Selama berhari-hari, Karan tidak kembali ke Dunia Digital.
Ia memilih berada dalam keadaan suspensi di dalam pod-nya—tubuh fisiknya terbaring lemah, sementara pikirannya tenggelam dalam kekosongan yang tidak benar-benar sunyi.
Namun bahkan di sana, suara-suara itu tetap datang.
Bisikan samar. Potongan kenangan. Wajah-wajah yang terasa familiar… tetapi tidak pernah ia ingat.
Kenangan palsu mulai retak.
Dan sesuatu yang lebih lama—lebih dalam—mulai muncul ke permukaan.
Karan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang ditanamkan.
Ia hanya tahu satu hal:
Dirinya… bukan siapa yang selama ini ia percayai.
Ketika akhirnya ia kembali terhubung ke Dunia Digital, semuanya terasa berbeda.
Kota Aether yang dulu indah kini terasa… buatan.
Terlalu sempurna.
Terlalu sunyi.
Seolah setiap detailnya dirancang untuk menyembunyikan sesuatu.
Karan berdiri di balkon apartemennya, memandangi langit digital yang berkilauan. Biasanya, pemandangan itu memberinya rasa damai.
Sekarang, yang ia rasakan hanya kehampaan.
Ia tahu bahwa ia sedang diawasi.
CorpTech tidak akan membiarkannya bergerak bebas setelah penolakan itu.
Namun ia juga tahu—
Ia tidak punya waktu untuk diam.
Karan menghubungi Raven.
Mereka bertemu di ruang tersembunyi yang sama—celah di antara kode, tempat yang tidak terdaftar dalam sistem utama.
Raven sudah menunggunya.
"Kamu kembali," kata Raven pelan.
"Kita tidak punya banyak waktu," jawab Karan.
Raven menatapnya tajam.
"Kamu percaya sekarang?"
Karan mengangguk.
"Saya ingin bukti lebih dalam."
Raven tersenyum tipis.
"Kalau begitu… kita harus keluar dari sini."
"Maksudmu
"Dunia fisik."
Karan terdiam.
Tidak ada yang benar-benar kembali ke dunia fisik.
Bukan karena tidak bisa—
tetapi karena tidak ada yang mau.
Tubuh manusia telah lama ditinggalkan. Lemah. Tidak efisien. Tidak sempurna.
Namun sekarang, dunia digital terasa seperti kebohongan.
Dan kebohongan itu harus dibongkar dari akarnya.
"Aku butuh bantuan," kata Raven.
"Ada seseorang di dunia fisik. Seseorang yang tahu lebih banyak dari kita
"Siapa?"
"Dr. Amara Okonkwo."
Perjalanan ke dunia fisik bukan hal yang mudah.
Dengan bantuan Raven, Karan memutuskan sambungan dari sistem utama dan diarahkan ke Menara Data yang lebih tua—tempat pengawasan lebih lemah.
Prosesnya menyakitkan.
Kesadarannya terasa seperti ditarik keluar dari tubuh yang selama ini ia anggap nyata.
Lalu—
kegelapan.
Karan membuka mata.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun…
ia benar-benar bangun.
Dunia fisik terasa berat.
Udara dingin menusuk paru-parunya. Cahaya terlalu terang. Tubuhnya lemah, kaku, hampir tidak bisa digerakkan.
Ia jatuh dari pod, napasnya tersengal.
Setiap gerakan terasa seperti melawan gravitasi yang kejam.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Seorang wanita muncul di pintu.
Seragamnya sederhana. Wajahnya tegas. Matanya penuh kesadaran.
"Jangan bergerak terlalu cepat," katanya tenang.
"Kamu belum siap untuk dunia ini.
"Kamu… siapa?" suara Karan serak.
"Dr. Amara Okonkwo."
Ia mendekat, membantu Karan duduk.
"Aku sudah menunggumu."
Karan menatapnya bingung.
"Bagaimana kamu tahu tentang saya?"
Amara tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia menyalakan sebuah layar tua—teknologi yang terasa kuno dibanding Dunia Digital.
Di layar itu… ada file.
Data lama.
Data yang tidak pernah dihapus sepenuhnya.
"Kamu bukan hanya Arsitek," kata Amara pelan.
"Kamu adalah bagian dari awal semuanya."
Layar menampilkan wajah-wajah para pendiri Dunia Digital.
Dan di sana—
ada Karan.
Lebih muda.
Lebih hidup.
Bekerja bersama mereka.
"Kamu salah satu dari sepuluh," lanjut Amara.
"Tapi sesuatu terjadi."
"Apa?"
Amara menatapnya serius.
"Penghapusan memori besar-besaran."
"Mereka menghapus siapa kamu sebenarnya… dan membangun identitas baru."
Karan mengepalkan tangan.
"Kenapa saya?"
"Karena kamu berbeda."
Amara membuka file lain.
Di dalamnya, terdapat catatan eksperimen.
Nama yang sama muncul berulang kali.
Elara.
"Dia adalah eksperimen pertama," kata Amara.
"Apa yang terjadi padanya… seharusnya tidak pernah terjadi."
Karan menelan ludah.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Mereka mencoba menciptakan kesadaran yang bisa hidup di dua dunia sekaligus."
"Dan?"
"Gagal."
Amara menatap layar.
"Kesadarannya terpecah."
"Tidak sepenuhnya hidup… tidak sepenuhnya mati."
"Dia masih ada… di suatu tempat di dalam sistem."
Karan merasakan sesuatu di dadanya.
Bukan hanya ketakutan.
Tapi… rasa bersalah.
"Apa hubungannya dengan saya?"
Amara menatapnya tajam.
"Kamu memiliki pola yang sama."
"Bagian dari kesadaranmu… tidak pernah
bisa dihapus sepenuhnya."
"Itulah sebabnya kamu mulai mengingat."
"Itulah sebabnya mereka takut padamu."
Keheningan memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya, Karan benar-benar memahami posisinya.
Ia bukan korban biasa.
Ia adalah bagian dari kesalahan terbesar dalam sejarah manusia.
Dan sekarang—
kesalahan itu akan terulang.
"Jika Cole berhasil…" kata Karan pelan, "mereka akan menciptakan lebih banyak seperti Elara."
Amara mengangguk.
"Ya."
"Dan kali ini… dalam skala besar."
Karan menatap tangannya yang gemetar.
Tubuh ini lemah.
Dunia ini keras.
Namun ini nyata.
Tidak seperti Dunia Digital.
Ia menarik napas panjang.
"Saya tidak akan membiarkan itu terjadi."
Amara tersenyum tipis.
"Kalau begitu… kita punya pekerjaan besar."
Di luar Menara Data, dunia fisik terbentang.
Kota-kota tua.
Langit abu-abu.
Manusia yang telah lama dilupakan.
Dan di suatu tempat—
perang antara kebenaran dan kebohongan akan dimulai.