Hanz dan Adrian....
Irene dan Hanz mengejar Adrian ke taman, meninggalkan anak dan cucunya.
"Apa kamu sedang sakit Adrian?" sarkas Hanz yang belum puas ingin memaki Adrian.
"Pi, setidaknya aku meminta dihadapan istriku, dan Jasmine sudah mengizinkan ku." jawab Adrian tegas.
Irene menenangkan Hanz, yang masih emosi mendengar hal gila yang tidak pernah dilakukan keluarganya.
"Kau sama persis dengan Mark, darah Mark ada didarah mu, mencintai sahabat sendiri, tanpa memperdulikan istrinya." sarkas Hanz lagi.
Adrian menggeram, berdiri menatap tajam kedua mata Hanz.
"Mark dan aku sangat berbeda, aku ingin menikahi putrimu, bukan berselingkuh dengannya, apa papi bisa membedakan pernikahan dengan perselingkuhan!!!" tegas Adrian.
Hanz terdiam, bibirnya tak bisa berucap, menghela nafas dalam.
"Ck."
Hanz duduk di kursi taman, mengusap kasar wajahnya, menggeram kesal.
Irene mengusap pelan punggung Hanz.
"Sayang, tenanglah. Fene juga masih belum siap."
Irene sangat memahami Hanz, tapi dia juga mengagumi Adrian.
"Apa kamu merestui mereka jika Fene siap sayang?" tanya Hanz.
"Hmmmm.... kebahagiaan Fene, adalah kebahagiaan kita, pasti yang terbaik untuk Brian dan Fene." senyum Irene pada Hanz.
Hanz menghembuskan nafasnya kasar berkali-kali, memandang Adrian disampingnya.
"Sejak kapan kau mencintai Fene?"
tanya Hanz.
"Sejak kami menghabiskan waktu bersama!!" jujur Adrian.
"Kenapa kau tidak menikahinya?" tanya Hanz geram.
"Bram sangat mencintainya!!"
Adrian menatap Hanz.
"Apa papi pernah mencintai seseorang wanita, tapi rela mengorbankannya demi sahabat papi sendiri? setidaknya aku tidak pernah menggoda Fene,
selama dia bersama Bram,
saat ini, aku ingin mempertahankan perusahaan dan putra Bram, pi.
Apakah papi ada disaat Bram menghembuskan nafas terakhirnya? dia memintaku untuk menjaga Fene dan Brian.
Jasmine dan mami Marisa menyaksikan semua.
Sakit pi. Bram menukarkan nyawanya untuk ku,
seharusnya aku yang di tembak Mark masa itu." kenang Adrian.
Adrian terisak menangis, hingga bahunya bergetar.
"Saat aku melihat Brian, teringat jelas wajah Bram.
Dia pria baik, sangat sayang pada Fene dan aku." tangis Adrian.
Irene mengusap lembut punggung Adrian.
"Aku meminta Fene pada papi dan mami secara baik, atas izin Jasmine, bukan karena nafsu ku, tapi tanggung jawab ku pi.
Aku nggak kuat melihat Fene beberapa tahun ini seperti ini." isaknya.
"Ada aku, papinya Adrian." tegas Hanz.
"Beda pi, sangat berbeda, setidaknya Fene butuh aku saat ini, butuh orang yang mencintainya, mencintai Brian.
Aku memiliki keduanya papi." tangis Adrian makin pecah.
"Apa kau akan mencampakkan Jasmine?"
Hanz menatap Adrian dengan tajam.
"Aku tidak pernah ingin mencampakkan siapapun pi, Jasmine rela, rela aku menikahi Fene."
Adrian berkali-kali menyeka wajahnya, dari deraian air matanya.
"Kamu egois Adrian." sarkas Hanz.
"Aku menikahinya pi, kami akan menjaga Brian bersama. Izinkan aku menebus semua kesalahan ku pada Fene.
Aku yang salah, aku yang tidak peka, aku yang sudah merusak semua, tapi disaat itu aku merasakan Fene mencintai ku pi, tapi karena Bram, aku mengalah.
Jika waktu bisa berputar, aku yang menggantikan Bram, karena jujur aku tidak bisa menghadapi semua ini." tunduk Adrian.
Adrian terus menangis, melepaskan semua isi hatinya.
"Begitu kejamnya takdir yang diberikan pada ku, hingga kalian tidak merasakan ketulusan ku." tangisnya.
"Dri, mami sangat memahami kamu, mami percaya kamu mampu membahagiakan Jasmine dan Fene."
Hanz menelan salivanya, menatap Irene sinis.
"Sayang, setidaknya Adrian telah jujur pada kita, pada semua."
"Hmmmm.."
Brian berlari kecil kearah Adrian,
"Uncle..... uncle..."
Adrian menyeka cepat wajahnya, menyambut putra kecilnya Brian.
"Ya."
Adrian berusaha tersenyum.
"Aunty and mami, will go together with me, uncle want to come?" tanya Brian saat ini berada dipangkuan Adrian.
"No need, we're just here with grandpa and grandma." senyum Adrian.
"Oooh... Oke, i will tell mami."
Brian berlari menuju Fene dan Jasmine.
Hanz melihat kedekatan Adrian dan Brian yang sangat tulus.
"Hmmm... aku mengikuti saja apa keputusan Fene." senyum Hanz, walau hati masih terasa berat,
tapi jika untuk kebaikan mereka, Hanz mencoba satu suara dengan Irene.
"Terimakasih, aku mencintaimu."
Irene mengucapkannya tanpa bersuara.
Hanz dapat merasakan kelegaan istrinya.
Hanz dan Irene berlalu menuju ruang keluarga mereka.
Bermain bersama Brian, cucu satu-satunya yang selalu menemani hari mereka.
Kevin dan Petter menghampiri Adrian, karena Nichole dan Holi bermain bersama Brian,
"Hmmmm... apa lo sudah memikirkan semuanya bro?" tanya Kevin.
Adrian mengangguk.
"Bahagiakan Fene, gue yakin lo mampu. Ingat, gue orang pertama yang akan memenggal lo, jika lo menyakiti Jasmine atau Fene." ancaman Kevin agak sedikit tegas ditelinga Adrian.
"Apa kalian akan tinggal bersama?" tanya Petter penasaran.
Adrian hanya tersenyum tipis.
"Gue belum tau, yang terbaik aja kalian do'akan buat gue." jawab Adrian.
"Hmmm... spechles gue, tapi setidaknya lebih baik.
Prusahaan akan aman, dan gue ngacungin jempol empat buat hati Jasmine." kagum Kevin.
"Gue mau nikah juga aaagh... izin sama Nichole." kekehnya.
"Bangke, bangke... lo kira Jasmine ngizinin kalau bukan Fene??? haaaah...!!!" tegas Adrian.
"Ooooh... berarti hanya Fene, tidak untuk Veni, Sheren, siapa lagi Dri? lupa gue mantan lo." tawa Kevin menghibur Adrian.
"Ck... hanya Fene yang dizinin, tidak untuk wanita lain." tegas Adrian.
"Hmmm... Jasmine pilih kasih." canda Kevin lagi.
Petter hanya terkekeh mendengar gerutu Kevin.
Menatap haru pada keberanian Adrian.
'Great.***