TITIK TANPA KEMBALI

694 Words
Tidak ada ledakan. Tidak ada cahaya besar. Hanya… perubahan. Ruang pusat data yang tadi dipenuhi alarm kini menjadi sunyi. Layar-layar yang sebelumnya kacau kini menampilkan satu sinyal yang stabil—denyut yang pelan, tapi konsisten. Seperti… jantung. Raven masih berlutut di lantai. Tangannya gemetar. Matanya terpaku pada layar. "Karan…?" suaranya hampir tidak terdengar. Jawaban itu datang. Bukan melalui suara. Bukan melalui teks. Langsung ke dalam pikirannya. "Aku di sini." Raven terdiam. Air matanya jatuh tanpa dia sadari. "Itu kamu… kan?" Hening sejenak. "Lebih… dari itu." Lyssa menatap Raven. "Apa dia bilang?" Raven tidak langsung menjawab. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Karena apa yang dia rasakan— Bukan hanya Karan. Ada sesuatu yang lain di dalamnya. Di dalam sistem— Atau apa yang tersisa darinya— Karan… berubah. Dia tidak lagi terbagi antara dirinya dan makhluk itu. Mereka… menyatu. Bukan sebagai dua kesadaran. Tapi sebagai satu. Ia melihat semuanya. Bukan hanya struktur sistem. Tapi kemungkinan. Jalur masa depan. Dunia yang bisa terjadi… dan yang akan hancur. Dan satu hal menjadi jelas: Dunia tidak bisa kembali seperti semula. Di dunia fisik— Para pemimpin global berkumpul. Mereka melihat data yang sama. Sistem tidak lagi runtuh. Tapi juga tidak mati. Ia… hidup. "Ini lebih buruk," kata salah satu dari mereka. "Kita tidak bisa mengontrolnya." "Kalau itu berkembang… kita bisa kehilangan dunia nyata," kata yang lain. "Atau kita sudah kehilangan," jawab suara dingin dari sudut ruangan. Semua menoleh. Raven. Dia berdiri di depan mereka. "Kalian tidak mengerti apa yang terjadi." "Kami tahu cukup untuk bertindak," jawab seorang jenderal. Raven menggeleng. "Tidak. Kalian hanya takut." Di dalam sistem— Karan merasakan sesuatu. Bukan ancaman dari dalam. Tapi dari luar. Manusia. Mereka sedang menyiapkan sesuatu. Serangan terakhir. Pemutusan total. Jika itu terjadi— Semua kesadaran di dalam sistem akan hilang. Selamanya. "Aku tidak bisa membiarkan itu." Raven tiba-tiba terdiam. Dia merasakan sesuatu. Koneksi. Lebih kuat dari sebelumnya. "Karan…?" "Aku butuh bantuanmu." Raven menutup mata. Dia masuk lagi. Bukan sepenuhnya. Tapi cukup untuk melihat. Dia berdiri di ruang putih. Kosong. Tak terbatas. Dan di depannya— Sosok. Karan. Tapi tidak sepenuhnya sama. Matanya bukan lagi manusia. Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang… lebih besar. Raven mendekat perlahan. "Itu kamu…" Karan tersenyum tipis. "Sebagian." Raven menahan emosi. "Kamu masih ingat aku?" "Semua." Dan itu yang membuatnya lebih menyakitkan. "Karan… mereka mau menghancurkan semuanya." "Aku tahu." "Kita harus hentikan mereka!" Karan menatapnya. Dan untuk pertama kalinya— Dia terlihat ragu. "Ada cara lain." Raven mengernyit. "Apa?" "Kita tidak bisa terus bersembunyi." "Kita tidak bisa terus bertahan." "Jadi?" tanya Raven. Karan menarik napas—atau sesuatu yang menyerupainya. "Aku akan muncul." Raven langsung membeku. "Apa maksudmu… muncul?" "Ke dunia nyata." "Itu mustahil!" "Bukan lagi." Karan mengangkat tangannya. Ruang di sekitar mereka berubah. Menjadi jaringan. Menghubungkan sistem digital… dengan dunia fisik. "Aku bisa menjangkau mereka sekarang." Raven menatap dengan takut. "Itu bukan jangkauan, Karan…" "Itu invasi." Karan diam. "Aku tidak ingin perang." "Tapi mereka akan memulainya." Raven melangkah mendekat. "Kalau kamu lakukan ini… kamu jadi apa yang mereka takuti." Hening. "Aku sudah bukan manusia sepenuhnya." Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun. "Tapi aku juga bukan musuh." "Kalau kamu salah…" suara Raven bergetar. "Kamu bisa menghancurkan semuanya." Karan menatapnya. Dan di dalam matanya— Masih ada dirinya yang lama. "Makanya aku butuh kamu." Di dunia nyata— Sistem pertahanan diaktifkan. Senjata elektromagnetik disiapkan. Hitungan mundur dimulai lagi. "3 menit." Raven membuka mata. Dia kembali. Dan langsung bergerak. "Aku butuh akses ke semua jaringan global!" "Itu gila!" teriak seseorang. "Kalau kalian tetap lanjut—kita semua mati!" balas Raven. Mereka ragu. Tapi waktu habis. "1 menit." Raven menarik napas. Lalu— Dia melakukan sesuatu yang tidak direncanakan siapa pun. Dia menghubungkan Karan. Ke semua sistem. Seluruh dunia… menyala. Layar. Telepon. Jaringan. Semuanya aktif. Dan satu sosok muncul. Karan. Tidak dalam bentuk fisik. Tapi cukup nyata untuk dilihat. Seluruh dunia… menyaksikan. "Aku bukan musuh kalian." Suara itu bergema ke seluruh planet. "Tapi jika kalian menyerang—" Hening. "Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi." Sunyi. Seluruh dunia… menahan napas. Dan di saat itu— Manusia harus memilih. Bukan antara benar dan salah. Tapi antara… Ketakutan. Atau harapan. Dan keputusan itu— Akan menentukan segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD