"ustadz rifki!".
"injih bah". seketika suara sang abah membuyarkan pandangnnnya pada perempuan yg sedari tadi tidak sadar sedang di perhatikan.
abah Yasir yg diam2 menyadari tingkah putranya itu, sengaja memanggilnya.
"nanti njenengan bantu bu afrin untuk mengatur anak2 yg akan menampilkan penampilannya, sekalian di ajari juga, bu afrin nanti kan harus mendobel hadroh juga jadi sepertinya akan sedkit lbh bnyak kesibukannya".
"injih bah".
"bagai mana bu afri? nanti njenenga akan di bantu sma ummi & yg lainnya juga,?"
"kulo nderek mawon bah".
"kalau begitu sepertinya rapat kali ini sudah cukup jelas ya, maka untuk itu saya akhiri cukup sampai di sini, asalamungalaiku warohmatullohi wabarokatu".
"walikumsallm". jawab semuanya kompak.
sebenarnya afrina sedikit tidak setuju ketika mengurus acara, dirinya di sandingkan dengan ustadz rifki, bukan karna dia tidak menyukai lelaki itu, tapi dia sungguh tidak ingin berurusan dengan para fans dari laki2 itu yg tergolong bar2, tapi ketika abah yai sudah memberikan perintah ia tidak bisa berkutik untuk membantah.
sebenarnya mengajar di pesantren juga bukan keinginannya, tp karna dia adalah salah satu dari alumni MA terbaik dari ponpes itu, bahkan sebelum dia keluar dari pondok untuk melanjutkan kuliahnya abah yai sudah mewanti2 agar setelah afrina lulus sekolah iya di minta kembali lagi kepondok untuk membantu mengajar para santri di sana.
ayah afrina yg notabennya adalah sahabat dari abah Yasir jelas tidak akan bisa menolak permintaan sahabatnya itu, sehingga membuat afrina mau tidak mau hanya bisa menurut.
sosok afrina yg cuek, tidak peduli dengan urusan yg bukan urusannya, dia cenderung kalem pada orang yg baru dia kenal, tapi dia akan menjadi sosok yg sangat menyenangkan ketika sudah saling mengenaal. hal ini membuat afrina banyak di kejar2 kaum adam karna banyak dari mereka yg penasaran dengan sosok afrina. tidak di pondok tidak di kampus kuliahnya dulu.