Lyssa sudah menarik tangannya, namun ditahan oleh Rainier. “Yakin? Hari ini capek kan?” “Capek juga biar. Besok pasti lebih capek lagi. Sayang biasanya minta jatah dua-tiga hari sekali. Ini kemarin habis keluar kota emang nggak pengen?” “Ya pengen, tapi kalau Sayang capek ya nggak usah.” “Ish.. Nggak peka banget sih....! Kan aku juga pengen!” “O-Oh. Okay. Hehehe.” Ceria, Rainier mentas dari bak. Bahagia menggandeng istrinya. Ia tutup kursi toilet, lalu ia semprot sekeliling dengan air panas. “Ehehehe. Di sini nggak papa kan?” tanyanya. “Nggak papa,” jawab Lyssa. Puas sudah melakukan disinfektan abal-abal, Rainier duduk di dudukan toilet, lalu ia pangku istrinya. Lyssa mulai bekerja, menggesek-gesek miliknya yang basah ke milik Rainier. “Huu...” desah Rainier, merasakan miliknya

