Tiara menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia mencoba menata napas yang tiba-tiba memberat, seolah udara di ruangan ini menipis. Mata cokelatnya menatap Abimana, berusaha keras memecahkan dinding misteri di wajah suaminya. Ia berharap tatapan itu, yang sarat akan cemas dan ketidakpastian, bisa menembus dan menebak seberapa jauh lelaki yang paling ia cintai—sekaligus takuti—ini tahu. "Kamu... kamu udah tau tanpa aku harus ngaku, kan, Mas!" ujarnya lirih, suaranya bergetar tipis, nada yang tidak bisa lagi menyembunyikan badai kegelisahan yang mengamuk di dadanya. Itu bukan pertanyaan, tapi pengakuan tak terucapkan yang terlontar karena keputusasaan. Abimana tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat alis kirinya perlahan, gerakan kecil yang terasa disengaja dan penuh makna. Bib

