Pesta Kemenangan

1022 Words
Sesampainya di arena balapan, aku menghentikan motorku di depan teman-temanku yang memang sudah menunggu di sana. Aku berteman dengan siapa saja. Baik laki-laki, maupun perempuan. Kehidupanku yang bebas ini terjadi karena memang aku kurang perhatian dari kedua orang tuaku. Mereka selalu disibukkan dengan bisnis. Sesekali saja mereka berada di rumah untuk sekedar mengintrogasi ku. Apa saja yang aku lakukan, bagaimana dengan kuliahku, dan lain-lain. Menurutku, itu bukan bentuk perhatian yang aku inginkan. Mereka hanya peduli dengan kegiatanku, bukan dengan apa yang aku rasakan. "Gue kira Lo nggak bakalan dateng, Flo!" Itu Lisa, salah satu teman akrabku di sana. "Kenapa? Karena gue baru aja selesai resepsi? Ya nggak, lah! Gue pasti dateng buat kalian." Aku menyahut sambil turun dari sepeda motorku. Melepas helmku, dan meletakkannya di atas tanki. "Terus nasib suami Lo gimana? Kasian banget, malam pertama dianggurin," ejek Roy, sambil tertawa, dan memandang ke arah teman-teman kami yang lain. "Iya, kasian, ya. Harusnya Lo sebagai istri kasih layanan terbaik buat dia. Ini kan malam pengantin kalian berdua," sahut Arga, juga sambil tertawa. Menyebalkan memang mereka. Aku sudah menyempatkan diri datang ke arena, justru mendapatkan ejekan dari teman-temanku itu. Tapi mereka ada benarnya, seharusnya sekarang aku ada di kamar. Memasrahkan diri di bawah Kungkungan Dewa. Sayangnya, untuk sekarang aku belum berminat. "Sialan, kalian! Gue ke sini karena gue emang nggak minat ngelakuin itu sama dia! Bisa bayangin nggak sih, ngelakuin begituan sama orang yang nggak kalian suka?" Aku duduk di antara mereka, mengambil kaleng minuman yang masih utuh, membuka, dan meminum isinya sampai tandas. "Astaga, Flo. Lo masih mikirin rasa suka? Apa kurangnya pak Dewa, coba? Dia ganteng, postur tubuhnya perfek, senyumannya aja bikin semua orang meleleh. Kalo gue jadi Lo, udah pasrah aja. Gue rela diper-anu sama laki-laki modelan dia." Lisa menyahut frontal. Tolong dimaklumi, temanku yang satu ini memang otaknya sedikit bergeser karena kebanyakan mencium aroma bensin. Dia memang sering berbicara asal, apalagi kalau sudah bertemu dalam satu geng seperti sekarang. "Jual mahal sedikit kek, Lis. Gue nggak peduli mau seganteng apa si Dewa itu. Pokoknya, gue nggak minat sama dia. Gue bakalan bikin dia cerein gue secepatnya. Dia orangnya suka ngatur, ngelebihin bokap-nyokap gue. Malesin!" umpatku kesal. Itu memang nyata. Sebelum pergi tadi aku bahkan harus berdebat dulu dengannya. Dia membatasi jam keluarku. Kalau seperti ini terus, aku akan terkurung di dalam rumahnya yang seperti istana itu. Bukannya bahagia, aku malah stres. "Ya wajarlah, Flo. Dia itu kan suami Lo, dia pasti akan melakukan apapun yang terbaik buat Lo. Kapan lagi coba diperhatiin suami spek pangeran kayak dia? Harusnya Lo bersyukur," ucap Roy mengingatkanku. Memangnya iya? Aku harus bersyukur memiliki suami seperti Dewa? Tapi aku sama sekali tidak mencintai dia. Bukan tidak, tetapi belum. Walaupun teman-teman wanitaku mengatakan kalau dia memang tipe cowok yang sempurna. Entahlah, ada apa denganku. "Sorry, untuk sekarang nggak dulu. Gue masih belum terbiasa dengan status baru gue. Ngomong-ngomong, kapan mulai balapannya?" Aku mengalihkan topik pembicaraan. "Sebentar lagi. Itu si Juna udah stay di arena. Kita tinggal ke sana aja buat kasih dukungan. Gue yakin, dia bakalan menang lagi malam ini. Apalagi