10. Kata Orang Cinta

1217 Words
Jam pelajaran baru saja selesai dibarengi bel istirahat yang berbunyi seantero sekolah. Aku menyusun buku beserta alat tulis, memasukkan ke kolong meja, dan bergegas pergi. Kalian tahu aku akan kemana? Ya, kemana lagi kalau bukan ke perpustakaan, karena sampai hari ini hanya tempat itulah yang ada di sekolah ini yang membuatku aman dan tenang ketika berada di sana. Tapi, tunggu, mungkin nanti akan ada satu tempat lagi yang membuatku merasakan hal yang sama. Rumah pohon. Ya, rumah pohon yang ditunjukan Gar padaku. Baru saja aku melangkahkan kaki menjauh dari tempatku, seseorang yang muncul dari ambang pintu membuatku sontak berhenti. Gar. Ya, dia berjalan ke arahku dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya. "Hai, Rhe. Mau kemana?" Aku tersenyum ke arahnya. "Perpustakaan." "Kan tadi pagi saya sudah bilang, jangan kemana-mana sebelum saya datang." "Maaf, Gar aku lupa." "Ya, saya maafkan kalau saya ajak ke tempat lain, mau?" "Ke mana?" "Rumah pohon." dia berbisik di telingaku dan berhasil membuatku terdiam kaku. Aku melirik keadaan kelas saat ini, dan untungnya kelas sudah sepi hanya ada dua orang teman lelakiku yang sedang memainkan ponselnya di bangku paling belakang dan sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran kami. "Gimana, mau?" Mataku kembali ke arah Gar, lalu mengangguk sebagai jawaban. Gar tersenyum dan setelahnya menggenggam tanganku. Kami bergegas pergi, mataku tak teralihkan dari kedua tangan kami yang saling bertautan. Lagi-lagi aku merasakan sesuatu yang baru. Berbeda. Tapi indah. Ketika berjalan menuju rooftop, kami disambut dengan semilir angin yang berhasil menerbangkan rambutku tak tentu arah, dan kicauan burung yang berada tepat di atas kepala kami. Aku berhenti sejenak. Melihat langit yang sudah dihiasi burung-burung kecil. "Rhe, lihat sepasang burung yang ada di pohon ketapang itu." Gar menunjuk ke arah pohon ketapang yang ada di depan kami. "Iya, lihat. Kenapa?" "Tau itu burung apa?" "Enggak." "Itu burung merpati, masa kamu gak tahu." "Ya, emang gak tahu. Baru liat soalnya." Gar menampilkan senyumnya. "Tahu, gak merpati itu punya simbiolis, loh." "Simbiolis apaan?" "Merpati itu salah satu burung yang sangat setia sama pasangannya. Sama kaya manusia, kalau sudah mencintai seseorang pasti akan selalu sama-sama. Kaya gitulah burung merpati." "Tapi, gak semua manusia kaya gitu kan?" "Memang gak semua manusia kaya gitu, tapi kan setidaknya ada, dan setidaknya juga kita gak terkalahkan dengan hewan yang otaknya tidak sesempurna kita." "Iya, sih. Tapi, kalau sudah tahu begitu kenapa manusia gak seperti burung merpati, padahalkan manusia lebih berakal daripada burung. Tapi kenyataanya cuma sebagian manusia yang memiliki kesetiaan kaya merpati, kan?" "Namanya juga manusia. Manusia itu haus akan kenikmatan, Rhe. Gak puas dengan apa yang udah ada di dalam diri. Gak sadar juga kalau apa yang udah dimiliki itu lebih dari cukup dibandingkan apapun, tapi mereka seolah buta. Gak menyadarinya, bahkan ada yang menyadari tapi masih bersikap bodo amat dan memilih untuk mencari yang lain, tapi giliran yang diinginkan itu gak dapat barulah mereka sadar dengan apa yang udah dimiliki sebelumnya, mencoba kembali tapi yang dituju udah pergi. Jauh. Bahkan udah bahagia." "Jadi kesimpulannya?" "Kesimpulannya, ya, kita harus bersyukur atas apa yang udah kita miliki saat ini. Yang lebih dari punya kita memang ada, tapi belum tentu yang lebih itu membuat kita bahagia, kan?" Aku mengangguk mantap. Ya, penjelasan Gar sudah jauh lebih cukup untuk menyadarkanku bahwa hidupku saat ini bukanlah suatu hal yang buruk, yang terpenting saat ini aku harus bersyukur. Karena jauh dari tempataku saat ini, pasti masih ada orang yang lebih kesulitan dibandingkan denganku. "Masih mau di sini atau ke rumah pohon?" tanya Gar yang berhasil mengagetkanku. "Emm, kalau ke rumah pohon takutnya gak keburu, Gar. 20 menit lagi bel masuk udah bunyi." Gar melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Yasudah, kalau gitu di sini aja." Aku mengangguk sebagai jawaban. Dan kami berjalan menuju bangku yang berada di sudut tempat ini. Kulihat Gar membuka kantung kresek yang sedari tadi di bawanya, mengeluarkan dua roti dan dua botol minuman. "Tadinya saya ngajak kamu ke rumah pohon mau makan bareng. Tapi karena gak keburu jadi di sini juga gak papa." dia menyodorkan satu rotinya ke arahku dengan bungkus yang sudah dibukanya terlebih dahulu. "Terima kasih, Gar." "Kembali kasih." kami memakan roti bersamaan. Setiap kali aku mau berbicara, Gar mengingatkan kalau makan tidak boleh sambil bicara. Dan aku hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan makan. "Ini minumnya, Rhe." Gar menyodorkan sebotol air mineral yang tutupnya juga sudah dibuka terlebih dahulu. "Terima-" "Terima kasihnya udah satu paket sama yang tadi," potongnya, dan aku terkekeh pelan. "Kata terima kasih itu bukan cuma untuk roti dan minum ini, Gar. Tapi untuk semuanya." "Semuanya? Saya belum ada ngasih kamu apa-apa loh, Rhe." "Dengan kehadiran kamu di hidup aku itu sudah lebih dari cukup dan gak membuat aku berhenti mengucapkan terima kasih ke kamu." "Terima kasihnya disimpan dulu, ya, Rhe. Sampai saya benar-benar bisa buat kamu bahagia, bukan hanya batiniah tetapi lahiriah juga." aku tertawa mendengar ucapan Gar. Entah itu hanya leluconya ataupun sungguhan dari hati yang jelas aku bahagia mendengar ucapannya. "Rhe, nanti pulang bareng saya, ya. Jadi jangan pulang duluan." "Tapi-" "Saya gak terima penolakan loh, Rhe. Bukannya apa-apa, tadi kan kamu perginya bareng saya dan nanti pulangnya kamu juga harus sama saya, karena Ayah kamu udah titipin kamu ke saya." "Pintar banget ngelesnya, Gar." Gar tertawa sambil mengedipkan matanya ke arahku, dan aku juga ikut tertawa karena ulahnya. Di sini, di tempat ini, semesta menjadi saksi bahwa aku pernah merasa sangat bahagia hanya karena seorang pria bernama Gar. Bahagia yang sangat sederhana. Bersama Gar seolah aku tak mempunyai masalah, bersama Gar aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia, dan bersama Gar jugalah untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang berbeda. Kalau kata orang-orang namanya cinta, mungkin. Mungkin ini terlalu cepat untuk dikatakan perasaan cinta terlebih kami baru mengenal beberapa hari saja, tetapi bagiku mau perasaan cinta atau bukan perasaan itulah yang berhasil membuat ku bahagia saat ini, dan aku percaya cepat atau lambat aku juga akan jatuh cinta pada lelaki misterius ini. "Rhe..." Tiba-tiba aku tersentak kaget, "eh, iya, Gar?" "Kok malah melamun, sih." "Nggak, kok, hehe." "Mau mengobrol denganku nggak?" Tanyanya. Keningku berkerut mendengar pertanyaannya. "Maksudnya? Ini kan kita lagi ngobrol Gar." "Ngobrolnya yang berbeda, Rhe. Pakai batin," ucapnya sambil tersenyum. Kini aku mengerti maksudnya, sama seperti Gar aku pun juga ikut tersenyum. Sepertinya ini seru." *"Gar... "* Ucapku dalam hati. "Iya, Rhe," jawab Gar langsung. *"Kok, aku jadi mau ketawa,"* lanjut ku masih berbicara dalam hati. "Ketawa kenapa, Rhe?" *"Nggak tahu, tapi ini lucu dan aku jadi mau ketawa."* "Yasudah, Rhe, ketawa saja nggak ada yang melarang juga kan." Aku tersenyum mendengarnya, ah ini sangat menyenangkan dan Gar benar-benar bisa membuatku bahagia. *"Terima kasih, ya, Gar."* "Kamu dari tadi bilang makasih terus, Rhe." *"Itu karena aku senang Gar, dan aku nggak tahu gimana cara membalasnya jadi untuk saat ini aku cuma bisa bilang makasih ke kamu."* "Nggak usah bilang makasih terus, Rhe, karena saya senang bisa membuat kamu senang." Aku tersenyum mendengar ucapannya. Terbilang sederhana namun berhasil membuatku bahagia. "Gar udah, ya," ucapku. Sepertinya tidak adil disaat Gar berbicara panjang lebar aku hanya membalasnya dari dalam hati. "Apanya Rhe?" "Ngobrol dari dalam hati gini." "Kenapa, Rhe? Kamu nggak suka, ya?" "Bukan gitu, Gar, aku suka kok, suka banget malah. Tapi kayaknya nggak adil kamu sudah capek-capek berbicara sedangkan aku hanya menjawab dari dalam hati." "Oh begitu, yasudah kita berbicara seperti biasa aja, ya." Aku mengangguk dan tersenyum. Kami mengobrol panjang, pembahasannya juga random, bahkan sesekali Gar juga membuat lawakan lucu yang berhasil membuatku tertawa. Hingga tanpa kami sadari sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan itu memaksa kami untuk kembali ke kelas. Gar menggenggam tanganku dan kami pun berjalan beriringan. Gar selalu memperlakukanku secara spesial, ah dia selalu berhasil membuatku ingin terbang. *Semesta, terima kasih telah mempertemukan ku dengan Gar, ku mohon jaga dia di mana pun dia berada karena dia adalah sosok terindah yang dikirim tuhan untukku* ::::::::::::: [][][][][]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD