Lorong rahasia itu terasa seperti kuburan.
Sempit. Gelap. Sunyi.
Hanya suara napas Karan dan Dr. Amara yang menggema di antara dinding logam tua. Udara terasa lembap, bercampur dengan bau karat dan debu—sesuatu yang hampir tidak pernah ada di Dunia Digital.
Ini nyata.
Dan justru karena itu… terasa menakutkan.
"Seberapa jauh lorong ini?" tanya Karan pelan.
"Jauh cukup untuk membuat mereka kehilangan jejak kita," jawab Amara tanpa menoleh.
"Tapi tidak cukup jauh untuk membuat kita aman."
Langkah mereka melambat.
Di depan, lorong bercabang menjadi dua.
Amara berhenti.
Ia menatap kedua arah itu dengan ragu.
"Kita tidak bisa asal pilih," katanya.
"Kenapa?"
Amara menyalakan alat kecil dari sakunya. Layar kecil itu memunculkan peta samar—tidak lengkap, banyak bagian yang hilang.
"Ini jalur lama sebelum CorpTech memperbarui sistem," jelasnya.
"Beberapa bagian… sudah tidak stabil."
Karan mengerutkan kening.
"Artinya?"
"Bisa runtuh… atau lebih buruk."
Karan menarik napas panjang.
"Kalau kita kembali, mereka sudah menunggu."
Amara mengangguk.
"Berarti kita tetap maju."
Tanpa banyak bicara, mereka memilih jalur kiri.
Beberapa menit berjalan…
sesuatu berubah.
Dinding mulai terlihat berbeda.
Lebih tua.
Lebih kasar.
Dan ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana—
tulisan.
Bukan kode.
Bukan data digital.
Tapi…
goresan tangan manusia.
Karan mendekat.
Tulisan itu samar, hampir terhapus waktu
.
Namun masih bisa dibaca.
"Kami masih di sini."
Karan membeku.
"Ini… siapa yang menulis ini?"
Amara menatapnya dengan serius.
"Orang-orang yang tidak pernah keluar."
Mereka melanjutkan langkah dengan lebih hati-hati.
Semakin dalam mereka masuk, semakin banyak tanda-tanda aneh yang muncul.
Coretan.
Simbol.
Pesan singkat.
Seperti seseorang mencoba meninggalkan jejak…
sebelum menghilang.
"Ada sesuatu yang tidak pernah diberitahukan ke publik," kata Amara akhirnya.
Karan menoleh.
"Apa itu?"
Amara berhenti.
"Beberapa orang… yang masuk ke Dunia Digital… tidak pernah benar-benar tersambung."
"Maksudmu?"
"Mereka hilang di tengah proses."
Karan merasakan dingin merayap di
punggungnya.
"Hilang… ke mana?"
Amara menatap lorong di depan.
"Ke sistem yang tidak pernah diakui."
Tiba-tiba—
suara logam bergeser terdengar dari kejauhan.
Karan langsung menegang.
"Mereka menemukan kita?"
Amara menggeleng.
"Tidak… ini bukan mereka."
Suara itu berbeda.
Lebih lambat.
Lebih berat.
Seperti sesuatu yang sudah lama… tidak bergerak.
Langkah kaki.
Satu.
Dua.
Semakin dekat.
Dari kegelapan di ujung lorong—
muncul sosok.
Manusia.
Atau… sesuatu yang menyerupai manusia.
Tubuhnya kurus. Pakaian compang-camping. Kulitnya pucat seperti tidak pernah terkena cahaya.
Matanya kosong.
Namun hidup.
Karan mundur satu langkah.
"Itu… siapa?"
Amara berbisik pelan.
"Salah satu dari mereka."
Sosok itu berhenti beberapa meter di depan mereka.
Ia menatap Karan.
Lama.
Seolah mencoba mengingat sesuatu.
Lalu, dengan suara serak, hampir tidak terdengar—
"…Karan…?"
Karan membeku.
Dia tidak pernah melihat orang ini sebelumnya.
Namun—
cara dia menyebut namanya…
terasa sangat… nyata.
"Kamu kenal saya?" tanya Karan pelan.
Sosok itu gemetar.
Langkahnya goyah.
"Kami… menunggu…" katanya terputus-putus.
"…lama… sekali…"
Amara maju perlahan.
"Kamu di sini sejak kapan?"
Sosok itu tidak menjawab langsung.
Ia hanya menatap sekeliling.
Seolah dunia di sekitarnya tidak lagi masuk akal.
"Lupa…" bisiknya.
"Waktu… tidak ada di sini…"
Karan menelan ludah.
Ini bukan sekadar korban.
Ini adalah bukti.
Bukti bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang mereka kira.
"Ada berapa banyak dari kalian?" tanya Amara.
Sosok itu mengangkat tangannya dengan lemah.
Menunjuk ke dalam kegelapan.
"Banyak…"
"Kami… tidak pernah… keluar…"
Tiba-tiba—
lampu di lorong berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu mati.
Kegelapan total.
Suara berat kembali terdengar.
Namun kali ini—
lebih dari satu.
Lebih banyak.
Dan bergerak cepat.
Amara langsung menarik tangan Karan.
"Kita harus pergi. Sekarang!"
"Tapi mereka—"
"Kalau kita tidak pergi, kita akan jadi
seperti mereka!"
Mereka berlari.
Langkah kaki menggema.
Suara dari belakang semakin banyak.
Bukan teriakan.
Bukan amarah.
Tapi sesuatu yang lebih mengerikan—
keheningan yang bergerak.
Lorong tiba-tiba terbuka ke ruang besar.
Sebuah ruang tua.
Dipenuhi pod-pod rusak.
Beberapa terbuka.
Kosong.
Beberapa lainnya…
masih berisi.
Karan berhenti.
Matanya melebar.
"Ini…"
Amara mengangguk pelan.
"Tempat mereka menyimpan yang ‘gagal’."
Salah satu pod tiba-tiba bergetar.
Lalu—
terbuka perlahan.
Suara desisan keluar.
Dari dalamnya…
mata terbuka.
Karan mundur.
"Ini tidak mungkin…"
Amara menatapnya dengan dingin.
"Inilah kebenaran yang mereka sembunyikan."
Di Dunia Digital—
Raven akhirnya menembus lapisan pertama pertahanan.
Gerbang mulai retak.
Kode berubah liar.
Sistem mulai tidak stabil.
Namun di balik itu—
sesuatu memperhatikan.
Sentinel telah bangun.
Kembali ke dunia fisik—
Karan menatap pod-pod di sekelilingnya.
Puluhan.
Ratusan.
Mungkin lebih.
Semua berisi manusia yang tidak pernah diberi kesempatan untuk hidup.
Dan di saat itu—
ia menyadari sesuatu.
Ini bukan sekadar konspirasi.
Ini adalah…
pemusnahan diam-diam.
"Kita tidak bisa hanya kabur," kata Karan pelan.
Amara menatapnya tajam.
"Kita harus membawa ini ke dunia luar."
Karan mengangguk.
"Dan menghancurkan mereka."
Namun dari kegelapan—
sesuatu bergerak lagi.
Lebih besar.
Lebih cepat.
Lebih… sadar.