Langkahnya terasa ringan. Ada dua kebahagiaan yang menyelimuti hatinya. Tempat kos barunya segera siap ditempati dan ia sudah mulai bisa belanja keperluan bayinya. Sudah beberapa hari terakhir, Jelita membuka buka toko daring dan menemukan banyak sekali perlengkapan bayi yang lucu lucu dna menggemaskan. Tak sabar rasanya membeli pakaian bayi yang mungil untuk anakku. Ia senyum senyum sendiri saat tiba di restoran ayam favoritnya tersebut. Jelita menatap plang nama nya, 'AYAM SERUNDENG BAMBU". Aku baru menyadari nama restoran ini. Padahal sudah berkali kali datang ke sini. "Kenapa kamu senyum senyum sendiri?" dokter Pratama muncul di sampingnya. "Ah, euh... Tidak sengaja," Jelita senyum lebar menyambut kehadiran Pram yang sudah satu bulan ini tidak ditemuinya. Dokter P