lawannya si Tomas." "Ya udah, ayo ke sana. Abis ini kita pesta kayak biasanya, kan? Kalau Juna menang, gue yang traktir," ucapku serius. Malam ini aku ingin melepaskan semua rasa lelah yang menguasai diriku. Aku juga ingin bersenang-senang setelah beberapa hari dikurung di rumah. Pokoknya, aku tidak akan pulang sebelum aku puas menikmati malam ini bersama mereka. Bagaimana dengan Dewa? Terserah. Aku tidak peduli walaupun dia mau marah-marah sekalipun. Ini hidupku, dan aku berhak penuh untuk itu. "Wih, mantep, nih. Kapan lagi coba ditraktir sama pengantin baru. Inget ya, Flo ... Lo nggak tahan alkohol. Jadi malam ini Lo nggak usah minum." Lisa mengingatkanku. Aku memang lemah terhadap alkohol. Kalau ditanya siapa yang pertama kali tumbang saat pesta minum, jawabannya sudah pasti aku. Hal itu juga yang membuat orang tuaku kerap marah-marah. Aku memang sedikit badung. "Nggak janji. Gue malah pengen minum banyak ntar," sahutku asal. Setelah bercakap beberapa saat kami memutuskan menyusul Juna ke arena. Malam ini aku, dan yang lainnya datang memang sengaja untuk memberi dukungan kepada teman kami yang satu itu. Pertandingan berlangsung sengit. Baik Juna ataupun Tomas, keduanya sama-sama memiliki skill yang bagus. Kami semua bersorak setelah Juna memenangkan pertandingan. Ternyata benar tebakan Roy, Juna sudah pasti memenangkan pertandingan malam ini. Sesuai dengan kesepakatan, aku bersama teman-teman yang lain, termasuk Juna pergi ke bar favorit kami. Di sana kami memesan banyak minuman, dan juga camilan. Dentuman musik seakan menggodaku untuk menggerakkan badan. Aku pun mengajak mereka untuk berpesta sebentar. Berjoget mengikuti irama musik. Setelahnya, kami kembali fokus pada pesanan yang ada di meja kami. "Flo, udah. Jangan banyak-banyak minumnya. Ntar gue kena omel laki Lo." Lisa berusaha merebut gelas keempatku. Rasanya kepalaku memang sudah mulai berat, tetapi aku tetap saja ingin minum lagi, dan lagi. "Apaan sih, Lis! Gue masih pengen minum. Lagian Lo nggak akan kena omel laki gue kalo nggak cepu ke dia. Kalo gue mabok, tinggal Lo bawa pulang ke kosan Lo. Jangan kasih tau laki gue!" Aku tetap ngeyel. Malam ini aku memang malas untuk pulang ke rumah Dewa. Aku ingin menikmati malam ini bersama teman-temanku. Sebebas mungkin. "Udah, biarin aja, Lis. Ntar kalo si Flo tumbang, tinggal kita seret, masukin empangnya babeh Romli. Biar dimakan sama ikan lelenya," ledek Juna. Itu sudah biasa. Aku tidak marah. Mereka memang sering bercanda. "Terserah kalian aja. Kalo mau nambah lagi, tinggal pesen. Tadi gue udah kasih duitnya ke Lisa." Aku memang sudah menyerahkan uang cash ke Lisa untuk jaga-jaga kalau sebentar lagi aku tumbang. "Serius nih? Makasih banget, Bos! Ayo kita lanjut minum lagi." Kami kembali menikmati malam itu. Beberapa gelas masih sanggup aku teguk. Aku mulai lupa dengan masalahku. Lupa dengan semuanya. Lupa tentang aku yang sudah menikah dengan Dewa. Sekarang aku hanya berpikir kalau ini akan menjadi salah satu cara untuk membuat Dewa menyerah. Dia tidak akan tahan denganku yang seperti ini, bukan? Mengingat kehidupannya sebagai seorang dokter. Dia pasti akan menceraikan ku dalam waktu dekat. Aku ingin kembali bebas. Menikmati hidupku tanpa kekangan. Aku memang bukan gadis baik-baik. Tapi kalian jangan salah menilai ku. Seburuk-buruknya aku, sampai detik ini aku belum pernah disentuh oleh siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD