Aaron menatapnya, rahangnya mengeras. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang dan memutuskan, "Baiklah, Nona Moretz, jika memang itu yang kau inginkan. Tapi, aku tidak akan melupakan apa yang Alan Walters lakukan padamu tadi malam. Dia adalah ancaman. Aku tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja setelah apa yang dia lakukan pada staf-ku."
Aileen menggeleng pelan. "Tidak, Tuan. Biarkan saja. Dia adalah klien yang sangat menguntungkan untuk Art Life. Apa yang terjadi tadi malam ... aku tidak ingin itu merusak hubungan profesional mu dengan Walters Group."
"Aku tidak membutuhkan klien b4jingan seperti Alan Walters." Suaranya dingin tapi tegas, tatapannya lurus ke arah Aileen. "Tidak peduli seberapa menguntungkannya dia untuk Art Life, aku tidak bisa mengabaikan orang dengan attitude buruk seperti dia. Jika aku membiarkannya, itu hanya akan memberiku masalah di kemudian hari."
Aileen tertegun. Meskipun terdengar begitu tegas dan penuh prinsip seperti biasanya, tapi kali ini kata-kata Aaron terdengar penuh kepedulian, sesuatu yang baru dia temui pada pria arogan itu. Dia menggigit bibirnya, perasaan tersentuh mulai merayap di hatinya. "Ternyata dia tidak seburuk yang aku pikirkan," pikir Aileen dalam hati.
Melihat Aileen yang menggigit bibirnya, Aaron tiba-tiba merasa sulit untuk tetap tenang. Pikirannya kembali ke kejadian semalam, terutama saat bibir mereka saling bertemu dalam ciuman yang panas dan mengg4irahkan. Dia menelan ludahnya dengan berat, mencoba mengendalikan pikirannya yang mulai liar.
Akan tetapi, rasa gugup yang tak biasa itu membuat Aaron segera mengubah ekspresinya menjadi dingin dan arogan. Dia bangkit dari tempat tidur dan memakai celana panjangnya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan menuju meja di sisi ruangan, mengambil segelas air untuk menenangkan diri.
Tanpa menoleh ke arah Aileen, dia berkata dengan nada ketus. "Sudah cukup! Pulanglah, Nona Moretz. Hari ini kau boleh beristirahat di rumah. Tidak perlu datang ke kantor!"
Aileen yang tadi sempat merasa tersentuh, langsung kembali kesal mendengar nada perintah itu. Dia menyunggingkan sebelah bibir atasnya dan memutar bola matanya, lalu berdiri, meraih tas tangannya yang tergeletak di atas meja, tanpa berniat menjawab atau berdebat. Tatapannya sekilas tertuju pada punggung Aaron yang terlihat dingin dan tak peduli.
Tanpa sepatah kata, dia berjalan menuju pintu. Tapi saat tangannya menyentuh gagang pintu, Aileen bergumam pelan, cukup keras untuk didengar Aaron, "Benar-benar pria paling menyebalkan! Bagaimana bisa aku terjebak dalam situasi seperti ini dengan pria sepertinya?"
Aaron menoleh sedikit, tapi Aileen sudah membuka pintu dan keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat, wajahnya memerah antara malu dan marah. Sementara Aaron, yang mendengar gumaman itu, hanya bisa tersenyum tipis dengan pandangan penuh teka-teki.
Pria itu berbicara pada dirinya sendiri, "Dia memang galak dan keras kepala. Tapi ... sepertinya itulah yang membuatnya menarik dan membuat seorang pewaris tunggal keluarga Walters tergila-gila padanya."
Aaron berdiri di tepi jendela kamar hotel, menatap keluar ke arah lalu lintas yang ramai di bawah sana. Wajahnya terlihat serius, penuh dengan pikiran yang berputar di kepalanya. Setelah beberapa saat, dia menghela napas panjang dan meraih ponsel yang tergeletak di meja.
Dia menggulir kontaknya dan mengetuk nama Liam, asisten sekaligus sahabatnya yang selalu bisa diandalkan. Suara dering terdengar beberapa kali sebelum akhirnya Liam menjawab.
"Selamat pagi, Aaron. Apa yang bisa aku bantu?"
"Liam," ucap Aaron dengan suara yang terdengar tegas dan langsung ke inti, "Aku butuh kau mencari informasi tentang hubungan antara Aileen Moretz dan Alan Walters."
Ada jeda sejenak di sisi lain telepon, sebelum Liam menjawab dengan penuh penasaran, "Ada apa, Aaron? Apa terjadi sesuatu di antara mereka saat pertemuan tadi malam?"
"Jangan banyak tanya, Liam. Lakukan saja apa yang aku perintahkan."
"Sorry, sorry ... baiklah, informasi seperti apa yang kau perlukan?"
"Aku ingin tahu apakah benar mereka pernah bersekolah di sekolah menengah yang sama," ujar Aaron sambil berjalan kembali ke sofa dan duduk, tangannya memijat pelipisnya. "Dan pastikan untuk mencari tahu apakah pernah ada skandal di antara mereka di masa lalu."
Liam terdengar mencatat sesuatu. "Okay. Aku akan segera memulai penyelidikan. Apa harus secepatnya?"
"Ya, selesaikan secepatnya," kata Aaron dingin, sebelum menambahkan, "aku curiga Alan Walters memilih Art Life karena ada tujuan tertentu, dan aku tidak ingin berurusan dengan klien sepertinya tanpa mengetahui semua faktanya."
"Baiklah. Aku akan menghubungimu begitu aku mendapatkan informasinya."
"Thank's!"
Aaron mematikan panggilan dan meletakkan ponselnya di meja. Dia bersandar di sofa, matanya menatap ke langit-langit. Ingatannya kembali ke wajah Aileen tadi malam—campuran antara kebingungan, kegelisahan, dan, anehnya, ada kelembutan yang tak pernah dia lihat sebelumnya pada sosok gadis itu.
Dia menghela napas panjang, lalu berkata pelan pada dirinya sendiri, "Apa sebenarnya yang membuat Alan Walters terlihat begitu terobsesi padamu, Nona Moretz?"
Di sisi lain, Liam langsung menggerakkan timnya untuk menggali informasi. Dalam waktu singkat, jaringan kontaknya mulai bekerja, mencari tahu latar belakang Aileen dan Alan, serta hubungan apa yang mungkin pernah mereka miliki di masa lalu.
***
Dua jam kemudian, Aaron melangkah keluar saat pintu lift terbuka, dan berjalan menuju ruangannya dengan langkah tegas, wajahnya tetap tanpa ekspresi seperti biasa. Namun, langkahnya terhenti sejenak ketika pandangannya tertuju pada meja kerja Aileen. Di sana, gadis itu sudah duduk dengan rapi, tampak sibuk menatap layar tablet PC-nya sambil menggambar sesuatu.
Alis Aaron terangkat sedikit. "Bukannya aku memintanya untuk beristirahat di rumah?" pikirnya dalam batin. "Kenapa dia malah pergi bekerja?" Dia mengamati Aileen sebentar, tapi memutuskan untuk tidak langsung menyapanya.
Ketika Aaron berjalan melewati meja para stafnya, mereka mulai menyapanya dengan penuh hormat.
"Selamat pagi, Tuan Aaron," ujar salah satu staf.
"Selamat pagi, Tuan," sambut yang lain dengan senyum sopan.
Suara-suara sapaan itu menarik perhatian Aileen. Dia mengangkat pandangannya dari layar tablet dan tanpa sengaja matanya bertemu dengan Aaron yang sedang berjalan ke arah ruangannya. Napas Aileen tertahan sesaat. Wajah pria itu, dingin dan berwibawa sekarang, tapi pikirannya justru membawanya pada ingatan tentang raut wajah Aaron di malam panjang penuh g4irah yang tak terduga tadi malam.
Terlintas bagaimana Aaron menyentuh tubuhnya dengan liar, dan gagahnya Aaron saat mengungkungnya tadi malam. Kepingan-kepingan memori itu tiba-tiba terbayang-bayang di benaknya sekarang.
Akan tetapi, sebelum Aaron bisa menanggapi tatapannya, Aileen buru-buru membuang pandangannya ke arah lain, berpura-pura memeriksa sesuatu di meja kerjanya. Wajahnya memerah, dan dia mencengkeram stylus pen di tangannya sedikit lebih erat. "Damn it! Kenapa aku harus teringat kejadian itu sekarang? Fokus, Aileen! Fokus!" batinnya memarahi diri sendiri. "Kau harus ingat, itu semua hanya kesalahan!"
Aaron memperhatikan reaksi itu dari ujung matanya. Dia bisa melihat perubahan ekspresi Aileen yang gugup. Dia menghela napas panjang dan tersenyum tipis, melangkah menuju ruangannya, tapi sesaat sebelum membuka pintu, dia memutuskan untuk berbicara.
"Nona Moretz," panggilnya, suaranya rendah tapi sangat jelas untuk didengar Aileen.
Aileen menoleh dengan enggan. "Ya, Tuan?" jawabnya tanpa emosi, meskipun jantungnya berdetak kencang.
Aaron memiringkan kepalanya sedikit, memperhatikan ekspresinya. "Aku bilang kau tidak perlu datang hari ini. Kenapa kau ada di sini?"
Aileen mencoba menjaga wajahnya tetap tenang. "Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, Tuan. Lagi pula, aku tidak suka hanya berdiam diri di rumah sepanjang hari."
Aaron mendekati meja kerjanya, membuat jarak mereka semakin kecil. "Kenapa kau keras kepala sekali?" tanyanya berbisik, matanya tajam menatap wajahnya.
Aileen mendongak menatapnya, berusaha mengendalikan rasa gugupnya. "Dan kenapa kau suka sekali memerintah, Tuan?"
Ada senyum tipis di sudut bibir Aileen, tapi Aaron tidak membalas. Sebaliknya, dia berbalik, dan berjalan masuk ke ruangannya tanpa sepatah kata lagi. Namun, sebelum pintunya tertutup, dia berkata dingin, "Datang ke ruanganku dalam lima menit, Nona Moretz. Kita perlu bicara!"
Aileen menatap pintu yang kini tertutup rapat. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin cepat. "Apa yang dia inginkan kali ini?" gumamnya pelan sebelum kembali memfokuskan diri pada tablet PC-nya.
Di balik pintu, Aaron bersandar pada kursinya, menatap layar laptopnya dengan alis mengerut. "Kenapa kau suka sekali menantangku, Aileen Moretz?" pikirnya, sambil menunggu laporan dari Liam.
Aaron mencoba memejamkan kedua matanya untuk meredam emosinya, tapi yang terlintas di benaknya justru membuat jantungnya semakin berdetak lebih cepat. Bukan karena emosinya yang semakin bergejolak, melainkan karena terus terbayang-bayang malam penuh hasrat yang mereka lalui tadi malam. Bahkan suara-suara lenguhan dan d3sahan Aileen tiba-tiba terngiang di telinganya, membuat tombak pusakanya mendadak berdiri tegak.
Terdengar suara ketukan pintu yang membuatnya membuka kedua matanya seketika. "Masuk!" sahutnya.
Ternyata Aileen lah yang mengetuk pintu itu dan tengah berjalan masuk ke ruangannya.
Melihat Aileen yang tengah berjalan ke arahnya, tatapan Aaron terfokus pada tubuh ramping namun berisi milik Aileen. Terlebih saat ini Aileen hanya mengenakan crop top turtleneck tanpa lengan berwarna hitam, dan rok mini sebatas paha berwarna krem, membuat bentuk tubuh Aileen yang sempurna bak gitar spanyol itu terpampang jelas.