afrina masih tidak paham dengan pertemuan keluarganya dengan keluarga besar abah Yasir itu di buat salah tingkah.
tiba2 suara abah Yasir membuyarkan pikirannya yg tengah sibuk berkelana kemana tau.
" jadi maksud kami semua berkumpul, satu untuk silaturahmi, kedua kami bermaksud ingin menjodohkan putra sulung kami dengan putrinya panjenengan"
abah yasir memulai membuka pembicaraan yg sukses membuatku ingin lompat dari tempatku duduk karna terlalu kaget.
ku pandangi wajah mama & ayahku secara bergantian, meminta penjelan pada dua insan malaikat tak bersayapkku itu.
" jadi begini ndok, abah Yai berniat menjodohkanmu dengan putra sulungnya yaitu ustadz rifki. apakah kamu bersedia menerima perjodohan ini?"
aku masih tak bergeming, mencerna kata2 laki2 terhebat sekaligus cinta pertama dlm hidupku ini.
"maksud ayah?" aku masih bertanya dengan bodoh, karna ini terlalu mendadak sehingga sukses membuatku seperti orang ling-lung.
ku tatap ustadz rifki yg terlihat lbh tenang dari pada aku yg entah sudah tak karuan perasaabku saat ini.
" abah sama umi, memintamu secara langsung kepada kedua orang tuamu untuk menjadi putru kami, dengan menikah dengan putra sulung kami" ulang abah Yasir menjelaskan.
"semua keputusan ada di tanganmu nak." kini suara ibu yg berbicara.
" tapi ini terlalu ter-buru2, apa ustadz rifki bersedia untuk di josohkan denganku?" sergahku dengan pertanyaan yg begitu saja terlontar dari mulutku.
" insyaalloh saya tidak menolaknya, selagi itu baik, & demi kebaikan untuk ke depannya saya tidak keberatan. saya percaya pilihan umi & abi adalah pilihan terbaik dari allloh melalui pilihan kedua orang tua untuk saya."
deg.
"pernyataan macam apa itu, bahkan selama ini diapun tidak tau tentang seluk beluk pria yg kini di katakan akan di jodohkan denganku, pria dingin nan cuek pada perempuan. bagaimana bisa aku menjalani hariku jika bersanding dengannya?" batin afrina bergumam.
" bagaimana nak afrin?" tanya ummi zahro seakan tidak sabar mendengar jawabanku.
"Lashira afrina bin BANI said, maukah kamu bertaaruf denganku?"
suara ustadz rifki singkat, namun sukses membuat jantung ini tersentak kaget seakan dia mau kelur dari tmpatnya. suara tegas penuh kesungguhan membuatku kembali terdiam tak bergeming.
"afrina mau tidak bertaaruf dengan ustadz rifki?" geram abangku yg sedari tadi hanya diam menyimak obrolan kami.
"semua pilihan ada di tanganmu nak, mama sama ayah hanya bisa mengantarkanmu ke gerbang masa depan yg menurut kami baik. jangan jadikan keinginan kami sebagai beban nak, tetap ikuti kata hatimu karns ini menyangkut masa depanmu sayang" suara bunda memberi kesan mendalam membuatku menarik nafasku dalam & menghembuskannya berlahan.
" afrina nderek ayah sma mma sja" aku menjawab dengan pasrah.
" kamu ikhlas menerima perjodohan ini ndok?" tanya abah Yasir meyakinkan jawabanku
" insyaalloh saya ikhlas abah"
" jadi kamu menerima permintaan taarufku? ustadz rifki kembali bertanya.
"bismillah, iya ustadz."
"alhamdulillah" jawab semua serentak.
"3bulan, kalian punya waktu 3 bulan untuk lbh mengenal satu sama lain, dalam tanda kutip tetap pada batasan masing2,!" tegas abah Yasir.
"injih bah" jawabku hampir bersamaan dengan ustadz rifki.
"setelah 3 bulan kalian berhak memutuskan, mau lanjut atau memilih jalan yg lain."
aku menghela nafasku berat, semua bak petir yg menyambar di tengah teriknya matahari. aku yg tak pernah membayangkan akan di jodohkan seperti ini jelas masih tidak bisa percaya begitu saja, apalagi dengan anak pemilik ponpes tempatku mengajar itu.