CHAPTER 21

1467 Words
Lusi merebahkan tubuhnya di ruangan, ia meregangkan kakinya yang pegal karena berdiri selama 4 jam lebih. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal shiftnya mulai, ia dapat mengistirahatkan diri sejenak. Kakinya diangkat ke sandaran tangan sofa, tubuhnya telentang dengan tangan menutup mata. Ia mencoba mencari ketenangan agar dapat terlelap. Suara-suara berisik terdengar dari luar ruangan, hal tersebut cukup mengganggu bagi perempuan yang baru saja dapat menikmati istirahatnya. Diubahnya posisi tubuhnya untuk mencari posisi nyaman, namun suara-suara itu justru semakin mendekat. Lusi merentangkan tubuhnya dan mengeluh frustasi karena terganggu. Namun tiba-tiba tanpa persiapan, pintu ruangannya terbuka lebar menunjukkan para lelaki berjubah putih yang sempat ditinggalkannya tadi. Lusi membelalak tak percaya pada kehadiran tamu tak diundang di saat yang tidak tepat. Segera saja ia mengambil posisi berdiri, ia sangat malu dan mungkin wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya sambil mengumpat kecil karena kesialannya. Tamu yang tak lain adalah rombongan pak Rudi beserta direktur baru itu menatap aksi Lusi yang singkat itu. Dokter Rudi mencoba mencairkan kecanggungan yang terjadi dengan mempersilakan rombongan yang kini hanya terdiri dari 5 orang lelaki, 4 diantaranya tentu sudah bapak-bapak sebab mereka adalah para kepala divisi, dan hanya ada satu yang kemungkinan besar belum menikah ialah Edi. Dengan memaksakan senyum manis, Lusi mempersilakan pria-pria itu duduk sedangkan dirinya mengambil posisi di kursi tunggal yang biasanya digunakan oleh pasien ketika akan konsultasi. “Bukannya tadi Anda katakan ada pasien yang harus ditangani?” Edi membuka suara dan langsung menembak Lusi yang bahkan belum selesai dengan perasaan malunya ditemukan rebahan. “Ahhh… itu.” Lusi tergagap, ia bingung harus menjawab apa. ‘Kenapa juga aku harus bilang ada pasien tadi, aduhh..’ rutuknya dalam hati. “Saya meminta dokter Ana untuk mengambil alih jadwal operasi yang saya tangani.” Dokter Rudi menjawab pertanyaan Edi, dan Lusi selamat kali ini. “Mengapa demikian? Harusnya Anda tetap bertanggungjawab pada pasien Anda.” Kali ini dokter Rudi yang kena tembakan. Lusi hanya memperhatikan suasana tegang yang tercipta. Dokter Rudi berusaha mengendalikan diri agar tetap terlihat tenang. “Benar, seharusnya pasien tersebut ditangani siang ini. Dan berdasarkan perkiraan seharusnya tidak perlu meminta bantuan pada dokter Ana. Tapi pagi tadi keadaan darurat terjadi dan mau tidak mau harus diambil Tindakan operasi secepatnya. Saat itu saya juga harus berada di aula. Oleh karena itu saya meminta dokter Ana untuk mengambil alih.” Dokter Rudi menjelaskan panjang lebar tentang duduk perkaranya, dan raut mengernyit sang direkut perlahan melemas serta mengangguk paham. “Baiklah, tapi lain kali saya tidak ingin mengetahui jika ada yang mengalihkan tanggung jawabnya, selama masih bisa dikerjakan. Bahkan untuk acara penyambutan saya sekalipun, seharusnya Anda bisa meminta izin untuk lebih mengutamakan pasien Anda. Saya tidak ingin nyawa orang lain dipertaruhkan hanya untuk acara tidak penting.” Edi memberi penjelasan yang lebih ke arah peringatan. Lusi terperangah mendengar penuturan direktur baru itu. Ia tak menyangka jika lelaki di hadapannya seseorang yang cukup dewasa dengan profesionalitas yang tinggi. Padahal jelas-jelas dokter Rudi meninggalkan pasiennya (lebih tepatnya mengalihkan) untuk menghadiri penyambutannya, dan yang disambut justru ingin dirinya dianggap tidak lebih penting dari pasien. Lusi banyak mendengar cibiran-cibiran orang tentang bos mereka yang gila hormat dan harus diutamakan, tapi pimpinannya yang masih muda ini bersikap sebaliknya. “Baik pak.” Dokter Rudi menjawab singkat karena merasa sedang ditegur. Ekspresi sungkan juga turut ditunjukkan oleh ke-3 dokter senior lain yang berada di ruangan itu. Barangkali mereka sedikit terkejut karena seseorang yang lebih muda dari mereka dapat mengatakan hal demikian/ “Dan lagi, apa Anda sudah memastikan kondisi pasien Anda? Anda bahkan tadi berbohong.” Lusi kembali diserang, tapi ia tidak lagi malu seperti yang pertama. Kini ia hanya menarik nafas dan menunjukkan eskpresi tenang. “Maaf untuk itu. Saya sudah memastikan kondisi pasien baik-baik saja untuk dapat dibawa ke ICU. Dan lagi, ada dokter lain yang bertugas untuk itu. Saya memang berbohong karena saya perlu istirahat setelah berdiri selama 4 jam di ruang operasi.” Lusi menjelaskan dengan detil jika semua kondisi aman terkendali dan untuk masalah pasien tidak perlu dikhawatirkan. “Lain kali saya tidak memberi izin dokter rebahan di ruangan seperti Anda tadi. rumah sakit menyediakan ruang khusus untuk istirahat, seharusnya jika memang butuh, Anda bisa ke sana.” Edi masih tetap bertahan dengan wajah dingin dan tegasnya. Ia tak memberi kesempatan pada siapapun untuk melawan atau bahkan mengelak. Aura pemimpinnya ditunjukkan dan berhasil menciptakan persepsi lain mengenai dirinya, bahwa ia tidak bisa dianggap sepele. “Baiklah, saya tidak akan mengulanginya lagi.” Lusi menjawab dengan lemah, tiba-tiba saja ketegarannya yang sempat terbangun luruh menyisakan keengganan. Ia sadar jika direktur mdua ini berbeda dengan direktur lama yang cukup loyal serta tidak terlalu banyak aturan. Dering telepon memecah kesunyian yang beberapa detik terjadi. Edi mengeluarkan telepon pintarnya dari saku jas. “Saya harus mengangkat telepon, permisi sebentar.” Ia lalu memilih keluar ruangan. Dan suara desahan nafas lega terdengar serentak dari seisi ruangan itu selepas ditinggal Edi. “Kenapa Din?” “…” “Aku sedang keliling rumah sakit. Tunggu aku di ruanganku saja. Aku akan ke sana beberapa menit lagi.” “….” “Oke.” Edi mengakhiri panggillan tersebut dan kembali masuk ke ruangan Ana. “Sepertinya saya akan melanjutkan turnya sendiri. Saya ada tamu, dan harus segera ke ruangan.” Tanpa aba-aba para dokter berdiri memberi anggukan pada Edi. “Kalau begitu, saya permisi.” Edi pun menghilang. “Wahh.. sepertinya sebentar lagi kita harus kembali menyesuaikan diri. “ Ana terlebih dahulu berkomentar setelah kepergian sang direktur muda yang tak terduga. “Sepertinya.” Salah satu dari dokter tersebut yang terlihat lebih tua dari yang lain menjawab seadanya sembari tersenyum pasrah. “Kalau begitu mari kita kembali, saya juga harus memeriksa beberapa pasien khusus.” Dokter lain yang memiliki tubuh lebih kurus dari ke-4 pria itu bersuara. Maka tinggallah Lusi sendiri di ruangan itu, dokter Rudi juga permisi tidak lama setelah kepergia ke-3 dokter senior tersebut. Sebelum pergi ia sempat mengucapkan terima kasih pada Lusi karena sudah menyelamatkan pasiennya. Sedang Lusi hanya membalas dengan senyuman, seperti biasa. “Selamat kakak.” Edi mendapat sebuket bunga berbagai jenis dari adik perempuannya. “Astaga Din, kamu memberikanku bunga? Apa aku terlihat seperti penyuka bunga?” Edi menatap geli pada buket bunga yang kini sudah ia pegang. “Memangnya kenapa? Tidak ada salahnya laki-laki diberi hadiah bunga.” “Apa tidak ada kado lain yang bisa kau berikan?” “Mmmm.. ada, tapi aku tidak sempat berpikir untuk membelinya. Jadi aku mencari yang tercepat.” Jawab Diana cepat. “Harus aku apakan bunga ini?” “Terserah, selama tidak dibuang sebelum layu.” Edi memutar matanya jengah dengan keanehan adik bungsunya itu. Sejak kecil Diana memang suka sekali mengajak Edi bermain boneka, memberi kado saat ulang tahun Edi sebuah boneka beruang. Bagi Diana, Edi adalah kakak laki-laki sekaligus perempuan baginya. Tapi Edi tetaplah pria dengan orientasi seksual hetero. Diana memperlakukan Edi dan Edo berbeda, gadis itu memang lebih dekat secara psikis dendan Edi, wajar jika Diana sangat manja pada kakak sulungnya itu. “Kak, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan siang?” Ajak Diana sebelum Edi sempat beranjak menuju kursi singasananya. “Bagaiman bisa kau belum makan siang di jam segini?” Edi melirik jam tangannya dan menunjukkan pukul 2 siang. Sedang Diana hanya mengerucutkan bibir dengan ekspresi memelas. “Baiklah, ayo.” “Yes..” Diana mengepalkan tangannya dan menunjukkan gerakan kemenangan. Dia tahu benar jika kakak dinginnya itu akan mudah diluluhkan. Mereka pun berjalan keluar ruangan untuk turun ke lantai basement menuju parkiran. Ruangan Edi berada di lantai 3 dan mereka memilih mengenakan lift untuk ke parkiran. Ting bunyi lift menandakan berhenti, dan pintu lift pun terbuka menampakkan seseorang yang sudah berada di dalamnya sebelumnya. Mata Edi menatap gadis yang sedang bersandar santai pada dinding lift dan menengadahkan wajahnya ke atas. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan ke depan, tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, membuat Lusi menarik tubuhnya berdiri tegak. Untuk mengurangi kecanggungan ia menampilkan senyum yang sedikit terlihat terpaksa. Edi yang digandeng Diana masuk ke dalam lift tanpa banyak bicara, cengiran Lusi bahkan tidak mendapat balasan. ‘sombong amat sih jadi atasan. Huhh….’ Cibir Lusi dalam hati menatap punggung dua manusia beda jenis kelamin yang berdiri membelakanginya. ‘Ini toh tamu yang tadi dibilangin dia. Kayaknya pacarnya. Hmm…’ Lusi masih sibuk berkomentar sendiri dalam benaknya, hingga lift berhenti di lantai 1. Lusi memberi senyuman dan permisi mendahului, ia bergegas menuju lorong menuju kantin. Perutnya sudah meraung-raung minta diisi sejak tadi. Sedang dua makhluk yang ditinggalkan Lusi di dalam lift juga sudah sampai di parkiran, mereka menuju mobil Edi dalam diam. Kepala Edi masih diisi oleh pandangan kilat di dalam lift tadi. Seorang perempuan yang sejak pertemuan pertama mereka telah membuatnya disesaki pertanyaan yang tak berdasar. Ada rasa dekat, tapi ia bahkan tak pernah mengenal perempuan itu. Edi berusaha fokus pada kemudi hingga mereka keluar dari kawasan rumah sakit. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD