Bab 15

2722 Words
Derris berjalan lunglai menuju mejanya. Rian yang sedari tadi duduk di kursi sebelah Derris memperhatikan raut wajah Derris yang kini berubah setelah mendapatkan hasil ulangan. Derris duduk di sebelah Rian, setelah bel tanda istirahat pertama berbunyi. Romi bangkit dari kursinya yang berada di belakang Derris, lalu berdiri di sebelah Derris dan melihat hasil ulangan Derris yang kini sedang di tatapnya dengan nanar. "Makanya jangan pacaran mulu, jadi ancurkan semua nilai." sindir Romi lalu tertawa singkat menatap Rian yang kini sedang tersenyum simpul melihat Derris. Derris tidak menghiraukan sindiran Romi, ia melipat kertas ulangannya menjadi dua lalu memasukannya ke dalam tas. Derris lalu duduk menyender sambil menyilangkan kakinya. Ia sedang berpikir apabila nilainya terus seperti ini, ibunya tidak akan tinggal diam dan malah akan menariknya dengan paksa agar kembali tinggal bersama. Derris bergidik ngeri. Ia sangat mengingat dengan jelas saat beberapa bulan yang lalu sebelum memasuki SMA, ia meminta izin kepada ibu dan ayahnya untuk tinggal sendiri. Ayahnya yang tidak banyak bicara hanya menginyakan dan tanpa bertanya panjang lebar, namun berbeda dengan ibunya. Derris yang merupakan anak tunggal langsung mendapat tatapan tajam dari sang ibu. Derris menelan ludahnya dengan susah payah melihat respon yang di berikan oleh ibunya. Ia tau meminta izin untuk tinggal sendiri adalah ide yang sangat buruk. Tapi ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa sedikit bebas dari ibunya. "Memang kamu sudah bisa cuci baju sendiri? Sudah bisa bangun sendiri tanpa harus ibu bangunkan? Masak telor dadar aja gosong. Jangan banyak tingkah. Sekolah disini masih banyak yang bagus...." dan bla bla bla masih banyak rentetan kalimat yang ibunya ucapkan. Derris sudah menduga akan mendapat respon seperti ini. Derris menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya. Sabar batinnya, agar rencana membujuk ibunya ini berjalan dengan mulus. ia pun menawarkan kesepakatan kepada ibunya. "Aku sudah menduga ibu akan berbicara seperti itu." Derris menatap wajah ibunya yang kini malah menyipitkan mata ke arahnya dengan curiga. "bagaimana kalau ibu memberi waktu padaku untuk berubah." "Maksud kamu?" tanya ibu dengan galak. Derris melirik pada ayahnya yang kini mulai tertarik dengan pembicaraannya dengan sang ibu. Ayah memperhatikan anaknya dengan seksama lalu beralih melirik pada istrinya yang kini terlihat seperti serigala yang bisa menerkam mangsanya sewaktu-waktu. "Beri aku waktu dua bulan. Aku akan berusaha berubah dan membuktikan pada ibu bahwa aku bisa hidup mandiri." jelas Derris. Ibu hanya diam beberapa saat, ibu membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun ayah memegang tangan ibu dengan lembut. "Setuju." kata ayah sambil tersenyum kecil pada ibu yang kini sedang menatap ayah dengan kesal. "Terlalu lama." kini ibu beralih menatap Derris dengan sinis. "Satu bulan. Semua rumah harus bisa kamu bersihkan dan juga termasuk masak." ibu tersenyum puas melihat Derris yang kini menganga. "Tapi bu.." Ibu mengangkat satu tangannya. "Protes? Kita batalkan saja kesepakatan ini." ibu bangkit dari sofa yang di dudukinya. Melihat ibunya yang akan menyudahi pembicaraan, Derris panik ia pun ikut bangkit dan menahan tangan ibunya. "Tunggu, baik aku setuju." desah Derris. Ibu tersenyum simpul. "Ingat satu bulan." kata ibu dan langsung pergi ke arah dapur. Derris duduk kembali di sofa yang tadi di tempatinya. Ia melihat ayahnya dengan memelas. Ayah hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Ayah rasa cukup adil." ayah bangkit dari sofanya menghampiri Derris yang duduk di seberang lalu menepuk bahu anaknya dengan pelan. "semoga beruntung." lalu ayah beranjak pergi menaiki tangga dan menuju ke kamar tidurnya. Sejak kesepakatan itu berlangsung, Derris mulai berubah sedikit demi sedikit. Ia mulai membiasakan bangun pagi dan menyiapkan sarapan yang mudah seperti menyediakan roti dan selai, lalu keesokan harinya ia mulai membuat nasi goreng meskipun rasanya yang terlalu asin. Derris pun akhirnya mulai mencari resep dari internet dan mempraktekkannya. Dua minggu berlalu sudah terlihat banyak kemajuan yang Derris perlihatkan. Ibu yang melihat kesungguhan anak semata wayangnya, akhirnya mengizinkan Derris untuk hidup mandiri. Dan tentunya dengan segudang persyaratan yang harus Derris laksanakan. Romi menepuk-nepuk bahu Derris membuyarkan lamunannya. "Ikut ke kantin ngga?" tanya Romi. Derris mengangguk lalu bangkit berdiri yang diikuti oleh Rian dan Romi yang berjalan di sisi kiri dan kanannya. Hari ini Derris sedang tidak semangat seperti biasa, biasanya sesudah bel berbunyi ia langsung bergegas dengan cepat ke kelas Hana. Namun kali ini ia butuh waktu sendiri untuk memikirkan nasibnya yang akan berakhir di tangan ibunya jika mengetahui semua nilainya turun. Keadaan kantin cukup ramai, mereka bertiga memilih duduk di kursi paling belakang. Dan masing-masing dari mereka hanya membeli minuman serta makanan ringan. Derris yang sejak awal melamun tidak menyadari bahwa ada tiga orang yang kini sudah bergabung di meja mereka. Derris baru tersadar dari lamunannya ketika Romi berteriak memanggil namanya tepat di telinga kirinya. "Apaan sih." sewot Derris sambil mengusap telinga kirinya yang kini berdengung. Derris ingin memukul Romi, namun baru tersadar bahwa kini di hadapannya ada Hana, Arin dan juga Sera yang sedang menatapnya. "eh sayang." kata Derris pada Hana dan langsung menyunggingkan senyuman yang lebar. Arin yang sedang meniup basonya bertanya dengan bingung. "Ada apa Derris?" Derris menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal lalu melihat Hana yang sedang menyedot jus alpukatnya dengan raut wajah yang datar seperti biasa. Ia malu untuk jujur pada Hana dan juga ia tidak mau kalau sampai Hana menganggap Derris pacar yang sangat payah dalam hal pelajaran. Derris baru saja akan membuka mulutnya untuk memberi alasan namun kalah cepat dengan Romi. "Semua hasil ulangannya hancur." bisik Romi, namun bisikan itu dapat terdengar jelas oleh Derris dan juga teman-teman satu mejanya. Derris langsung melirik tajam ke arah Romi yang duduk di sisi kirinya. Romi hanya mengangkat bahu acuh. Derris lalu beralih pada Hana yang berada tepat di depannya sedang tersenyum simpul. Arin tertawa singkat. "Tenang saja, Sera dan Hana juga sama." Arin lalu menyeruput es teh manisnya. "aku bisa membantumu Derris. Mereka berdua juga tadi sudah meminta bantuanku." tunjuk Arin pada Sera dan Hana, lalu melanjutkan memakan basonya yang kini hampir habis. "Apa benar nilai kamu hancur?" selidik Derris yang sedikit tidak percaya bahwa ternyata Hana pun memiliki nasib yang sama. "Matematika dan bahasa Inggis yang parah, selain itu yang lain masih lumayanlah." jawab Hana acuh. "Memang nilai Arin bagus?" tanya Romi lalu menyipitkan matanya pada Arin merasa tak percaya. Rian pun mencondongkan badannya ke depan sama tak percayanya dengan Romi. "Kamu tidak percaya padaku? Sera coba jelaskan pada manusia-manusia ini yang belum mereka ketahui tentangku." Arin menyingkirkan mangkok yang sudah kosong ke sebelahnya dengan sombong. "Dia cukup pintar teman-teman." jawab Sera dengan malas. "jadi kita minta yang mulia Arin ini, agar bisa membantu menaikkan nilai kita yang kebetulan hancur." jelas Sera. Arin langsung tersenyum simpul kepada para lelaki yang ada di depannya. Romi dan Rian hanya menahan tawa mendengar penjelasan dari Sera. Sedangkan Derris memilih percaya saja, yang penting nilai ulangannya dapat naik. "Wah, sepertinya hanya Derris yang ingin nilainya naik." Arin menatap kesal pada Rian dan Romi yang seakan mengejeknya. "Aku setuju, kapan kita mulai berlajarnya?" tanya Derris antusias. Arin mengetuk dagunya pelan. "Terserah. Tapi jangan weekend, Karena aku sudah ada janji." "Bagaimana kalau hari ini?" tawar Hana dan dapat anggukan dari Sera. "tapi dimana ya?" "Di tempatku saja." usul Derris. "Oke setuju." kata Arin dan Sera bersamaan. *** Sepulang sekolah mereka berenam langsung menuju halte lalu menaiki bis yang biasa di tumpangi Derris dan Hana. Sesampainya di tempat kost Derris. Romi dan Rian yang tidak percaya dengan kemampuan Arin hanya duduk di dekat tempat tidur Derris sambil bermain game. Mereka berdua yang mendapat nilai pas-pasan merasa hanya tinggal berlajar sedikit saja agar bisa menaikkan nilai. Sedangkan Derris, yang mendapat hampir semua nilai hancur haruslah belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa mendapat nilai yang bagus. "Kalian berdua yakin tidak akan ikut bergabung?" tanya Sera untuk yang kedua kalinya. "lagipula nilai pas-pasan seperti kalian harusnya juga ikut bergabung." Arin menatap sinis kepada Rian dan Romi. "Biarkan Sera, mereka pikir nilai pas-pasan dapat membantu mereka. Awas aja kalo minta bantuan, aku ngga sudi." sungut Arin sambil membuka buku dengan kasar. Rian dan Romi hanya tergelak melihat tingkah Arin. Tiga puluh menit sudah mereka belajar di tengah ruangan kamar kost Derris. Keseriusan penjelasan Arin kepada teman-temannya selalu terganggu oleh suara kencang yang berasal dari game Rian dan Romi. Tak jarang mereka berdua selalu mendapat teriakan dari Arin untuk mengecilkan suara gamenya dan juga setiap u*****n yang mereka lontarkan. Namun mereka berdua malah acuh dan tak mengindahkan ucapan Arin. Rian dan Romi malah semakin menjadi, mengejek dan juga tertawa dengan kencang. Arin yang kesal lalu bangkit mendekati mereka berdua. Rian dan Romi menatap Arin yang kini sedang berdiri di hadapan mereka dengan mata yang melotot. Arin mengepalkan kedua tangannya sangat erat. Lalu tanpa di duga ia menjitak kepala Rian dan Romi dengan kencang, mereka mengaduh kesakitan. Pegangan mereka pada ponselnya sedikit longgar, Arin mengambil kesempatan ini dengan merampas kedua ponsel mereka dan berjalan kembali ke tempat duduknya. Romi yang sudah siap berdiri menghampiri Arin untuk mengambil kembali ponselnya di tahan oleh Rian. Romi menengok dengan kesal pada Rian. "Dia sabuk hitam dan juga bisa membantingmu hanya dalam beberapa detik." bisik Rian sambil mengusap kepalanya yang masih sakit bekas jitakan Arin. "bisa kau bayangkan, kalau kita menghampirinya sekarang dia bisa membuat kita tidak sekolah selama beberapa hari." Rian bergidik ngeri membayangkan itu semua. Romi pun yang baru mengetahui fakta itu langsung duduk kembali dan menutup bibirnya rapat-rapat. Ia masih ingat dengan jelas saat olahraga antar kelas beberapa waktu yang lalu. Kelas Hana mendapat banyak juara dalam lomba itu dan hampir semua karena Arin. Arin gadis yang manis, namun nafsu makannya sangat terlihat tidak masuk akal. Terlebih dengan kegemarannya yaitu olahraga membuatnya semakin terkenal di antara para guru. Ia pun termasuk murid yang pintar karena sejak SMP selalu masuk dalam tiga besar atau lima besar dalam rangking pelajaran. Arin menguasai beberapa jenis olahraga dalam bela diri, dari mulai taekwondo, karate dan judo. Makanya tak heran apabila Rian melarang Romi untuk nekat mendekati Arin sekarang, karena Rian pernah sekali berkunjung pada teman SMP-nya yang sedang berlatih bela diri. Kebetulan Arin pun ternyata salah satu anggota disana, Rian yang baru pertama kali datang ke tempat seperti itu langsung di suguhkan pemandangan saat Arin membanting seorang pria yang badannya dua kali lipat besarnya dari Arin dengan mudah. Arin dengan santainya langsung beralih pada pria selanjutnya dan melakukan hal yang sama seperti pada pria yang pertama. Rian hanya menganga tak percaya melihat hal tersebut. "Kalau kalian berdua diam, kami jadi konsen belajarnya." kata Arin puas. Sera hanya menahan tawanya melihat kedua orang pengganggu yang sejak tadi berisik kini diam membisu. "Rasain." Sera menjulurkan lidahnya pada Rian dan Romi lalu terkikik geli. Sedangkan Hana hanya menggelengkan kepalanya. Satu jam belajar sudah membuat Derris sedikit mendapat secercah harapan. Ia mulai paham dengan cara belajar dan penjelasan Arin yang cukup mudah untuk di pahami. Mereka pun istirahat sebentar untuk mengisi tenaga yang banyak terkuras. "Lapar banget." keluh Arin sambil mengusap-usap perutnya. "Ngga ada makanan gitu disini?" tanya Arin pada Derris. "Kita pesen makan aja." kata Derris lalu meraih ponselnya siap untuk memesan makanan. "Ngga usah beli, aku buatkan saja makanan." Hana lalu bangkit, berjalan ke arah dapur mini Derris. "Biar aku bantu." tawar Sera, namun Hana langsung menolaknya dan membiarkan Sera untuk istirahat saja dan menemani Arin yang kini sedang menyalakan televisi. Derris dan Rian saling pandang. Rian mengisyaratkan dengan matanya agar Derris segera mencegah Hana agar tidak memasak. Pengalaman pertama melihat hasil masakan Hana sudah cukup membuat mereka kapok tidak ingin merasakan untuk kedua kalinya. "Wah ide yang bagus." ucap Arin dan Romi bersamaan, Rian langsung memukul tangan Romi agar ia diam dan Hana membatalkan acara memasaknya. Romi yang tidak tahu apa-apa bertanya dengan kebingungan pada Rian. "Ada apa?" "Ssstt diem aja pokoknya." bisik Rian pada Romi. Hana mulai mencari-cari bahan makanan yang ada di lemari Derris. Derris yang panik lalu bangkit dan mengekor pada Hana. "Tidak ada apa-apa Hana. Ibuku belum mengirim bahan makanan dan aku juga belum sempat membeli bahan makanan." bohong Derris pada Hana. Hana tidak memperdulikan ucapan Derris, ia malah sibuk terus mencari bahan makanan. Dan yang terakhir Hana mulai melihat isi lemari es kecil Derris yang berada di dekat pintu toilet. Romi yang sudah berada di depan lemari es pun kini melihat-lihat isi di dalamnya. Ternyata lemari es itu penuh dan lengkap. "Ada ayam. Aku ingin makan ayam." seru Romi sambil mengeluarkan ayam yang sudah bisa langsung di goreng. Hana melirik tajam pada Derris. "Ternyata ibuku sudah mengirim bahan makanan." Derris tertawa yang di paksakan. "Oke, aku akan buat sausnya. Dan ini ada nasi, sekalian aku buatkan nasi goreng saja." jawab Hana lalu menerima ayam yang di berikan oleh Romi. Derris lalu membantu Hana menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sausnya. Hana kini sudah mulai memotong-motong bawang bombay. Derris kaget melihat cara Hana memegang pisau. Kedua tangan Hana memegang pegangan pisau dengan erat, saat Hana akan memotong bawang ia langsung mencincang bawang tersebut dengan asal. Rian yang melihat kejadian tersebut bergidik ngeri. Rian lalu berdeham kencang mengisyaratkan pada Derris agar membantu Hana. Selain membuat makanan tidak enak, sudah dapat di pastikan bisa membuat Hana terluka juga. Derris yang mengerti langsung mendekati Hana. Karena sejak tadi ia hanya memperhatikan Hana di dekat kompor yang jaraknya beberapa langkah dari tempat Hana. "Sayang, biar aku bantu memasaknya, ya?" bujuk Derris. "Tidak usah." sahut Hana. Derris langsung melirik pada Rian. Rian lalu mengibaskan tangannya menyuruh Derris untuk mencoba membujuk kembali Hana. Derris memutar bola matanya. "Ayolah sayang. Biar kamu tidak terlalu cape, sini aku bantu." kata Derris lalu mencoba meraih pisau yang sedang di pegang Hana. Hana menengok seketika pada Derris, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Udah sana jangan ganggu aku memasak." bentak Hana lalu mencubit pelan tangan Derris yang sedang berusaha memegang pisau lalu melanjutkan kembali memotong bawang putih. Wajah Derris bersemu merah lalu menyunggingkan senyuman yang lebar. Wajah Hana yang cukup dekat dengannya membuat jantung Derris berdetak lebih cepat. Hana sangat cantik bahkan dengan keringat yang kini membasahi dahinya malah membuat dia semakin cantik dan seksi. Beberapa saat Derris terlupa dengan tujuan awalnya karena terpesona dengan wajah Hana. Kemudian ia tersadar saat Rian menghampirinya. "Gimana?" bisik Rian pelan agar tidak terdengar oleh Hana. Derris hanya mengangkat bahunya, ia sudah menyerah. Karena percuma saja melarang Hana, Derris pasti akan kalah dan lebih memilih untuk mengalah saja. "Pasrah saja. Lagian ini hanya membuat saus dan nasi goreng. Anak SD saja dapat membuat makanan mudah seperti ini." sahut Derris, meskipun ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Rian hanya berdecak kesal lalu mereka memilih kembali duduk. Derris membantu Hana menata makanan, semua buku yang tadi berserakan kini sudah di bereskan dan di simpan di tempat tidur Derris. Ada nasi goreng yang kelihatannya cukup menarik dari warnanya. Ada ayam goreng juga dengan saus asam manis. Tapi tunggu, saus asam manis yang biasanya berwarna merah kini berubah menjadi berwarna hitam. Derris mengernyit melihat saus yang kini telah berubah hampir menyerupai warna kecap. "Apa ini sambal kecap Hana?" tanya Arin polos sambil mengaduk saus buatan Hana yang sangat kental. "Bukan. itu saus asam manis. Tadi aku mencari gula tapi tidak ada. Jadi aku menggantinya dengan kecap sedikit." jawab Hana tak kalah polos. Derris melongo mendengar jawaban Hana. Sera, Rian dan Romi hanya menahan tawa. Sedangkan Arin hanya mengangguk-angguk. "Cukup jenius." kata Arin, Sera lalu menengok pada Arin dengan ngeri. "sama-sama manis bukan? gula dan kecap." Sera hanya mengusap mukanya dengan kesal. Mereka mulai mengambil nasi goreng dan juga ayam goreng. Namun semua ragu untuk mengambil saus buatan Hana. Akhirnya Romi memberanikan mengambil satu sendok saus buatan Hana dan di tuang di pinggir piring dekat nasi gorengnya. Romi lalu mengambil ayam goreng dan menyocol dengan saus asam manis itu. "Gimana rasanya?" tanya Hana penuh harap pada Romi. Romi seperti kritikus makanan, ia mengunyah perlahan ayam itu sambil merasakan setiap rasa yang di rasakan oleh lidahnya. Kemudian ia menyendok nasi goreng buatan Hana lalu mengunyahnya perlahan. "Sangat enak." kata Romi dengan wajah berseri-seri. Hana tersenyum kecil. "Aku paling jago membuat nasi goreng." Derris, Rian, Arin dan Sera saling pandang tidak percaya. Akhirnya mereka semua penasaran lalu memakan ayam dan juga nasi goreng Hana namun melewatkan saus asam manisnya. Setelah semua memasukan makanannya ke dalam mulut mereka masing-masing, semua terdiam lalu saling pandang satu sama lain. "Sial." umpat Rian pelan pada Romi dan ia hanya membalas dengan senyuman lebar. Rasa asin dan juga bawang mentah dari nasi gorengnya membuat mereka ingin memuntahkannya kembali. Namun karena tidak ingin menyinggung perasaan Hana, akhirnya mereka menelan nasi goreng itu dengan susah payah. Dan hanya menghabiskan ayam yang rasanya mendekati makanan manusia. "Kamu juga makan sayang." tawar Derris pada Hana. "Aku tidak lapar. Kalian habiskan saja semuanya." jawab Hana langsung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD