Shasa memandang nyalang kearah mobil suaminya yang telah menjauh, dan hilang dari pandangannya. Tangan lentik itu mengepal erat menahan amarah, dan rasa kesal yang melanda hatinya saat ini. Bagaimana tidak? Celia, wanita itu merengek ingin menggantikan dirinya yang berangkat mengantar Rangga anaknya mengambil berkas-berkas kepindahan di sekolah lama. Lila yang berada di samping Shasa menatap Shasa dengan tatapan menyesal, dan perasaan bersalah yang amat besar. Karena ia tidak berdaya melawan sifat egois suaminya. "Maafkan Mama, Sayang. Mama nggak berdaya sama sekali untuk membela dan melindungi hatimu agar nggak sakit karena ulah Pian dan Papamu."Ucap Lila dengan nada memohonnya. Shasa menoleh lembut kearah Lila, dan menggelengkan kepalanya kuat, mama nggak salah, dan nggak seharus

