Mulai tergoda

1066 Words
Entah mengapa ada perasaan gelisah yang dialami King, saat Juyan dan Hera berlama-lama di dalam kamar. Keduanya pun keluar dari kamar. Masih terlihat Hera yang kaku berada di dekat King. Ia merasa tidak nyaman saat ini karena tatapan King yang sangat tajam mengarah kepadanya. Tanpa mengucapkan satu kata pun dari bibirnya. "Kenapa dia memandangku seperti itu? seharusnya ia mengatakan jika aku punya salah, jangan malah diam seperti ini," gumamnya dalam hati. Juyan memecah kesunyian dengan berpamitan kepada keduanya dan mengingatkan Hera untuk bersiap-siap karena jam 7 malam nanti, ia dan King akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Sepeninggal Juyan, Hera semakin takut karena King masih terus menatapnya dengan sinis. "Hei, kenapa lo masih berdiam diri disitu, rapikan tempat ini! ingat perjanjian pra nikah yang lo sudah tanda tangani, lo harus melayani semua keperluan gue termasuk membersihkan apartemen ini, apa lo mengerti?" "Sa..saya mengerti tuan," serunya sambil mulai merapikan semua barang-barang yang tadi mereka telah beli. Hera juga mengisi pakaian yang tadi baru saja di beli oleh King ke dalam lemarinya. Tidak lupa, ia mengisi bahan-bahan makanan ke dalam kulkas dan merapikan semuanya. King juga memerintahkan Hera untuk membersihkan kamarnya. Ia mulai memasuki kamar King. Kamar itu sangat luas, berbeda jauh dengan kamar yang ia tempati. Di dalam kamar itu ternyata ada ruang kerja King yang terhubung langsung dengan kamar utama, Hera mengedarkan pandangannya, alangkah nyamannya ia, jika tidur di atas ranjang King yang berukuran besar itu. Namun ia buru-buru menepis pikirannya itu dan mulai fokus merapikan lemari King yang sedikit berantakan. King masuk ke dalam kamar, seketika kaget dan berkata, "hei, apa yang lo lakukan? berani-beraninya lo menyentuh lemari pakaianku!" serunya marah. "Ma..maaf tuan, saya hanya mau merapikan pakaian tuan yang terlihat agak berantakan," ujarnya gugup. "Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu, ingat! lo jangan berisik, gue mau tidur!" "Ba..baik tuan," Hera melanjutkan pekerjaannya membereskan lemari King yang bukan hanya berantakan tapi sangat berantakan. Hera juga masuk ke dalam ruang kerja King, ia melihat jika ruang kerja itu, juga harus di rapikan. Kertas-kertas bekas berserakan dimana-mana. Ia berpikir jika semua ruangan yang ada di apartemen King sangatlah bersih, berbeda jauh dengan kamar pribadinya yang terlihat jarang di bersihkan. Hera mulai mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan itu dan memasukkannya ke dalam keranjang sampah. Lalu ia juga merapikan meja kerja King, saat ia fokus membersihkan meja itu, ia melihat satu bingkai foto terletak manis di atas meja. Bingkai itu berisikan foto seorang wanita cantik yang mungkin seumuran dengannya. Hera memandang foto tersebut, sepertinya ia pernah melihat wanita itu tapi ia lupa mereka pernah bertemu dimana. Ia juga membersihkan bingkai foto itu karena sudah mulai terlihat berdebu. Hera berpikir dalam hatinya, "jika King memang sudah memiliki kekasih, mengapa ia tidak menikah dengan pacarnya itu saja? kenapa malah mau menikah dengannya?" Ia kembali membunuh pikiran-pikirannya itu, karena menikah dengan King adalah satu satunya jalan untuk bisa membuat ayahnya bisa sembuh dari penyakitnya. Setelah selesai membersihkan kamar dan ruang kerjanya, Hera dengan pelan menuju pintu dan keluar dari kamar King dengan sebuah keranjang sampah yang penuh dengan sampah, lalu ia menutup pintu kamar itu secara perlahan, takut jika King bangun dan memarahinya. Ia segera meletakkan keranjang sampah itu ke dapur dan berpikir untuk membuangnya nanti jika mereka ke luar dari apartemen itu. Hera duduk di atas sofa, ia bengong sendiri dan tidak tau mau ngapain, perlahan rasa ngantuk mulai menyerangnya, dan ia pun tertidur di sofa. Pukul 5 sore, King terbangun dari tidurnya dan mendapati kamarnya sangat rapi dan bersih, ia iseng masuk ke dalam ruang kerjanya dan melihat jika ruangan itu juga telah dirapikan, bahkan bingkai foto Gladis juga telah bersih. Ia pun kembali keluar dari ruang kerjanya dan melangkah menuju lemari, ia bermaksud hendak mandi dan membuka lemari untuk mengambil handuk yang baru. Ia kembali terpana melihat isi lemarinya yang juga sudah dirapikan kembali oleh Hera. Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Lalu ia kembali sadar, "kenapa aku bisa tersenyum? apa aku sudah gila?" gumamnya dalam hati. Ia masuk ke dalam kamar mandi menyalakan air di shower dan membasahi tubuhnya yang penat. Sehabis mandi, ia melangkah keluar kamar dengan bertelanjang d**a, ia kaget saat melihat ada seorang wanita yang sedang tertidur di sofa, ia melangkah mendekati sofa dan melihat jika Hera sedang tertidur disana. Seketika dadanya kembali berdesir aneh, saat melihat Hera yang sedang tertidur. Ada yang kembali sesak dibalik celananya. "s**l! ada apa denganku? kenapa aku tiba-tiba seperti ini?" Ia buru-buru meninggalkan Hera dan berjalan menuju kulkas dan meminum air banyak-banyak untuk menetralkan gejolak di balik celananya. "Ini, tidak bisa dibiarkan!" gumamnya dalam hati. Suara King tiba-tiba menggelegar bagai petir yang siap menyambar, "hei lo! bangun.., sejak kapan lo menjadi pemalas?" Mendengar bentakan King, Hera seketika terbangun. "Ma..maafkan saya tuan, saya ketiduran." "Lo nggak lihat jam berapa sekarang? buruan lo siap-siap!. Hera kaget dengan penampilan King yang bertelanjang d**a, otot-ototnya terpampang nyata di depan matanya. Ia buru-buru melangkah menuju kamarnya, mengambil peralatan mandi, dan kembali berjalan menuju dapur untuk mandi di kamar mandi yang terletak disana, tanpa menoleh sedikitpun ke arah King yang menatapnya dengan tajam. Sementara itu, King kembali ke kamar dan memegang dadanya yang semakin berdegup kencang. Belum lagi ia harus menjinakkan alat tempurnya yang dari tadi masih tegak berdiri di balik celananya. "Ada apa denganku? mengapa setiap melihatnya hatiku bagai tersihir?" Setelah cukup menenangkan diri dan kembali menjinakkan torpedonya, ia pun mulai bersiap-siap. Sementara itu, Hera yang sudah selesai mandi dan hendak berdandan, menerima pesan dari Ewan, jika ayahnya sudah dipindahkan di ruang perawatan dan sudah siuman. Ia segera melakukan panggilan video dengan adiknya, ia sangat bahagia, melihat ayahnya melambaikan tangannya kepada Hera. Tak terasa air matanya menetes keluar, tak henti-hentinya ia mengucap syukur atas keselamatan ayahnya. Ia bertekad akan menjadi istri King walaupun hanya untuk berpura-pura selama setahun dan melakukannya dengan baik. Panggilan video itu harus ia akhiri karena teriakan King yang mulai menggelegar. Ia segera mempercepat berdandan karena takut, suaminya itu semakin mengamuk. Malam ini, Hera menggunakan dress di atas lutut berwarna biru lembut, ia merias wajahnya lebih natural sehingga kecantikan wajahnya semakin terpancar. Hera yang kesehariannya berpenampilan sporty, diam-diam mulai menyukai penampilannya saat ini yang lebih girly, maka dari itu ia sangat menyukai jika ia memakai dress yang pas di badannya sama seperti yang ia pakai saat ini. Hera keluar dari kamar, tatapan King terkunci kepadanya, King juga melirik Juyan yang juga terpesona dengan penampilan Hera. Seketika King berkata dengan lantang, "siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?" dengan emosi, King menarik tangan Hera menuju ke dalam kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD