Sena membuka pintu kamar Hana dengan kasar sampai membuat Hana terlonjak. Muka Sena terlihat merah seperti menahan tangis lalu mendekati Hana yang sedang duduk di meja belajarnya.
"Mana sweter limited edition-ku?" pekik Sena kencang.
Hana mengusap telinganya yang sedikit berdenging karena teriakan Sena yang kencang. "Aku pinjamkan pada temanku kemarin." jawab Hana acuh tak acuh.
"Aku tidak mau tahu pokoknya hari ini harus ada sweter itu." teriak Sena sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang di ambil permen lolipopnya.
Hana mengusap telinganya kembali. "Nanti aku ambil. Sudah keluar sana jangan ganggu aku." usir Hana sambil mendorong Sena keluar dari kamarnya.
Hana kemudian menutup dan mengunci pintu kamarnya agar Sena tidak dapat kembali lagi membuat keributan dikamarnya. Terdengar Sena masih berbicara di balik pintu kamar Hana sambil teriak-teriak. Hana tidak memedulikannya dan malah menyalakan musik dari playlist ponselnya dengan kencang.
***
Siang ini Derris sedang terlentang sambil menatap langit-langit kamar kostnya. Sesekali ia bersenandung kecil sambil memeluk dan mencium bau parfume dari sweter yang di beri pinjam Hana. Ia tidak menyangka bahwa Hana masih peduli kepadanya. Semua perkataan Hana yang kejam seolah sirna dengan perhatian kecil yang di tunjukkan Hana kemarin
Ponsel yang terletak di samping kepala Derris bergetar. Ia meraih ponselnya dan melihat siapa orang yang telah mengganggu kebahagiaannya di hari yang cerah ini. Ketika melihat di layar ponselnya tertera nama 'Hana Honey' ia langsung duduk dan tersenyum lebar sembari mencium layar ponselnya.
Apa kau sibuk? Aku mau mengambil sweter yang kemarin aku pinjamkan.
Senyum Derris semakin lebar ia tak menyangka Hana akan menghubunginya terlebih dahulu. Mengingat selama ini Derris lah yang terlebih dahulu selalu menghubungi Hana. Sebelum Derris mengetik untuk membalas pesan Hana, Ponsel Derris bergetar kembali, ia lalu membuka pesan kedua dari Hana.
Sweter itu milik adikku, ia terus merengek meminta sweternya untuk segera di kembalikan.
Senyum Derris langsung redup dan menghilang seketika. Ia lalu melempar sweter itu dengan kasar ke atas tempat tidurnya.
"Sial. Aku kira ini milik Hana." umpat Derris sembari membalas pesan Hana untuk janjian bertemu di taman dekat halte.
Derris pun beranjak dari tempat tidurnya lalu bersiap-siap untuk bertemu dengan Hana. Meskipun ia dongkol dengan sweter itu, tapi Derris merasa di lain sisi ia sangat senang karena bisa bertemu dengan Hana kembali.
***
Cuaca yang terik membuat Hana lebih memilih berteduh di pohon rindang yang sejuk sambil sesekali melirik jam tangannya. Taman yang berukuran cukup besar ini, hanya di isi oleh beberapa anak kecil yang sedang bermain ayunan dan juga perosotan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Derris.
Hana menengok lalu memperhatikan Derris dari atas hingga bawah. Penampilan Derris hari ini sangat rapi dan juga sangat wangi seperti pria yang hendak berkencan dengan pacarnya. Kaos polo abu dan celana jeans hitam yang tak lupa di balut dengan jaket hitam menambah daya tarik Derris.
Hana memang acuh dan dingin kepada setiap lelaki. Namun ia sesekali kadang selalu memerhatikan dengan seksama setiap lelaki yang mendekatinya. Terutama Derris, dia memiliki ketampanan di atas rata-rata, kulit berwarna putih, hidungnya yang mancung dan matanya yang tajam namun lembut. Terlebih Derris memiliki sifat yang sangat ceria, berbanding terbalik dengan Hana yang kaku. Namun semua sifat aneh Derris seakan menelan semua sisinya yang baik.
Hana tidak mengerti dengan Derris yang mengejar-ngejar dirinya. Padahal Hana yakin diluar sana masih banyak gadis yang menyukai Derris melebihi Hana. Tapi Hana tidak ambil pusing, karena setiap orang mempunyai penilaian masing-masing terhadap perasaannya.
"Hei Hana. Kenapa melamun?" Derris menepuk bahu Hana pelan dan menyadarkan Hana dari lamunannya.
"Oh iya kenapa?" Hana jadi salah tingkah dan menggaruk dahinya yang tidak gatal. Hana malu jika Derris mengetahui bahwa Hana baru saja sedang menilai Derris.
Derris tersenyum kecil. "Kamu terpesona denganku?" Derris jadi terkekeh geli melihat ekspresi Hana. "Lihat mukamu jadi merah." tunjuk Derris pada pipi Hana.
Hana memegang kedua pipinya yang menghangat. "Wajahku berwarna ungu. Sini mana sweterya."
Derris memberikan paper bag berwarna coklat pada Hana lalu berkata. "Aku belum sempat mencucinya, karena kamu mendadak ngasih kabarnya."
Hana mengangguk kecil. "Oke terima kasih. Aku pergi duluan." ucap Hana lalu melangkah pergi.
"Hana." ucap Derris pelan. "bisakah kita bicara sebentar?" pinta Derris.
Hana berbalik ke belakang dan menatap Derris, ia berpikir sejenak lalu mengangguk kecil. Mereka memutuskan untuk duduk di dekat ayunan. Derris menghembuskan nafas pelan, ia terlihat sedikit gugup. Karena Derris hanya terdiam terus akhirnya Hana memutuskan untuk membuka percakapan.
"Jadi. Apa yang ingin dibicarakan?" tanya Hana.
"Aku minta maaf." ucap Derris pelan. "Aku tau. Aku terlalu memaksa untuk menjadi pacarmu. Dan aku tidak serius saat bicara kasar waktu itu."
Hana mengangguk kecil. "Baiklah. Aku juga minta maaf untuk semua perbuatanku padamu." ucap Hana.
Derris tersenyum usil. "Jadi kita pacaran lagi?"
Hana memutar bola matanya kesal. "Akan aku pertimbangkan." Hana memalingkan wajahnya dan tersenyum kecil melihat ekspresi Derris yang kaget mendengar jawaban Hana.
"Jadi kita resmi pacaran kembali." Derris bangkit berdiri dan memegang kedua bahu Hana dengan senyum yang lebar.
"Akan aku pertimbangkan, kau dengar itu." Hana bangkit melepas kedua tangan Derris yang memegang bahunya. Dan berjalan pulang ke rumahnya.
Derris pun mengekor di belakang Hana untuk mengantarkan pulang sambil terus berkata hari ini kita resmi pacaran kembali sampai di depan rumah Hana. Derris pun pamit kepada Hana dan berbisik pelan mengulang kata-katanya yang tadi untuk terakhir kalinya.
Hana menghembuskan nafas. "Sepertinya kau akan meneleponku dan terus mengulang kata-kata itu sampai bosan." sindir Hana. "Baiklah. Aku menyerah." Hana mengangkat kedua tangannya tanda menyerah agar Derris segera berhenti berbicara.
Derris menyunggingkan senyumnya dengan lebar lalu memegang kedua bahu Hana. "Kali ini kau serius kan?" tanya Derris semangat.
Hana mengangguk kecil lalu menyuruh Derris untuk segera pergi sebelum ibu Hana melihatnya dan membuat keributan. Kali ini Derris tidak protes pada Hana, ia lebih memilih mengalah dan pulang. Namun lain waktu ia berjanji akan menemui ibu dan ayah Hana.
***
"Astaga Derris. Cepat pergi sana jangan terus menempel pada Hana." keluh Sera pada Derris.
Sudah beberapa hari ini Derris kembali ke rutinitas semula yaitu datang berkunjung ke kelas Hana. Kedatangan Derris melebihi jadwal makan dalam satu hari yang hanya tiga kali, ia datang mengunjungi Hana empat sampai lima kali dalam satu hari. Dan yang lebih parah Derris selalu menempel kepada Hana seperti prangko dan menghiraukan Hana yang sudah mengusirnya dengan menggunakan cara halus hingga sampai dengan cara yang kasar, seperti mencubit tangannya dan menjitak kepala Derris. Sera yang kesal pada Derris, selain karena kursinya yang terus di duduki oleh Derris. Sera pun kini jadi tidak ada waktu curhat dengan Hana.
"Baiklah aku akan pergi. Tapi dengan satu syarat." kata Derris pada Hana.
"Apa?" tanya Hana malas.
"Akhir pekan ini kita kencan," pinta Derris
Hana memutar bola matanya, sudah menduga pasti Derris akan berkata seperti itu. "Akan aku pertimbangkan. Jadi cepat pergi sana." usir Hana.
"Harus jawab sekarang." kata Derris tegas.
Hana mendengus. "Baiklah baiklah." desah Hana.
Derris tersenyum puas, ia pun langsung bangkit dan kembali ke kelasnya. Sera yang dari tadi berada di kursi belakang akhirnya pindah duduk di sebelah Hana.
"Kau serius dengan Derris sekarang?" tanya Sera penasaran, Arin yang duduk di belakang pun mendengarkan pembicaraan kedua temannya dengan seksama.
"Entahlah." jawab Hana acuh tak acuh lalu memainkan ponselnya.
Sera melirik pada Arin yang ada di belakangnya saling pandang. Lalu mereka menatap Hana tidak puas dengan jawaban yang diberikannya.
"Astaga." Hana memutar bola matanya lalu menyimpan ponselnya di atas meja dan berkata, "aku merasa bersalah pada Derris." desahnya.
"Tapi kan kamu tidak menyukainya." kata Sera.
Hana mengangguk. "Yah setidaknya aku ingin menebus sedikit rasa bersalahku."
"Semoga saja tidak ada lagi kejadian lemparan s**u kedua." gurau Arin. Mereka berdua tertawa sedangkan Hana mendengus kesal mendengarkan gurauan Arin.