Kepalanya serasa mau pecah. Kenapa sang ibu suka se

