** “Om, jangan…” Intan menahan tangan Jonathan yang hendak menyusup ke dalam cel ana tidurnya. Sudah lebih dari satu jam mereka b******u dan bermanja-manja. Tapi, belum ada tanda-tanda Jonathan ingin menyudahi kegiatan menyenangkan itu. “Kenapa, hem? Aku berhak, Intan.” Mata sayu Jonathan menatap penuh harap kepada istrinya. “Aku takut kebablasan.” Jonathan tersenyum tipis. “Kamu sudah mulai minum pil kontrasepsi nya?” Intan menganggukkan kepala. “Ya sudah, berarti tinggal beberapa hari lagi.” “Ya kan masih beberapa hari lagi, bukan sekarang.” Jonathan menyempatkan diri menunduk, menatap keindahan di depannya yang sejak tadi menjadi mainannya. Da da terbuka itu menunjukkan bentuknya yang manis dan imut karena kancing piyama Intan sudah terlepas sepenuhnya. Apalagi, Intan sedang d

