"Duh berisik banget sih." Keira mengumpat saat notif dari hp.nya berbunyi berkali-kali.
Tangan kanannya bergerak ke segala arah, meraba-raba permukaan kasurnya, mencari mencari hp-nya yang super membawa dan memutar tidur nyenyaknya.
"Siapa sih nyepam banyak banget, kuker banget!" Sungut Keira setelah hp nya sudah ada di gengamannya.
Vera Talita : lo dimana kei? Kok belum dateng? Barusan dan kelas ke nyariin lo
Keira Maureen : dirumah, badan gue pegel-pegel nih. Perut gue juga agak perih. Absenin akan sakit ya thayang.
Muwah jangan kangen!
Kak dadar : niat sekolah gak sih lo, jam segini belum dateng!
Keira Maureen : sakit
Gaga Mahendra : lagi dimana yang? Kok belum dateng sih,
Keira Maureen : masih di rumah kak, lagi sakit.
Rere Arvina : lo dimana? Aldan ngamuk-ngamuk nyari lo tuh.
Keira Maureen : sakit, lebay emang tu orang!
Aldan Arshaka:
• Kei
• kamu dimana?
• Keira
• Kei
• Keira Maureen
• Kei
• Keira Maureen
• Ck kei
• kamu dimana sih kei
• Udah jalan belum?
• Baca dong kei jangan bebas D doang
• Kei
• Keira Maureen Anderson
• Kei
• Keira
"Ni sikunmamer chat.nya banyak banget elah," gerutu Keira.
Keira Maureen : dirumah
Aldan Arshaka : bolos lagi?
"Wih balesannya cepet amat deh ah"
Keira Maureen : lagi sakit al
"Pakek emot nangis ah, biar antimaimstrem."
Aldan arshaka : aku otw sekarang,
"Kamu mau kemana nih si kunmamer, gajelas banget."
keira Maureen : kemana?
Aldan arshaka : ke rumah kamu,
"Ngapain coba, kuker banget." runtuk Keira
"Coba gue larang aja ah, siapa tau mau, ya cuma kemunginannya cuma segede upil cicak." sambung keira yang di sertai jeda diundang.
Keira Maureen : gausah al! Dan gue juga gak ngijinin lo buat bolos ya al!
Aldan Arshaka : aku meminta ijin dari kamu!
Keira Maureen : serah!
"Ck dasar ya ni orang, posesif tapi jutek nya super. Emak.nya nyidam kutil kingkong Kali, makanya anaknya jadi bad boy kelas kuncup mawar merah gitu." dumel Keira yang kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Setelah beberapa detik kemudian Keira terkejut bukan main karena baru sadar akan chat dari Aldan yang akan kerumahnya saat ini.
"Eh, hah, apa tadi? Aldan mau kesini. Duh mati, Kei mati, mampus aja deh. Ngapain juga tadi gue bilang sakit ke Aldan, eh tapi emang bener-bener sakit sih perut gue, rasanya perih perih manja gimana gitu.
Tapi gimana ya, kalo alesannya cuma sakit perut doang pasti nanti di omeli nggak jelas terus hukuman gue pasti di tambah lagi, dan pasti sikunmamer itu telpon mama papa kalo gue sakit perut, terus mama papa ngambil kesimpulan kalo pola makan gue gak teratur saat di Jakarta, terus abis itu gue di buang ke Surabaya lagi, gamau !!!? Arghhh Sikunmamer sih ribet kan jadinya." cerocos Keira.
Keira turun dari kasurnya dan mondar-mandir nggak jelas di depan pintu balkonnya. Mencoba memikirkan suatu cara untuk menjalankan aksinya.
"Eh Aha!" Keira terlonjak senang saat mendapatkan ide briliannya
"Oke. Kayaknya waktunya cukup kok buat persiapan ngerjain sikunmamer." Keira bergegas mencari-cari thermometer yang Ada di kamarnya.
"Ketemu, sekarang kebawah dulu ambil air panas." ucap Keira seraya bergegas keluar kamar menuju dapur rumahnya.
Setelah tiba di dapur keira berpapasan dengan Bi Sulis yang baru pulang belanja. "Pagi bik," Keira menyapa Bi Sulis, pembantu rumahnya.
"Eh Non Keira, kok masih dirumah? Gak sekolah non? Non sehat kan? Gaada yang sakit? Apa tadi non telat bangun karena gak Bibi bangunin? Maafin Bibi ya non, tadi Bibi itu ke pasar belanja perlengkapan dapur," cerocos Bi Sulis.
"Udah bi curhatnya nanti aja, sekarang siapin Keira air panas dikit aja sama es dimangkok ya bi," titah Keira.
"Loh buat apa non?" Tanya Bi Sulis seraya mengerutkan alisnya.
"Penting, buruan bi!"
Bi Sulis bergegas menyiapkan permintaan majikannya itu.
Tidak butuh waktu lama, Bi Sulis Sudah kembali membawa air panas dan es pesenan Keira.
"Ini non,"
"Makasih bi." kata Keira yang membalikkan badannya dan berlalu pergi ke kamarnya kembali.
"eh bi Mang Ujang mana?" tanya Keira yang menghentikan langkah dan memutar tubuhnya saat berada di anak tangga kedua.
"Nyuci mobil non, kenapa?"
"Tolong bilangin Mang Ujang ya, Keira minta tolong buat dibeliin minyak telon, perut Keira agak perih nih bi, minyak di kotak p3k udah abis, terus minyak yang Ada di kamar Keira juga udah abis. Suruh beli 3 ya bi, uangnya ditempat biasa ya bi! Eh Oiya bi nanti kalo Aldan kesini bilang aja aku ada di kamar ya bi, bilangnya gitu aja! Jangan di tambahin jangan di kurangin!" Jelas Keira seraya berlari ke kamarnya.
Setelah tiba di kamarnya Keira memasukkan thermometer ke dalam air panas tersebut.
"Sip thermometer beres, 38,5 cukup Kali ah. Sekarang hair dryer buat demamnya. "
Keira menyalakan hair dryer dan mengarahkan ke sekitar leher dan mukanya.
Setelah dirasa cukup kemudian Keira memoles bedak ke sekitar wajah dan bibirnya supaya terlihat pucat.
"Sip, oke." Keira lega saat semuanya selesai.
"Eh tangan + kaki harus dingin." ucap Keira yang mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam mangkuk berisi es tersebut, setelah di rasa cukup kemudiam Keira memasukkan kakinya.
Trentreennn. . .. .trennn ... . treeeennnn . . . .
Suara knalpot motor trail Aldan.
"Gila cepet benget nyampeknya." gumam Keira seraya memasukkan mangkok ke bawah kasurnya, dan berlalu menuju balkon kamarnya.
"Tiduran di sini aja deh sambil nikmatin gerimis, biar Aldan mencak-mencak nggak jelas , dan nyuruh masuk." lirih Keira yang merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di sisi kiri balkon kamarnya.
Aldan memarkirkan motornya asal dan langsung bergegas masuk ke dalam rumah Keira tanpa permisi atau apapun.
Ya, itu Kebiasaan Aldan jika sedang mengkhawatirkan gadis manisnya itu.
Namun langkah lebar Aldan terhenti di ambang pintu saat berpapasan dengan Bi Sulis.
"Keira mana bi?" tanya Aldan dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.
"Di . .kamar den," jawab Bi Sulis sedikit kikuk.
Tanpa membalas perkataan dari Bi Sulis, Aldan segera berlalu dari hadapan Bi Sulis menuju kamar Keira yang berada dilantai 2.
Brakk . . .
Suara hantaman yang timbul saat Aldan membuka pintu secara kasar.
"Kei," panggilnya.
Hening
Aldan mengerutkan dahinya.
Bingung [kenapa sepi].
Setelah suaranya tak di tanggapi, kini giliran mata tajam miliknya di fungsikan untuk menyapu sekeliling kamar Keira, guna mencari keberadaan Keira. Tapi nihil.
Bukan Keira yang di temukan, Aldan justru menemukan thermometer yang berada di permukaan kasur Keira dan beberapa gumpalan tisu di sertai bercak darah, tercecer di dekat tempat sampah.
"38,5° dan darah? Keira mimisan" batin Aldan yang mulai cemas terhadap gadisnya.
Mata tajam.nya kembali menyapu sekeliling, dan berhenti saat mendapati pintu kamar mandi yang tertutup rapat, dengan langkah lebar Aldan menuju kekamar mandi. Siapa tau Keira sedang membasuh muka di kamar mandi atau malah pingsan di kamar mandi.
Tapi, Kosong.
Aldan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan pikiran yang cemas.
Tapi sesaat kemudian pandangan Aldan tertuju pada balkon kamar Keira yang sedikit terbuka.
"Balkon," lirih Aldan.
Tanpa basa basi Aldan segera melangkahkan kakinya menuju balkon.
Sesampainya di balkon pemandangan pertama yang dilihat Aldan adalah wajah pucat Keira.
Dengan perlahan Aldan menuju kearah Keira dan menyentuh kening serta leher mulus milik Keira.
Keira yang merasa terusik dengan sentuhan Aldan mulai mengerjakan matanya perlahan.
"Aldan," lemas Keira.
"Kamu ngapain di sini? Bosen hidup?" tanya Aldan dengan nada tinggi sedang Keira hanya diam tak bergeming.
"Ini lagi sakit, bukannya diperhatiin malah di judesin, emang dasar warthog ya!" runtuk Keira dalam hati.
"Di tanya itu di jawab!"
Keira tetap diam.
"Pura-pura nangis ah" batin Keira.
Perlahan Aldan mulai menyadari sifat kasarnya dan mulai mengontrol emosinya saat melihat Keira sudah menitihkan air matanya.
"Huh!" Aldan menghembuskan nafasnya kasar.
"Diem, nggak usah nangis! Aku paling nggak suka lihat kamu nangis." kata Aldan seraya membawa kepala Keira ke d**a bidangnya dan mengelus puncak kepala Keira dengan lembut.
"Masuk!" titah Aldan,
Keira hanya menggeleng.
"Masuk Kei!" ulang Aldan.
Keira menatap Aldan dengan tatapan memohon.
"please di sini aja," mohon Keira dengan suaranya yang lirih.
"Masuk sekarang apa aku seret kamu!?" kata Aldan menatap Keira tajam.
"Masyaallah kejamnya super." batin Keira.
Keira menjauhkan kepalanya Dari dekapan Aldan dan menatap kedepan menikmati gerimis yang menenangkan.
"Lo kasar, gue benci." Lirih Keira.
Deg
Hati Aldan merasakan sakit saat mendengar ucapan Keira.
Sebenarnya bukan cuma Kali ini aja Keira bilang benci ke Aldan, Keira selalu bilang benci ke Aldan kapanpun Keira mau.
"Maaf" lirih Aldan yang menatap Keira lembut, dan mengusap puncak kepala Keira.
"Lo selalu aja gitu, nggak bisa belajar dari kesalahan " ungkap Keira.
Aldan mendengus dan mulai mengalihkan topik pembicaraan.
"Udah makan?" tanya Aldan yang dijawab gelengan oleh Keira.
"Sekarang makan ya, aku ambilin,"
Keira menggeleng lagi.
Aldan mendengus pelan.
"Yaudah, masuk yuk, tangan kamu udah dingin banget, nanti malah tambah sakit kalo disini terus!" ajak Aldan.
Lagi-lagi Keira hanya menggeleng.
"Ini hujan Kei, please masuk!" bujuk Aldan.
Keira itu keras kepala dan nggak ada takut-takutnya dengan Aldan yang gampang emosian.
Dan untuk saat ini Keira memilih diam memejamkan matanya dan memekakan pendengarannya, mendengarkan gemericik hujan yang mendamaikan.
Sebenarnya Keira itu suka hujan, suka banget.
Keira rela main hujan walaupun dia sedang sakit sekalipun, menurut Keira hujan itu kebebasan. Bebas dalam mengepresikan segalanya, entah itu kesedihan atau kebahagiaan.
Tapi berhubung saat ini ada Aldan yang menurutnya super posesive, Keira mengurungkan niatnya untuk mandi hujan.
"Nggak." singkat Keira.
Kesabaran Aldan sudah habis, [emang dasarnya Aldan itu nggak sabaran + maunya diturutin].
"Terus kamu maunya apa?" sentak Aldan dengan nada tinggi.
Keira kaget, dan Keira yang awalnya berada didekapan Aldan langsung menjauhkan kepalanya dari dekapan Aldan.
"Ck, hobi banget bentak-bentak gue! Untung gue gak jantungan, coba kalo gue jantungan mati muda kali ah, sabar Kei, sabar! Kalo dia keras lo harus lebih mokong." batin Keira meruntuk.i Aldan dan menyemangati dirinya sendiri.
"Kenapa diem, hah!" bentak Aldan.
Keira mulai melakukan aksi nangis pura-puranya.
"Ck. Kamu tau kan kalau kelemahan aku itu air mata kamu Kei! Jadi please jangan nangis! Gue cuma mau lo nurutin gue itu aja, gak lebih." tandas Aldan mulai frustasi dengan kemokongan Keira.
"Bodo amat, wleeekkk," batin Keira
Keira menganggukkan kepalanya pelan.
"Masuk!" singkat Aldan.
"Di sini aja," lirih Keira.
"Masuk apa gue seret!?" ketus Aldan.
"Lo itu kenapa sih Al? Bentar bentar judes, terus dingin habis itu sok perhatian, lo posesive sama gue tapi lo juga kasar sama gue, mau lo apa sih Al?" ungkap Keira mendramatisir keadaan.
"Mau gue, lo nurut sama gue." jawab Aldan dingin.
Keira diam. Lebih baik melawan Aldan dengan tindakan daripada beradu argumen.
Keira menyenderkan tubuhnya di sofa, memejamkan kedua matanya dan meletakkan kedua tangan nya di kepala. "Aakhhh" pekik Keira tertahan.
Aldan yang mendengar pekikan tertahan dari Keira langsung menatap Keira dengan tatapan panik dan cemas. Tangan Aldan bergerak mengarah ke kedua tangan Keira yang berada di kepala Keira, mendekapnya khawatir.
"Kei, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Aldan lembut tapi penuh dengan nada kecemasan.
"Panik kan lo, mampus!" batin Keira.
"Pusing," lirih Keira tanpa mau membuka matanya.
Aldan dengan sigap menarik kepala keira kedalam dekapannya, dan dari dekapannya itu, Aldan berharap dapat membantu mengurangi sakit yang di derita Keira.