Fani tengah mengikuti ujian praktek menjahit siang ini, udara dingin ruangan ber AC dirasa Fani sedikit mengganggu aktifitasnya. Diliriknya jam di tangan, sudah pukul setengah dua siang. Pasti bis yang ditumpangi suami dan mertuanya sudah berangkat, dia ingin mengantar ke terminal, tapi bertepatan dengan jadwal ujian prakteknya di lembaga menjahit.
Beep..beep..
Pesan masuk di ponselnya. Tak langsung dibuka, karena masih ada penguji yang memperhatikan. Setelah setengah jam berlalu, ujian pertama selesai yaitu membuat pola baju dan rok. " Hhuufft...Alhamdulillah" gumam Fani menghembus nafas lega.
Fani keluar dari ruangan, sambil melampirkan tas selempangnya di pundak, segera dibuka pesan yang tadi masuk.
Suamiku sayang
[De, Mas dan Mbok berangkat ya, Ade hati-hati di rumah, sukses ujiannya.]
[Maaf Mas ku, Ade baru buka pesannya, ujian sesi pertama baru saja selesai. Alhamdulillah..iya Mas, Mas juga hati-hati, salam sama Si Mbok, kalau sudah sampai kabari Ade lagi ya Mas.]
[Alhamdulillah, iya sayang..nanti Mas Wa lagi, jangan telat makan ya, i love you.]
[Love you too Mas.]
Fani tersenyum sangat senang membaca pesan dari suaminya. Bahagia menyeruak melenakan hati disaat usia tiga puluh tahun, sedikit terlambat, tapi tak apalah, akhirnya Allah memberi bahagia pada dirinya setelah begitu banyak luka yang ditorehkan akibat kata cinta. "Semoga kau seger hadir ya, Nak." Fani mengelus lembut perut datarnya, sambil tersenyum bahagia. Berjalan ke arah toilet untuk buang air dan merapikan kerudung, yang baru dibelikan suaminya.
Mbok : "Bojomu kabar e apik ?"
Tiyan : "Alhamdulillah, pangestu mbok."
Mbok : "Anggone ngabdi marang sliramu karo ngurus rumah tanggamu piye nger ?"
Tiyan : "Mboten kirang menapa bu, angenipun ngabdi kalian gargo meniko. Pangestu Mbok."
Mbok :"Alhamdulillah. Ibu wes kangen nimang putu nger. Mestine nangis e podo karo sampean gek biyen bayi, luntas geger e jagat, gawe bebungah anggone siro."
Tiyan : "Peangertu nipun Mbok, kalian doa mbok kula kangge jimat."
( Mbok "Istrimu kabarnya baik ?"
Tiyan : "Alhamdulillah, berkat restu ibu"
Mbok : "Dalam mengabdi kepadamu dan mengurusi ramah tangga bagai mana?"
Tiyan : "Tidak kurang apa-apa bu, dalam mengabdi kepada suami. Semua karena doa ibu."
Mbok : "Alhamdulillah. Ibu sudah kangen nimang cucu nak. Pasti tangisannya sama sepertimu waktu bayi. Keras menggetarkan bumi, membuat bahagia seluruh keluarga."
Tiyan : "Restu ibu dan doa ibu saya gunakan sebagai pusaka."
Percakapan antara Tiyan dan ibunya di dalam bis menuju Jogya, membuat Tiyan teringat kembali senyum manis istrinya sebelum ia berangkat tadi. Anugerah yang telah Allah berikan baginya, tak akan dia sia-siakan, itu janjinya pada dirinya sendiri.
Pukul empat sore, Fani kembali ke rumah dengan mengendarai ojek online. Sebenarnya dia ingin mampir ke rumah Ami, namun pakaian yang harus disetrika sudah cukup banyak, sehingga ia memutuskan untuk langsung pulang saja.
Disimpannya sepatu flat bewarna marun kesukaannya di rak sepatu, lalu membuka pintu rumah. Terlihat mengucapkan salam, masuk lalu menutup pintu itu kembali.
Magrib pun datang, Fani melaksanakan sholat magrib kemudian mengaji sebentar. Sepi yang di rasa, menanti telepon dari Sang pujaan hati yang tak kunjung tiba.
Fani mematikan lampu ruang tamu dan ruang makan, hanya lampu dapur dan kamar yang masih menyala. Tanpa Fani tahu , tak jauh dari rumahnya, seseorang yang mengendarai mobil Xpander sedang mengamati gerak gerik Fani mulai dari keluar tempat kursus hingga sampai di rumah. Ingin sekali lelaki itu segera menjumpai Fani, kakinya terasa sangat gatal ingin segera menghampiri wanita yang pernah menjadi istrinya. Sempat sedikit kaget dengan penampilan Fani yang berhijab, seketika senyumnya mengembang, "Wajahmu berubah semakin manis," gumamnya dalam hati mengagumi dari jauh wanita itu.
"Ya Tuhan, aku merindukannya," bisiknya lagi, sambil memperhatikan lampu rumah yang kini dipadamkan pemilik rumah. Cukup hari ini memperhatikannya dari jauh, tak lama lagi aku akan langsung menemuinya dengan caraku.
Dua hari berlalu, kini Tiyan kembali dari Jogya, Tiyan mengajak ibunya untuk menginap di rumahnya, karena ibunya juga sudah merindukan wanitanya.
Derap langkah Tiyan dan ibunya memasuki pekarangan rumah, Fani tengah melihat dari jendela kedatangan suami dan ibu mertuanya, dengan segera diraihnya kerudung instan yang terlampir di kursi makan, lalu membuka pintu dan berlari menyambut suami dan mertuanya.
"Sayaaang," panggil Tiyan mesra. Fani tersenyum, lalu mencium punggung tangan suaminya lalu mertuanya. Memeluknya dan mencium kedua pipinya.
"Kamu sehat, Nduk?"
"Sehat Mbok, Alhmdulillah."
"Ayo, kangen-kangenannya di dalam saja!" ajak Tiyan menggandeng lengan istri dan ibunya.
Setelah mandi dan bersih-bersih, Fani mengajak mertua dan suaminya untuk makan malam, Fani sudah menyiapkan makanan kesukaan suaminya, yaitu sahur krecek dan telur ceplok balado, sedangkan untuk ibu mertuanya Fani menyiapkan rebusan daun singkong sambal dan ikan goreng.
Mereka menikmati makan malam dengan penuh kehangatan dan kesederhanaan.
"Mbok, sini saya pijat kakinya!" Fani memegang kaki ibu mertuanya.
"Eh, jangan Nduk! Mbok ndak pegel kok, cuma ngantuk saja, mau segera tidur," ucap Mbok sambil menguap.
"Sana, temani suamimu, mungkin dia yang butuh dipijat dan dibelai," goda si Mbok pada menantunya.
Fani tertunduk malu. "Nggih Mbok." Ibu mertuanya berjalan ke arah kamar tamu, yang memang disiapkan untuk mertuanya bila sesekali menginap. Fani masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kemudian menguncinya, mendapati suaminya yang baru saja selesai melaksanakan sholat isya, senyum Fani mengembang bahagia.
"De...sini!" panggilnya mesra.
"Ya, Mas."Fani berjalan menghampiri suaminya sambil tersenyum malu-malu.
"Kangen ndak sama, Mas?" tanya Tiyan setengah berbisik, saat Fani duduk persis di samping sajadah Tiyan.
"Banget, Mas," bisik Fani lalu melepas kopiah dan membuka kancing baju koko Tiyan satu persatu.
"Lho...lho, nakal ya sekarang!" Tiyan keheranan melihat tingkah istrinya, tak lama senyumnya terkembang.
"Mmpcch..." Fani mendaratkan ciuman di bibir suaminya, Tiyan begitu menikmati, karena malam ini, sepertinya Fani yang pegang kendali.
Kilat bayangan peluk dan cium yang Fani pimpin, terlihat cukup jelas dari balik bayangan gorden putih kamarnya.
Kliik!
Fani mematikan lampu. Tanpa mereka sadari ,seseorang dari tembok luar rumah mereka, memperhatikan aktifitas tersebut dengan seksama, darahnya bergemuruh, kuat dipegangnya setir menahan amarah.
"Sial, siaall!" umpatnya kesal memukul kemudi dengan sangat keras. Air matanya menetes, dadanya sakit. Ia begitu cemburu.
****