Chapter 2

540 Words
Zarina keluar dari aprtemen Abimanyu dengan perasaan yang tidak menentu. Dia merasa kecewa dengn Abimanyu dan juga Merri. Teman dan tunangan Zarina itu tega menusuknya dari belakang. Wanita itu terkekeh mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu. Berarti benar kabar yang sering Zarina dengar dari para sahabatnya, bahwa Abimanyu seorang pemain wanita. "Kalian memang sama brengseknya. Untung saja aku mengetahuinya lebih awal," Zarina merasa bersyukur karena dia mengetahui lebih awal pengkhianatan tunangan dan sahabatnya itu. Sampainya di perempatan Zarina berbelok kearah kanan, menuju kediaman ayahnya. Dia akan meminta ayahnya untuk membatalkan acara pernikahan yang akan dilaksanakan bulan depan. "Ayah, mana?" tanya Zarina saat kakinya sudah menginjak halaman rumah. "Ada diruanganya, Nona." Tidak menunggu lama Zarina memasuki rumah mewah, dimana dulu dia dibesarkan oleh ayah dan ibunya. Tapat saat kakinya menginjak ruang tamu, suara Kinaya langsung menyapa dirinya. "Hai, Zarina," sapa wanita yang umurnya terpaut dua tahun dari Zarina. Zarina mendengus melihat ibu tirinya duduk di kursi layaknya nyonya besar, "Dimana Ayah?" "Sharusnya kau tanyakan dulu kabarku. Apa kau tidak merindukanku? kita terakhir bertemu saat acara pernikahan kami," ujar Kinaya yang masih fokus membolak balik majalah. "Aku tidak perlu menanyakan kabar, mendengarmu banyak bicara itu sudah membuktikan bahwa kau baik-baik saja," ujar Zarina. Wanita itu langsung melangkahkan kan kakinya menuju ruangan ayahnya yang terletak di lantai dua tanpa menunggu jawaban ibu tirinya. Kinaya melipat kembali mejalah yang dia baca seraya memandang punggung Zarina. Sebenarnya di antara mereka tidak ada masalah apapun. Dulu sewaktu Kinaya menjadi sekretaris ayah Zarina di sering bertemu dengan Zarina di kantor. Anak tirinya itu sangatlah manis dan sopan. Tapi setelah statusnya berubah menjadi istri Mahendra sikap Zarina seketika berubah, terlihat jelas bahwa Zarina tidak menyukai Kinaya untuk menjadi ibunya. "Bisa kau ketuk pintu dulu?" Mahendra merasa kaget karena Zarina masuk tanpa menegetuk pintu terlebih dahulu. Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Abimanyu," ucap Zarina. Wanita itu langsung pada topik yang ingin dia bicarakan tanpa basa-basi terlebih dahulu pada ayahnya. "Jangan buat Ayah malu Zarina. Pernikahan kalian tinggal sebentar lagi." "Apa yang ayah dapatkan sehingga sangat memaksa untuk menikah dengan Abimanyu? Apa karena perusahaan?" "Kau tidak tahu apa-apa Zarina." "Ya, aku tidak pernah tahu apapun. Sampai ayah membawa wanita itu masuk ke dalam rumah ini pun aku juga tidak tahu. Ayah putuskan sendiri semuanya, tanpa berpikir bagaimana perasaanku." Zarina mengeluarkan semua yang mengganjal di dalam hatinya. Sudah cukup dia diam dan sekarang dia ingin ayahnya tahu bahwa dia sangat kecewa. Semu itu berawal saat ayahnya memutuskan untuk menikah lagi saat ibunya masih terbaring dirumah sakit. "Cukup Zarina! Tidak akan ada pembatalan pernikahan." "Baiklah jika Ayah memaksa. Ayah akan tahu siapa yang akan membuatmu malu. Aku atau calon menantu pilihanmu itu." Zarina meletakkan ponselnya ke atas meja, "Jika ayah masih tetap melangsungkan pernikahan ini, aku pastikan Ayah akan benar-benar malu." Mahendra hanya bisa menatap punggung pituerinya yang berlalu dari ruangan. Setelah itu dia meraih ponsel Zarina dan memutar vidio dimana Abimanyu sedang berhubungan layaknya istri dengan sekretarisnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD