Kalah atau Menang.

1003 Words
Andraga tidak bisa menunggu lagi, baginya siksaan yang paling berat adalah ketika berada dalam sebuah penantian. Sudah berjam jam Alvian dan Wira tidak kembali, ditambah lagi dengan kabar keluarnya empusa. Lelaki paling muda di antara seluruh anggota The Rescue itu berdiri dan lantas mengambil busur miliknya. Sandrina mencegah Andraga, mengingat Empusa bukan lawan mereka sebenarnya. Begitupun dengan Alana, gadis itu juga ingin menolong Wira dan Alvian. Sementara Chandra yang pernah bertemu langsung dengan empusa memilih diam. Dia tetap duduk di posisinya. Chandra sedang resah dan takut, dia terus terusan meremas tangannya sendiri. Sesekali menggosoknya seperti tengah berada di depan api unggun. Sandrina berusaha bangun setelah dua prajurit datang membawa sebuah kotak, isinya adalah obat yang dibuat oleh Bolo. Mendengar nama Bolo disebut. Chandra mendongak. Walau bagaimanapun dirinya pernah hidup beberapa hari bersama Bolo dan anak anak lucu yang selalu minta untuk bermain sepak bola. Jujur saja, ada sedikit kerinduan yang dia rasakan. Berada di Negara ini terkadang membuat Chandra ingin tertawa. Gadis yang diam diam dia sukai berlagak menjadi seorang yang pemberani. Chandra jadi mempertanyakan hatinya, benarkah dia benar benar menyukai Alana? Lelaki macam apa yang membiarkan seorang gadis pujaan hati angkat s*****a dan pergi ke medan bahaya. Seharusnya sebagai seorang laki-laki dialah yang melindungi Alana, tidak pernah membiarkan orang yang dia cintai merasakan pahitnya Peperangan, terlebih lawan mereka bukanlah manusia, bukanlah makhluk yang memiliki hati dan perasaan. Perang batin pun terjadi. Apa yang harus dia lakukan, menyusul Andraga dan Alana yang kini sudah tidak kelihatan, atau diam di pondok karena tertangkap oleh empusa itu bukanlah hal yang menyenangkan. Chandra merinding sekujur tubuhnya, rasa takut menguasai hatinya, bayangan-bayangan kejadian yang sudah lampau menyiksa batinnya begitu dalam. Sandrina menatap Chandra diam diam. Sebagai pemimpin prajurit seharusnya Sandrina sudah turun sejak tadi atau setidaknya membantu menyusun strategi. Akan tetapi luka yang menganga lebar ini membuat seluruh tubuhnya meradang dan sedikit demam. Hingga sampailah obat yang dibawa anak buahnya. Dia yang tadinya keluar pondok akhirnya kini harus pasrah dengan pengobatan lukanya terlebih dahulu. Sekali lagi dia menatap wajah anak lelaki itu. Dia terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal. Keningnya berkerut terlalu dalam dan kedua alis tebalnya hampir menyatu. "Chandra," sapa Sandrina. Candra menoleh. Lantas dia beringsut mendekat. "Tolong tuangkan cairan ini ke sini," tunjuk Sandrina pada luka yang menganga itu, melihat luka yang memerah dan meradang Chandra sedikit mengerutkan keningnya. Jika dia yang seperti itu mungkin sudah meraung dan menangis. Ragu ragu Chandra mendekat lalu meraih sebuah kendi berisi ramuan buatan Bolo. Tangannya bergerak dan bergetar, dia melihat wajah Sandrina yang berkeringat. Sandrina menggigit bantal, tangan kiri dan kanannya dia letakkan di kiri dan kanan tempat duduk. Manakala cairan itu menetes tepat di atas luka, rasa terbakar hebat dia rasakan. Panas menjalar, perih dengan sedikit sensasi gatal. Chandra mengernyit, ingin sekali dia menghentikan itu, tetapi setidaknya dia yakin bahwa Sandrina bisa dikatakan lebih kuat dari apa pun. Urat urat di jemari tangan Sandrina yang menggenggam erat pegangan itu tampak menonjol. Chandra terus menuangkan cairan itu tanpa menyadari perubahan yang terjadi, fokusnya hanya pada wajah Sandrina. Sandrina berhenti menegang, tiba tiba saja dirinya terkulai lemas tidak sadarkan diri. "San ... Sandrina," ucap Chandra dengan perasaan takut. Tidak ada saksi mata yang menyaksikan kejadian ini, Chandra takut kalau dirinya akan menjadi tertuduh dengan keadaan Sandrina. Dia meletakkan wadah kendi itu dan buru buru mendekat ke arah Sandrina. Menepuk halus pipi ketua prajurit itu, hingga menggeliat dan perlahan membuka mata. "Hah, gue kira gak akan bangun lagi," ungkap Chandra memegang dadanya sebagai pertanda bahwa dirinya lega. Kelegaan luar biasa dia rasakan. Sandrina meletakkan bantal yang semula dia gigit, lantas memeriksa luka. Ajaib, seperti tidak pernah terluka sedikit pun. "Ayo, kita cari Wirayudha." Sandrina mengajak Chandra untuk keluar dari pondok. Chandra memastikan Sandrina baik-baik saja, hingga kelegaan dia rasakan saat Sandrina bangun dari tempat tidurnya seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa terhadap dirinya. Mau tidak mau Chandra mengiyakan, meski hatinya begitu berat untuk pergi karena tidak mau bertemu dengan Empusa yang licik. Dia membuat korbannya melayang keenakan hingga lupa diri dan terlelap begitu pulas, lalu diam diam darahnya dihisap sampai habis. Chandra menyentuh lehernya. Ngeri sendiri dengan kejadian yang hampir saja membunuhnya. * "Si Chandra pengecut banget, anjir, masa dia diem aja di rumah perkara takut dengan empusa," komentar Andraga. Berjalan mengendap menghindari cerberus yang ada di sisi lain pemukiman yang mereka lewati. "Dia itu trauma, maklumi saja, sudah merasakan bagaimana berhadapan dengan empusa. Lah kita kan gak pernah dan gak tau apa-apa makanya berani berani aja keluar kayak sekarang ini." Walau bagaimanapun dari mereka berlima, Chandra dan Wiralah yang dipercaya bisa mengalahkan sekaligus membuat musuh menjadi sangat kuat. "Sianjir, lo jangan belain dia." Andraga memprotes jawaban Alana. "Mana ada gue protes, gue cuma bilang si Chandra gak ikut karena dia trauma ketemu dengan empusa. Wajarlah menghindar, lo aja kalau di toilet ada kecoa kan menghindar." Andraga geram mendengar ucapan Alana, segala bawa bawa kecoa. Empusa dan kecoa itu dua hal yang berbeda, tidak bisa dianggap sama. Andraga baru saja ingin memprotes Alana akan tetapi kemunculan cerberus memaksa anak itu untuk melesatkan anak panah yang tajam dan beracun ke arah binatang berkepala tiga tersebut. Tepat sasaran, anak panahnya menancap di mata kanan kepala paling kiri. Makhluk itu menggeliat kesakitan, Alana takut mereka akan bangkit kembali, lantas mendekat dan memukul makhluk itu bertubi tubi dengan menggunakan busur yang terbuat dari besi. Makhluk itu diam tak bergerak, lebih tepatnya terkapar begitu saja. Tidak ada waktu untuk berdebat. Alana dan Andraga berjalan menuju istana Raja. Entah mengapa mereka mengira Alvian dan Wirayudha menuju ke sana untuk melawan empusa. Istana megah itu kini ada di hadapan mereka. Alana menganga, dia menduga dulu ketika masih ada Raja dan Rakyat makmur makmur saja negeri ini adalah negeri yang Indah. Dia berlari menghadang Ahool yang mendekat, satu, dua, tiga. Tidak terhitung jumlahnya. Giginya yang tajam membuat perempuan itu semangat untuk melenyapkan makhluk itu. Belum lagi yang melayang, belum cerberus. Alana dan Andraga melawan gempuran makhluk itu berdua saja. Mereka pasrah bagaimana pun nantinya. Karena dalam sebuah pertempuran dia percaya, ada dua hal yang akan terjadi. Kalah atau menang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD