Part 19. Story 4

817 Words
New office... "Pagi ini gue akan menghabiskan waktu diruangan Fene, kantor gue di jual Fene, dasar bocah tengil, dia pikir gue sahabat jahat gitu." bisik Adrian menggeram, melajukan mobil. "Nggak banyak perubahan, nama berganti menandakan perusahaan ini milik Fene." Adrian tersenyum melihat karyawan lumayan lama tidak dia temuin. "Morning pak Adri." senyum Jasmine. "Jamine, kamu di tarik mba Fene ke gedung sini?" kejut Adrian melihat Jasmine posisi Manager Keuangan. "Semua pak, Pak Adrian kan Direktur di sini." jelas Jasmine. "Jadi ruangan saya yang mana?" tanya Adrian. "Itu pak, sebelah ruangan mba Fene, kan ada nama bapak." tunjuk Jasmine mengarah kesalah satu ruangan tertulis nama ADRIAN. "Ooooh, kamu tetap melayani saya, saya nggak mau ganti secretaris." tegasnya pada Jasmine. "Tapi pak." ragu Jasmine. "Nanti saya bicara kebagian HRD, kamu balik isi meja secretaris yang kosong." Adrian menunjuk meja kosong dipintu ruangan. "Hmm, gaji saya gimana pak?" tanya Jasmine ragu. "Saya yang atur." Adrian membisikkan ketelinga Jasmine, dia merinding takut melihat bosnya agak aneh semenjak pulang tour, berlalu menuju pantry. "Iiiiigh, kesel." sesal Jasmine menyeduh kopi agar menyejukkan otaknya. "Kenapa?" telinga Jasmine merasa mendengar suara Adrian. "Bapak, sejaaaaaak." Jasmine berfikir. "Buatkan saya kopi kayak biasa, antar keruangan saya." Adrian meninggalkan Jasmine tampak kebingungan. Adrian meeting virtual bersama Fene, membahas pekerjaan, Adrian bernafas lega. Fene tidak mencampakkannya. Adrian diberi kepercayaan mengelola bisnis mereka. "Pak, ada tamu." Jasmine menghubungi Adrian melalui intercom. "Siapa?" tanya Adrian. "Mister Mark dan ibu Adriana, sudah beberapa kali menyambangi kantor, mereka ingin menemui bapak atau ibu Fene." bisik Jasmine. "Aaaaagh bilang saya tidak ditempat, lebih baik tunggu Fene pulang saja, saya tidak mau menemui mereka." jelas Adrian kesal. "Baik pak." "Setelah menolak mereka, kamu masuk keruangan saya." Pinta Adrian. "Baik pak." Jasmine melakukan semua perintah Adrian, agar Mark dan Adriana segera meninggalkan gedung, meminta bantuan pada security. kemudian, menuju ruangan Adrian, tok tok tok.... Jasmine membuka pintu setelah Adrian mempersilahkannya. "Ya pak." Jasmine gugup berdiri dihadapan Adrian. "Hmm.." Mata Adrian liar, kegalauan hati berubah ketika melihat Jasmine, indo banget, sintal, sopan, pintar lagi. Adrian berpikir sedikit nakal mengerjai gadis ini. "Pak Adrian." Jasmine masih menatap Adrian. "Ooooh ya ya ya, sory hmmmm, saya sudah bicara pada Fene dan Hrd, mereka setuju." jelas Adrian berdiri menghampiri Jasmine. "Santai saja, gaji kamu tidak dikurangi, ataupun sama, gaji kamu saya naikkan." Adrian memegang bahu Jasmine, menatap mata indah Jasmine, tampak bahagia diraut wajahnya mendengar kenaikkan gaji. "Serius pak?" Jasmine memeluk Adrian erat. "Hmmm, maaf pak, saya senang, jadi nggak sengaja." kekehnya. "Oooogh, ya, ya nggak apa, saya senang jika kamu senang." Adrian menarik nafas mengusap dadanya. "Sini duduk disofa, ada yang mau saya tanyakan." ajak Adrian. "Ya pak." Jasmine duduk disebelah Adrian. "Maaf jika saya bertanya agak pribadi." Adrian menghela nafas. "Ya pak, emang mau nanya apa?" Jasmine menatap Adrian. "Kamu kan wanita indo, apakah kalian menyukai pria bule seperti saya?" tanya Adrian menelan salivanya. "Hmm, maksud bapak?" Jasmine bingung, 'salah makan apa pak bos.' batinnya. "Hm, yaaah, apakah ada peluang saya memiliki kekasih, gadis indo. Saya tanya kamu, kamu pernah berfikir nggak menyukai bule seperti saya?" tanyanya. "Hmmm, saya nggak tau pak, karena saya nggak pernah pacaran, bule juga nggak ada yang suka sama saya." jawabnya jujur. "Oooogh..." bibir Adrian sedikit maju memperhatikan Jasmine. 'not bad' "Gini yah, saya nggak biasa basa basi, kalau saya jadi pacar kamu gimana?" Adrian mengangkat satu alis tersenyum. Jasmine tersentak kaget, gimana nggak kaget. Adrian selama ini normal, baik, tiba-tiba hari ini datang meminta dia menjadi pacar. "Pacaran yah pak." Jasmine menggaruk kepala tidak terasa gatal. "Bapak baik-baik ajakan?" tanya Jasmine. "Of course, saya sehat." Adrian membuka tangannya menepuk d**a. "Tapi kenapa hari ini permintaan bapak aneh?" Jasmine bingung. "Jujur saya kecewa sama bule, nggak ada salahnya saya berteman dekat, memulai pertemanan dengan wanita indo, seperti sama kamu, saya lelah mau mengenal lagi dari awal." Adrian tertunduk. "Ooogh, bapak putus dari bu Veni?" Penasaran Jasmine terjawab sudah. "Ya, dia selingkuh." sedihnya. "Hihihi, bapak kaya, ganteng masih diselingkuhin." kekeh Jasmine. "Kamu ngetawain saya?" Mata Adrian membesar. "Ng, nggak pak, saya turut prihatin, saya nggak tau mesti gimana, menghibur bapak." jelas Jasmine. "Yaa, kamu mau menemani saya, jadi asisten pribadi. Tenang, saya nggak akan jahat sama kamu." Adrian menunjukkan keseriusan mengacungkan dua jarinya. "Saya nggak kaya pak, nggak kayak bu Fene atau bu Veni, saya orang biasa, orang tua saya sudah nggak ada. Saya disini sendiri. Masih banyak wanita indo mau sama bapak." Jasmine menolak menundukkan kepala. "Hm, saya kan nggak bertanya kamu kaya atau tidak, saya bertanya kamu mau nggak jadi pacar saya?" Adrian menatap mata Jasmine. "Hmm, saya nggak mau pacaran pak, saya mau menikah dengan pria seiman." tunduknya. "Oooogh, berarti kamu menolak saya?" Adrian menatap Jasmine mencari jawaban. "Hmm, nggak pak, saya bingung." senyumnya. "Ya sudah, kita jalani dulu, nanti kamu pulang bareng saya, kita dinner." tegas Adrian. "Baik pak." Jasmine meninggalkan ruangan Adrian, geram dalam hati, kesal pada bosnya. 'Putus, kok malah aku jadi tumbal, dasar bule gendeng." geramnya. "Uuuuuugh."***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD