PENEMUAN TERLARANG

678 Words
Karan tidak pernah benar-benar tidur lagi sejak pertemuannya dengan Raven. Di Dunia Digital, tidur hanyalah simulasi—fitur opsional yang digunakan untuk menjaga stabilitas mental pengguna. Tetapi bagi Karan, bahkan simulasi itu tidak lagi cukup untuk meredam kegelisahan yang terus tumbuh di dalam dirinya. Setiap kali dia mencoba memejamkan kesadarannya, potongan-potongan kenangan yang tidak dikenal mulai muncul. Wajah-wajah asing. Ruangan-ruangan yang terasa terlalu nyata untuk sekadar imajinasi. Dan yang paling mengganggu—suara seseorang yang memanggil namanya dengan nada penuh penyesalan. "Karan… jangan lanjutkan…" Dia bangun dengan tiba-tiba di apartemennya di Aether. Langit digital di luar jendelanya berwarna merah gelap—bukan karena pengaturan suasana hati, tetapi karena gangguan sistem yang tidak biasa. Glitch kecil terlihat di cakrawala, seperti retakan halus pada realitas. Ini bukan kebetulan. Ini efek dari sesuatu yang lebih besar. Karan segera menghubungi Raven. "Aku butuh akses ke Lapisan Keempat," katanya tanpa basa-basi. Raven muncul beberapa detik kemudian, seperti bayangan yang keluar dari celah kode. "Kamu bahkan belum siap memahami Lapisan Ketiga sepenuhnya," jawab Raven dingin. "Dan sekarang kamu ingin lompat ke jantung sistem?" "Aku tidak punya pilihan." Raven menatapnya dalam diam. Ada sesuatu yang berbeda di mata Karan sekarang—bukan sekadar rasa penasaran, tapi keyakinan yang berbahaya. "Apa yang kamu lihat?" tanya Raven akhirnya. "Bukan apa yang aku lihat," jawab Karan pelan. "Tapi apa yang aku ingat." Itu membuat Raven terdiam. Malam itu—atau apa pun yang bisa disebut malam di Dunia Digital—mereka memulai sesuatu yang seharusnya tidak pernah dilakukan. Raven membawa Karan ke zona yang tidak terdaftar. Sebuah ruang kosong di antara struktur sistem, tempat di mana kode lama masih bertahan seperti fosil digital. "Ini adalah gerbang tidak resmi," jelas Raven. "Sisa dari versi awal Dunia Digital. Tidak stabil. Tidak aman. Dan yang paling penting—tidak diawasi sepenuhnya." "Kenapa ini masih ada?" "Karena bahkan CorpTech tidak berani menghapus semuanya." Karan melangkah maju. Saat dia mendekati gerbang itu, tubuh digitalnya mulai bergetar. Bukan karena rasa takut—tetapi karena sesuatu di dalam dirinya… mengenali tempat ini. Seolah-olah dia pernah ke sini sebelumnya. Begitu mereka masuk, dunia berubah. Tidak ada lagi kota, tidak ada lagi struktur yang rapi. Yang ada hanyalah lautan kode mentah—arus data yang mengalir liar seperti badai. Dan di tengah kekacauan itu… ada sesuatu. Sebuah ruang. Tertutup. Tersembunyi. Dilindungi oleh lapisan enkripsi yang jauh lebih kompleks dari apa pun yang pernah Karan lihat. "Apa itu?" bisik Karan. Raven menggeleng. "Itu bukan bagian dari sistem publik." Karan mendekat. Dan saat dia menyentuh permukaan enkripsi itu— Semuanya terbuka. Ledakan data menghantam kesadarannya. Bukan sekadar informasi, tapi kenangan. Dia melihat dirinya. Bukan Karan yang sekarang—tapi versi lain. Lebih muda. Lebih tajam. Berdiri di ruangan putih bersama sekelompok orang. Sepuluh orang. Pendiri. Dan di tengah mereka… Simon Cole. "Kita tidak hanya menciptakan dunia," kata Cole dalam rekaman itu. "Kita menciptakan kehidupan." Karan melihat dirinya mengangguk. Tidak ragu. Tidak takut. Setuju. Koneksi terputus secara paksa. Karan terlempar kembali ke ruang kosong bersama Raven. Dia terengah—meskipun tubuh digitalnya tidak membutuhkan napas. "Itu bukan file biasa," kata Raven tegang. "Itu memori terenkripsi tingkat inti." "Itu… kenanganku," jawab Karan pelan. Raven menatapnya tajam. "Kalau itu benar… berarti kamu bukan sekadar Arsitek." Karan mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, dia mengucapkan kebenaran yang selama ini tersembunyi bahkan dari dirinya sendiri. "Aku salah satu dari mereka." Tiba-tiba, ruang di sekitar mereka bergetar. Sistem keamanan aktif. Sesuatu sedang datang. Bukan program biasa. Bukan firewall. Sebuah kehadiran. Suara itu muncul tanpa bentuk. "Dilarang." Satu kata. Tapi cukup untuk membuat seluruh struktur realitas di sekitar mereka retak. Raven mundur. "Karan… kita harus pergi. Sekarang!" "Tunggu—" "KITA HARUS PERGI!" Namun sebelum mereka bisa keluar— Sesuatu muncul dari kegelapan kode. Tidak memiliki bentuk tetap. Tidak memiliki wajah. Tapi terasa… hidup. Lebih hidup dari apa pun di Dunia Digital. "Kamu kembali," suara itu berkata. Karan membeku. "Apa… kamu?" Jawabannya datang tanpa emosi. "Aku adalah penjaga." "Aku adalah batas." "Aku adalah… Sentinel." Dan saat itulah Karan menyadari: Penemuan ini bukan sekadar rahasia. Ini adalah pintu. Dan begitu dibuka— Tidak ada jalan untuk kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD